
Jhoni duduk di samping sang tuan setelah memberikan sebuah sapu tangan. Mereka bersua sama-sama diam dalam pikiran masing-masing.
"Apa ada maslah Tuan?" tanya Jhoni.
Pria itu tahu betul kalau sang tuan memiliki masalah, karena Aldalin terlihat jelas sedang memikul beban besar. Namun, Jhoni tidak tahu apa itu.
Aldalin menatap wajah Jhoni dengan lirih kemudian berkata, "Ya, aku memiliki masalah besar."
Jhoni langsung memegang pundak sang tuan dan menganggukkan kepala agar Aldalin menceritakan semua.
"Sebenarnya ... " Aldalin menceritakan semua yang terjadi padanya, dari Jasmine hamil anak cacat dan Samudra bukan anak kandungnya.
Jhoni merasa kasihan pada sang tuan yang mendapatkan cobaan bertubi-tubi, sehingga dia langsung memeluk majikan yang sudah seperti saudara itu.
"Tuan, setiap ada hujan dan badai. Semuanya akan berlalu juga semua itu hanya sementara seperti masalah tuan," ucap Jhoni dengan sangat lembut.
Aldalin tersenyum karena asisten pribadinya bisa membuat dia kembali bersemangat. Pria itu selalu di berikan kata-kata yang bisa membuatnya bersemangat oleh sang asisten.
"Jhon, aku sangat bahagia bisa mengenalmu dan bersama seperti ini. Kau adalah emas bagiku yang tidak akan aku sia-siakan," ucap Aldalin dengan sangat bergembira.
Jhoni tersenyum karena dia juga berpikir hal yang sama dengan sang tuan, yang sama-sama merasa sangat beruntung mengenal satu sama lainnya.
__ADS_1
"Ayo, kita masuk ke dalam!" Jhoni bergegas bangun. Namun, tangannya di tarik oleh Aldalin dan dia duduk kembali. "Ada apa?" tanya Jhoni.
"Kumohon jangan sampai Jasmine tahu masalah ini, karena aku takut dia terpukul dan tidak bisa menerima semuanya," ucap Aldalin.
Jhoni tersenyum dan menganggukkan kepala tanda mengerti, dan mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan langsung ke kamar inap Jasmine di ruangan VIP.
Setelah mereka sampai, terlihat Jasmine sudah terlelap dan Nana menyayikan sebuah lagu anak-anak.
"Nana, ayo kita pulang!" Jhoni dan Nana bergegas pergi dari sana meninggalkan Aldalin bersama Jasmine.
Setelah sampai di dalam mobil, Nana menatap wajah sang ayah dan tersenyum. Membuat Jhoni gemas dan langsung mencubit hidung mancung anaknya.
Nana tertawa dan menceritakan apa yang dia rasakan tadi saat bayi Jasmine menendangnya. Sampai gadis itu tertidur pulas setelah bercerita.
Jhoni tersenyum melihat sang anak tertidur, dan dia langsung mengehentikan mobil dan menyelimuti tubuh Nana mengunakan selimut yang ada di mobil. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah.
'Walaupun anak mereka cacat. Tapi, sangat aktif seperti bayi normal pada umumnya,' batin Jhoni.
*
*
__ADS_1
*
...Keesokan harinya ......
Pagi ini Jasmine sudah di perbolehkan pulang, karena gadis itu sudah sembuh dan keadaannya sudah normal seperti sediakala.
Kini Aldalin tengah menunggu obat dari dokter untuk Jasmine dan Samudra, karena sang putra juga pulang hari ini bersama mereka.
"Ayah, sesampainya kita di rumah, Sam ingin memakan roti bakar buatan bik Sinta," ucap Samudra dengan sangat manja, yang berada di dalam pelukan Aldalin.
"Iya, ayah akan meminta bibik membuatnya," jawab Aldalin dengan sangat lembut.
Walaupun dia tahu Samudra bukan anaknya, tetap saja Aldalin sangat menyayangi sang anak dengan sepenuh hati.
Jasmine merasa air liurnya akan tumpah, mendengar roti bakar buatan Bik Sinta yang sangat enak.
"Jasmine juga mau Mas," ucap Jasmine.
Aldalin dan Samudra langsung menatap ke arah Jasmine, karena gadis itu sama sekali tidak menyukai roti bakar sejak kecil.
Bersambung.
__ADS_1