
Pagi hari tiba, di mana Jasmine dan Aldalin sudah bersiap-siap berangkat menuju kota B. Namun, mereka tidak memberitahu siapapun tentang keberangkatan pagi ini. Sebab takut banyak yang bertanya-tanya.
Jasmine sudah rapi dengan balutan dress panjang berwarna merah muda, dan juga perut yang menonjol membuatnya terlihat imut.
"Sayang, duduk saja di sana semua ini biarkan aku saja," cegah Aldalin saat Jasmine hendak menghampirinya.
Jasmine tersenyum, dan langsung duduk di sofa sambil menatap wajah tampan Aldalin di matanya.
"Jangan di pandang terus, nanti bisa jatuh cinta lo," sindir Aldalin sambil terus menyusun barang-barang mereka.
Jasmine tersipu malu, kemudian dia membuang pandangannya ke arah jendela kamar, dan perutnya keram saat sang anak menendangnya.
"Anak ibu sangat aktif," ucap Jasmine sambil mengelus-elus perutnya.
Sontak membuat Aldalin langsung menghampiri sang istri dan mengelus-elus perutnya. Pria itu tersenyum saat anaknya menendang tangannya.
"Anak kita sangat aktif," ucap Aldalin dengan sangat bergembira.
Jasmine tersenyum, kemudian dia memejamkan mata saat Aldalin mengecup bibirnya dengan lembut.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu," bisik Aldalin di telinga Jasmine.
Jasmine sangat tersipu malu, sehingga dia hanya diam dan tersenyum manis pada Aldalin.
"Bolehkah aku mencium mu?" tanya Aldalin sambil mengusap-usap bibir ranum Jasmine.
Gadis itu diam dan langsung masuk ke dalam pelukan Aldalin karena merasa sangat malu, ayah yang sudah membesarkannya meminta hak sebagai seorang suami.
'Jantung, jangan berdetak kencang. Bagaimana kalau ayah mendengarnya?' batin Jasmine.
Aldalin tersenyum mendengar detak jantung Jasmine yang terdengar jelas. Pria itu tahu sang istri sudah malai mencintainya walaupun dengan perlahan.
'Jasmine, hatiku sangat bahagia karena kau bisa mencintai ku walaupun dengan perlahan-lahan,' batin Aldalin.
Jhoni berada di rumah sakit karena sang istri mengalami koma setelah peristiwa semalam, di mana sang anak tengah memasak di dapur.
Hati Jhoni dan Nana sangat sakit melihat wanita yang mereka cintai tengah berbaring lema, di ruang ICU dengan banyaknya selang yang terpasang di seluruh tubuh wanita paru paya itu.
"Nana, kamu pulang saja biarkan ayah di sini menunggu ibumu," ucap Jhoni dengan sangat lembut.
__ADS_1
Nana langsung memeluk sang ayah, kemudian menangis tersedu-sedu karena sejak tadi tangisan itu sudah di tahannya.
"Ayah, bagaimana jika ibu tidak selamat?" tanya Naja dengan sangat cemas melihat sang ibu tak kunjung sadar.
Jhoni mengelus-elus rambut gadis kecilnya yang sekarang sudah dewasa, dan mencium puncak kepala Nana.
"Jangan bicara seperti itu, karena ibumu kuat dia akan kembali pada kita lagi," ucap Jhoni dengan sangat lembut.
Nana diam dan langsung melepaskan pelukannya, kemudian menatap wajah sang ayah dengan lekat.
"Benarkah itu semua Ayah?" tanya Nana dengan sangat tidak percaya kalau sang ibu akan kembali pada mereka.
Jhoni menganggukkan kepala dan tersenyum, kemudian kembali memeluk sang anak agar Nana tenang. Walaupun dia sendiri tidak bisa menenangkan diri melihat sang istri terbaring lemah di sana.
'Aku berharap Nandini bisa selamat dan bersama dengan kami lagi, walaupun aku sendiri tidak yakin akan hal itu,' batin Jhoni.
Pria itu mencoba untuk menenangkan dirinya, karena semua ini sangat berat baginya melihat wanita yang sangat di cintainya koma.
"Kita berdoa agar ibu lekas sembuh dan kembali lagi bersama kita," ucap Jhoni dengan sangat lembut.
__ADS_1
...Bersambung....