
Heppy Reading ...
Selamat membaca semuanya dan, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya. Love you All.
. . .
Samudra langsung mencari kesempatan mengambil hati Jhoni, walaupun pria itu sudah merestui hubungannya dan, Nana tetap saja ia ingin terlihat sempurna di mata calon mertuanya.
Samudra mendekati Jhoni dan memeluk pria itu dengan lembut, membuat laki-laki berusia 45 tahun tersebut langsung tersenyum.
"Sam, ayolah. Peluk pacar mu, dia yang tengah bersedih saat ini bukanya om, " ucap Jhoni dengan lembut.
Sontak membuat semua yang ada di sana langsung tertawa kecil. Sebab, mengira Samudra sudah salah memeluk orang.
"Om, Sam tidak salah memeluk orang. Sebab, sejak tadi Sam sudah memeluk Nana dan, sekarang giliran Om," sahut Samudra.
Semua yang ada di sana kembali tertawa, karena lucu melihat Samudra yang terlihat malu ditertawakan oleh mereka semua.
"Sudah, tidak usah di jelaskan lagi. Sebab, om hanya bercanda tadi," ucap Jhoni dengan lembut.
__ADS_1
Samudra tersenyum dan, kembali memeluk Jhoni. Walaupun pria itu terlihat baik-baik saja. Namun, semua orang tahu kalau Jhoni masih sangat bersedih atas kepergian Nandini.
"Jhon, mbak tahu kamu masih sangat bersedih atas kepergian adik mbak, tapi ingatlah bahwa dia sudah bahagia di sana," ucap Jima dengan lembut.
"Tentu saja Mbak! Aku, akan selalu bahagia walaupun dia pergi, karena semua demi kebahagiaannya juga," jawab Jhoni dengan lembut.
Jima tersenyum, karena Jhoni bisa tambah menerima semuanya dan, Nana juga sudah mulai menerima kepergian sang ibu dengan perlahan-lahan.
"Jhon, aku sangat kagum padamu. Sebab, kau bisa dengan muda menerima kenyataan ini, kalau aku yang ada di posisi mu, aku tidak akan mampu," sahut Aldalin
Jhoni hanya tersenyum, karena jujur dia tidak bisa melupakan sang istri. Namun, ia harus bisa karena semua demi kebahagiaan Nandini di alam yang indah.
"Aku lebih memilih dia tidak merasakan sakit lagi, daripada aku melihatnya menderita di dunia ini," jawab Jhoni dengan lirih.
'Malam itu indah, saat aku dah, wanita yang sangat aku cintai bisa menyempurnakan rindu kami,' batin Jhoni.
Nana masih di dalam pelukan sang ayah, karena dia sedih saat mengingat kepergian sang ibu tadi pagi. Padahal, semalam mereka masih bersama, walaupun Nandini sudah tidak sadarkan diri.
"Nana, ayah membawakan mu baju agar tinggal di sini lebih lama lagi. Sebab, di sini ada Bini Jima yang akan menjaga mu dan, juga ada Kak Azam," ucap Jhoni dengan lembut.
__ADS_1
Azam langsung tersenyum, karena sejak tadi pagi dia tidak ada menghibur Nana. Sebab, terlalu memikirkan perasaannya yang terbuka.
'Astaga, aku sampai lupa menghibur adikku karena memikirkan perasaan yang tidak ada artinya,' batin Azam.
Pria itu langsung bangun dan menghampiri Nana, kemudian menggendong gadis itu berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan semua orang, hanya diam saat melihat kepergian mereka. Sebab, Nana diam dan, terlihat gadis itu tidak bersedih lagi.
'Biarkan paman Azam yang membujuk dia, karena aku tahu Nana akan menuruti keinginan kakaknya,' batin Samudra.
Pria itu tahu kalau Azam akan sangat muda membujuk Nana, agar gadis cantik tersebut tidak bersedih lagi.
. . .
Azam meletakan tubuh Nana dengan perlahan ke sofa, kemudian menghapus air mata gadis itu yang masih mengalir deras.
"Stop crying / Berhentilah menangis," ucap Azam dengan lembut.
"No! / Tidak!" jawab Nana dengan lirih.
__ADS_1
Gadis itu langsung menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang kakak. Sebab, hanya Azam yang mampu menenangkan hatinya dari dulu hingga sekarang.
BERSAMBUNG.