
Aldalin baru saja sampai di rumahnya, pada sore hari ini dan melihat sang istri tengah menyiram tanaman. Kemudian menghampiri Jasmine.
Aldalin memeluk Jasmine dari belakang, membuat gadis itu terkejut dan langsung menoleh.
"Mas Al!" jerit Jasmine dengan manja.
Aldalin tersenyum kemudian mencium puncak kepala sang istri dan juga perut Jasmine, karena dia tidak pernah melupakan calon anaknya.
"Anak ayah, jangan nakal di dalam sini! Kasihan Bunda. Ya," ucap Aldalin dengan lembut.
Jasmine tersenyum dan merasa sangat bahagia saat Aldalin berbicara pada calon anak mereka.
'Ya Tuhan, aku sangat bahagia bisa seperti ini. Apakah aku sudah mencintai ayah?' batin Jasmine sambil berpikir.
Aldalin mengendong tubuh Jasmine masuk ke dalam, dan gadis itu hanya diam karena dia tidak ingin membantah suaminya.
Aldalin membawa tubuh Jasmine masuk ke dalam kamar, dan meletakan dengan perlahan ke kasur kemudian dia mengunci tangan sang istri.
"Apa hari mu menyenangkan?" tanya Aldalin dengan sangat lembut.
Jantung Jasmine seakan ingin copot saat melihat wajah Aldalin dengan sangat dekat, dan pria itu mendengar jelas detak jantung sang istri dan tersenyum.
'Kami sudah saling menyatukan dan mencintai. Tapi, kenapa Tuhan masih memberikan kami ujian seperti ini?' batin Aldalin.
__ADS_1
Pria itu bangun dan duduk di samping tubuh sang istri, kemudian mengelus-elus rambut Jasmine dengan sangat lembut.
"Sudah lihat perlengkapan bayi yang aku belikan?" tanya Aldalin, dan Jasmine menganggukkan kepala sambil tersenyum manis.
Jasmine bangun kemudian mendekati sang suami dan mengecup pipi Aldalin dengan lembut, untuk yang pertama kalinya.
Aldalin membuka mata lebar-lebar, karena perlakuan Jasmine sangat membuatnya bahagia bukan main.
"Jasmine cinta ayah," ucap Jasmine pelan.
Aldalin tertawa mendengar ucapan Jasmine yang masih saja memanggilnya dengan sebutan ayah. Padahal, saat ini dia sudah menjadi suami gadis itu.
"Kenapa masih ayah lagi?" tanya Aldalin sambil tersenyum manis.
"Baiklah suamiku," ucap Jasmine dengan sangat lembut.
Aldalin langsung memeluk Jasmine dengan sangat lembut dan mereka saling berpelukan dengan mesra.
.
.
.
__ADS_1
Difa berjalan menuju rumahnya, sambil memikirkan tentang Samudra yang semakin hari semakin dekat dengan Nana. Bahkan, dia juga mendengar mereka akan menikah.
Hal itu membuatnya sangat sedih dan galau bukan main. Sebab, gadis itu sangat mencintai Samudra.
'Sakit rasanya hati ini. Tapi, aku juga tidak bisa mendapatkan hati Sam, karena dia sangat mencintai Nana,' batin Difa lirih.
Gadis itu mengentikan langkahnya di halte bus, kemudian bersandar di bahunya seseorang tanpa melihat siapa pria itu.
"Hancur-hancuran cintaku, sakit-sakit hatiku,' ucap Difa sambil menangis tersedu-sedu.
'Astaga gadis ini!' gram pria tersebut.
Difa masih saja menangis sambil mencurahkan isi hatinya pada pria tersebut, dan pria itu masih diam sambil mendengarkan ucapan Difa dengan sabar.
Difa mengeluarkan ingus dan mengelapnya ke bahu pria tersebut. Sontak membuat sang empunya bangun dan menatap tajam kearahnya.
Difa tidak memperdulikan tatapan tajam dari pria itu. Sebab, dirinya sangat hancur sehingga dia pingsan dan terjatuh ke lantai.
"Astaga! Gadis itu menyusahkan aku saja!" pekiknya.
Pria itu membantu Difa dan membawanya ke dalam mobil yang terparkir tepat di depan halte bus tersebut.
...Bersambung....
__ADS_1