
Jasmine dan Aldalin sudah kembali ke villa karena hari sudah sangat malam, dan udara malam sangat dingin di pantai. Kini meraka bersua sudah sampai dan langsung masuk ke dalam kamar.
Jasmine membersihkan dirinya, dan bergegas masuk ke dalam selimut karena merasa sangat lelah. Sebab, perutnya yang membuncit membuatnya kelelahan berjalan walaupun tidak jauh.
"Sayang, masuklah ke dalam selimut dan aku akan menghidupkan penghangat ruangan," ucap Aldalin dengan sangat lembut.
Peria itu langsung menyalakan penghangat ruangan, dan membuatkan teh hangat untuk Jasmine karena dia tahu sang istri kedinginan.
Perlahan dia menghampiri sang istri dan memeluknya dengan erat, kemudian mengelus-elus perut Jasmine dan bayi mereka menendangnya dengan sangat kencang.
"Anak ayah menendang dengan sangat kencang, apa besar nanti akan menjadi pemain sepakbola?" tanya Aldalin pada calon anaknya.
"Mas Al. Bahkan, kita lupa melihat jenis kelamin anak kita apa?" sahut Jasmine.
Aldalin menepuk keningnya dan langsung mencium puncak kepala sang istri, karena dia juga lupa melihat jenis kelamin sang anak waktu pemeriksaan UGS kemarin.
"Sudahlah, lagi pula jika dia sudah terlahir kita juga akan melihatnya," ucap Aldalin dengan sangat santai.
Jasmine tersenyum dan berkata, "Jasmine tidak mau melakukan USG lagi sampai anak kita lahir."
Aldalin menganggukkan kepala karena dia tahu perasaan Jasmine saat melihat anak mereka. Pria itu juga merasakan hal yang sama. Namun, dia tidak mau memperlihatkannya pada sang istri agar mereka saling menguatkan.
'Aku tidak akan membuat dia bersedih, aku akan membuatnya bergembira sellau. Walaupun anak kami tidak terlahir dengan sempurna,' batin Aldalin.
*
*
*
Setelah menunggu satu jam lamanya, akhirnya Gilang sadar juga dan melihat adanya Samudra di sampainya.
"Sam, di mana kakakmu?" tanya Gilang dengan sangat lemas.
Semua orang yang ada di sana langsung menoleh dan melihat pria itu sudah sadar dan langsung menanyakan Jasmine.
Samudra langsung menghampiri sang ayah dan duduk di samping pria itu dan melihat kondisi sang ayah, yang terlihat sangat lema dan menidurkan Jasmine.
"Ayah, kak Jasmine masih berlibur bersama ayah Al. Mungkin lusa mereka sudah kembali, apa Ayah rindu dia?" tanya Samudra.
Gilang tersenyum karena Samudra bersikap manis padanya, karena dia tahu dia hanya ayah sambung untuk Samudra. Sebab, pria itu tidak tahu kebenarannya.
"Bisakah ayah bertemunya, kalau dia sudah pulang? Karena ... ayah rindu dia," ucap Gilang.
__ADS_1
Samudra menganggukkan kepalanya dan memijat kaki Gilang dengan sangat lembut, dan hal itu sangat membuatnya bergembira.
'Samudra anak yang sangat sopan sama seperti ayahnya, mereka terlihat seperti pinang di belah dua,' batin Gilang.
Azam berjalan mendekati Difa dan menarik tangan gadis itu ke luar dari dalam, karena permasalahan mereka belum di bicarakan tadi.
Meraka duduk di bangku tunggu pasien dan mulai bertukar pendapat.
"Aku rasa seperti itu saja. Karena, aku juga wanita yang mengetahui apa mau wanita saat sedang bersedih," ucap Difa.
"Aku setuju! Kau sangat baik padaku," ucap Azan dengan sangat bergembira.
Tanpa mereka sadari ternyata Nana melihat mereka sejak tadi. Namun, tidak mendengar apa percakapan mereka.
'Semoga kak Azam bisa bahagia bersama gadis itu. Walaupun dia masih sangat mencintai mantan istrinya,' batin Nana.
Nana mencari keberadaan Samudra yang berkata mengikuti Azam tadi. Namun, gadis itu sama sekali tidak melihat adanya sang kekasih hati sehingga dia bergegas pergi dari sana.
'Mungkin saja dia pergi menemui wanita itu, dan tadi beralasan ingin menemui kak Azam. Dasar bajingan!' geram Nana dalam hatinya.
Gadis itu kembali duduk bersama sang ayah, karena tadi dia beralasan ingin ke toilet. Padahal itu hanya alibinya saja agar bisa mencari keberadaan Samudra.
"Sayang, makanlah nasi ini," bujuk Kenan dan gadis menuruti keinginan sang ayah makan dengan sangat lahap.
'Biarkan saja kalau dia berselingkuh. Tapi, itu tidak akan berlangsung lama selagi masih ada aku,' batin Nana.
*
*
*
Tasya sangat khawatir dengan sang suami yang tak kunjung pulang dan nomor ponselnya tidak bisa di hubungi.
"Kamu di mana, sih mas?" tanya Tasya dengan sangat cemas dan khawatir, karena suaminya belum benar-benar pulih yang masih harus beristirahat.
"Bagaimana jiak dia terluka atau apapun itu?" ucap Tasya dengan cemas.
Wanita itu mondar-mandir seperti setrikaan yang menggosok baju, dan dia sampai terjatuh ke lantai karena menabrak kaki bangku.
"Sial! Kenapa aku tidak ikut saja tadi!" teriak Tasya dengan sangat kesal, karena tidak mendapat kabar dari suaminya.
Wanita itu mengutus beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Gilang, dan dia juga mencari keberadaan sang suami lewat semua rekan bisnisnya.
__ADS_1
Namun, satupun dari mereka sama sekali tidak tahu tentang Gilang yang sudah lama tidak bertemu. Sejak pria itu sakit beberapa minggu lalu.
"Ke mana aku harus mencari mu?" Tasya bergegas pergi dari rumah, dan dia mencari keberadaan Gilang di sekitar kompleks rumahnya.
*
*
*
Gilang merasa sangat bahagia karena Samudra memperlakukannya seperti seorang ayah kandung, dan dia juga sedikit mengobati rindunya pada Jasmine yang sedikit mirip dengan Samudra.
"Samudra, ayah sangat senang kamu bersikap lembut seperti ini. Padahal kita hanya sebatas sambung," ucap Gilang dengan sangat bergembira.
Samudra tersenyum, dan menganggukkan kepala saja karena dia tidak ingin ada yang mengetahui permasalahan diri menang anak kandung Gilang.
"Karena, ayah dari kak Jasmine adalah ayah Sam juga," sahut Samudra dengan sangat lembut dan sopan.
Pria itu memijat Gilang lagi, dan pria itu langsung segar bugar. Seakan tidak sakit apapun karena keadaan hatinya sangat gembira.
*
*
*
Azam mengantarkan Difa pulang karena hari sudah sekitar malam, dan dia juga harus pulang karena sang ibu di rumah sendirian. Walaupun banyak pelayanan di rumah sang kakak, tatap saja dia tidak tenang meninggalkan sang ibu berlama-lama.
Setelah sampai di rumah Difa, Azam membangunkan gadis itu. Ya, Difa tertidur saat di perjalanan tadi karena sangat lelah setelah satu harian bekerja.
"Gadis itu seperti kerbau, tidur saja seperti orang yang sudah mati. Tidak mendengar apapun lagi," gumam Azam sambil menggendong gadis itu ke luar.
Azam membawa Difa masuk ke dalam rumah, karena rumah gadis itu tidak di kunci dan membanting tubuhnya dengan tidak sengaja. Sebab, dia menabrak kaki meja yang ada di hadapannya.
Gadis itu terbangun dan merasa semua tulangnya sakit semua, karena terjatuh dengan sangat kuat.
"Om Azam!"
"Dasar bocil!"
Keduanya saling menyalahkan satu sama lainnya, atas kejadian yang menimpah mereka berdua.
Bersambung.
__ADS_1