Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 84 Meninggal


__ADS_3

Difa membuka kedua matanya, dan melihat dia ada di dalam kamarnya kemudian bernafas lega. Sebab, tadi ia mengingat melihat Azam ada di sampainya saat ia tengah menangis di halte bus.


"Syukurlah ini cuma mimpi," ucap Difa sambil bernafas lega.


Gadis itu kembali menutup kedua matanya. Namun, dia seperti merasakan ada seseorang di samping tubuhnya. Sontak Difa langsung membuka mata dan melihat adanya Azam di sebelahnya.


"Aaahhh!" jerit Difa.


Gadis itu langsung bangun, kemudian memukuli Azam mengunakan bantal.


BUNG!


"Dasar Om mesum!" teriak Difa.


Azam menahan tangan Difa, sehingga gadis itu tidak bisa memukuli pria itu lagi, dan langsung diam.


"Sudah?" tanya Azam sambil melepaskan tangannya.


"Sebenarnya belum, karena Om menegang tangan Difa," sahut Difa dengan sangat pelan. Namun, Azam masih dapat jelas mendengar ucapan gadis itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Azam pada gadis itu, karena dia sangat penasaran kenapa Difa sangat mencintai Samudra.


"Bukankah Difa sudah menceritakan semuanya tadi?" tanya Difa balik dan Azam menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


'Ternyata kami bernasib sama, mencintai. Tapi, tidak bisa memiliki,' batin Azam lirih.


Mereka berdua kembali menceritakan tentang kisah hidup masing-masing, dan mereka tertawa karena bernasib sama mencintai seseorang yang tidak berbalas.


'Andai saja yang ada di hadapanku saat ini Sam, sudah pasti aku akan sangat bergembira,' batin Difa lirih.


.


.


.


Samudra bersama Jhoni berada di rumah sakit. Sebab, keadaan Nandini semakin hari semakin memburuk bisa di pastikan kalau wanita itu tidak akan bertahan lama lagi.


"Ayah, apakah ibu akan selamat? Nana, tidak sanggup lagi melihat ibu ada di dalam sana." Nana menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang ayah.


Jhoni mengelus-elus rambut Nana dengan sangat lembut, kemudian berbisik dan membuat gadis itu tersenyum.


"Benarkah Ayah?" tanya Nana dengan sangat tidak percaya.


Jhoni menganggukkan kepalanya, kemudian menatap ke arah Samudra yang sejak tadi terus memperhatikan mereka.


'Sebenarnya ada apa sampai Nana bisa ceria kembali?' batin Samudra sambil berpikir.

__ADS_1


Apa yang membuat Nana bisa tersenyum dan ceria kembali, dan dia pun pasrah dan hanya bisa melihat mereka saja.


Tiba-tiba mereka di kejutkan oleh suara detak jantung Nandini yang sudah tidak ada lagi.


"Ayah, ibu di dalam!" teriak Nana dengan cemas dan panik, karena saat ini pikirannya sudah melayang-layang.


"Dokter! Tolong istri saya!" teriak Jhoni.


Dokter langsung datang dan masuk ke dalam memeriksa keadaan Nandini dan ternyata, wanita itu sudah meninggal dunia.


Hati Jhoni dan Nana seakan hancur berkeping-keping, mendengar ucapan Dokter kalau Nandini sudah meninggal dunia.


"Om, Nana, kalian yang sabar. Ya," ucap Samudra dengan lirih.


Nana semakin terisak-isak saat melihat tubuh sang ibu sudah terbujur kaku dan memucat, sehingga gadis itu pingsan.


"Sam, bawa Nana pulang ke rumah mu dulu. Sampai pemakaman ibunya selesai!" pinta Jhoni pada Samudra.


Karena dia tidak bisa melihat sang anak sangat hancur dan bersedih saat di pemakaman nanti.


"Baik Om," jawab Samudra.


Pria remaja itu langsung menggendong tubuh Nana pergi dari sana, meninggalkan Jhoni yang akan mengurus semua sampai selesai hari ini juga. Walaupun hari sudah semakin sore. Tetap, ia akan menyelesaikan acara pemakaman untuk Nandini.

__ADS_1


...Bersambung. ...


__ADS_2