Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 44 Datangnya masalah


__ADS_3

Tasya mengutus pengacaranya, untuk membawa hak asuh Jasmine ke jalur hukum. Karena dia tahu bahwa ia akan menang, sebab Jasmine bukan anak kandung Aldalin.


Tasya sangat kecewa karena dia tidak di perbolehkan menemui sang anak. Walaupun ia tahu selama ini sudah meninggalkan anak-anaknya.


'Walaupun aku tahu, mas Al sudah menikahi anakku. Tapi, dia sama sekali tidak memperbolehkan aku menemui Jasmine, sehingga aku mengambil keputusan ini,' batin Tasya.


Tasya ingin sekali memenuhi permintaan terakhir dari sang suami, untuk bertemu Jasmine. Gilang sudah berulangkali mencoba menemui anaknya. Namun, Aldalin tidak membiarkan dan selalu ada cara menghalanginya.


"Bu Tasya, surat panggilan untuk Aldalin sudah sampai di rumahnya, dan besok adalah pertemuan pertama kalian," ucap pengacara Tasya.


Tasya tersenyum bahagia sambil memegang tangan sang suami, mendengar ucapan pengacaranya bahwa besok dia akan bertemu dengan Aldalin.


"Terimakasih, besok aku akan datang," jawab Tasya dengan sangat bahagia.


*. * *


Aldalin membuka mata lebar-lebar, melihat surat panggilan dari pengadilan. Kemudian dia merobek kertas tersebut.


"Sial!" seru Aldalin sambil melemparkan apa saja yang ada di hadapannya saat ini.


"Aaahhhkkk!" teriak Aldalin.


Aldalin tidak percaya kalau Tasya akan senekat ini, membawa hak asuh Jasmine ke jalur hukum. Pria itu langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan memeluk sang istri yang tengah tertidur.


"Mas Al, ada apa?" tanya Jasmine sambil melepaskan pelukan mereka, karena dia merasa tidak nyaman seperti ini.


Jasmine merasa ada yang aneh melihat Aldalin tiba-tiba menghampirinya dan memeluk dia.


Aldalin menatap wajah Jasmine. Rasa bersalahnya kian timbul dan berpikir bagaimana jika dia akan terpisah setelah Tasya menggugatnya.


Aldalin mulai mencintai Jasmine, karena itu ia tidak bisa berpisah dari gadis itu di tambah lagi kalau mereka juga akan memiliki anak.


"Jasmine, kalau ibumu membawamu pergi dariku apakah kita masih bisa bersama lagi?" tanya Aldalin dengan lirih.

__ADS_1


Jasmine langsung menggelengkan kepala, karena dia sama sekali tidak mau bertemu dengan sang ibu. Apa lagi kalau ibunya membawa ia pergi dari Aldalin, walaupun gadis itu tidak mencintai suaminya.


Jasmine memegang tangan Aldalin dengan sangat lembut, kemudian dia tersenyum manis dan berkata, "Jangan bersedih, karena Jasmine tidak akan mau pergi bersama ibu."


Aldalin tersenyum dan kembali memeluk sang istri dengan sangat lembut, walaupun dia tahu apa yang akan terjadi besok ladanya dan Jasmine.


"Jasmine, besok aku akan ke pengadilan bersama ibumu ... dia akan memenangkan hak asuh kamu. Kumohon ikutlah dengannya karena aku akan menjemputmu kembali," ucap Aldalin dengan sangat lembut sambil mengelus-elus rambut Jasmine.


Jasmine menolak keinginan Aldalin. Namun, suaminya membujuk dia agar mengikuti semua apa yang di minta oleh sang suami.


"Tapi, Mas Al ... " Jasmine tidak meneruskan ucapannya karena Aldalin menutup mulutnya menggunakan tangan pria itu.


Heling sekejap saat kedua mata itu saling menatap satu sama lainnya. Jantung mereka berdegup kencang.


"Jangan membantah, ikuti saja keinginan ku," ucap Aldalin sambil tersenyum manis pada Jasmine.


Aldalin sangat menyesali perbuatannya selama ini pada Jasmine, dia ingin memutar waktu kembali dan menyayangi gadis itu dengan penuh kasih. Terasa sangat sedih akan berpisah dari sang istri walaupun hanya untuk beberapa hari saja.


Aldalin bahagia, karena Jasmine tidak mau berpisah darinya dan dia berpikir bahwa gadis itu sudah mencintainya.


*. *. *.


Azam bergegas pulang dengan menaiki ojek, karena dia sama sekali tidak membawa kendaraan apapun dari kantor tadi. Selama di perjalanan pria itu terus-menerus mengumpat sang kakak dalam hatinya.


Sesampainya di rumah, dia langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya sebelum ada yang melihat dia pulang. Karena pria itu tidak mau sampai sang kakak marah karena dia pulang dan meninggalkan kantor.


Azam tersenyum kemudian menidurkan tubuhnya di atas kasur, sambil memikirkan tentang Jasmine yang sudah menjadi kakak iparnya. Walaupun dia sangat mencintai gadis tersebut dan pria berusia 30 tahun itu tidak akan melupakan pujaan hatinya.


'Tidak apa aku hanya mencintai dia seorang diri, karena rasa ini hampir pada orang yang salah. Tidak seharusnya aku mencintai kakak ipar ku,' batin Azam.


*. *. *


Samudra dan Nana duduk di sebuah cafe yang sangat terkenal di kota mereka. Pria remaja itu kabur dari kampus hanya untuk bersua dengan wanita pujaannya itu.

__ADS_1


Nana tersenyum bahagia saat Samudra menyatakan cinta padanya, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu langsung menerima cinta pria remaja itu.


"Sekarang kita berpacaran?" tanya Samudra dengan sangat tidak percaya kalau dia dan Nana berpacaran.


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya sambil tersipu malu. Wajah Nana memerah seperti kepiting rebus karena rayuan dari Samudra.


Mereka benar-benar sangat di mabuk asmara sampai tidak ingat hal lainnya. Samudra mendekati Nana dan mencium puncak kepala gadis itu dengan sangat cepat tanpa aba-aba.


Nana sangat terkejut akan aksi Samudra, sehingga dia langsung menutup wajah mengunakan kedua tangannya.


"Kenapa di tutup?" tanya Samudra dengan sangat lembut dan manis di mata Nana.


Gadis itu hanya menggelengkan kepala, karena sangat malu pada Samudra dan pengunjung cafe itu. Nana langsung menghabiskan makanan agar ia dan sang pacar bisa berganti tempat.


*. *. *.


Difa sangat merindukan sang sahabat yang sudah berbulan-bulan tidak pernah menemuinya, dia berpikir kalau Jasmine sudah melupakannya karena ia hanya gadis miskin.


'Sudahlah, kalau aku bertemu Samudra di kampus besok akan bertanya di mana kakaknya yang baik hati itu ke mana,' batin Difa.


Gadis itu melanjutkan kembali pekerjaannya memarkirkan motor yang datang ke Swalayan tersebut. Rasa kesalnya datang lagi saat mengingat kembali kejadian tadi.


Difa melihat Samudra dari jarak jauh, terlihat pria tersebut duduk berdua dengan seorang wanita mudah di cafe dekat Swalayan.


"Siapa gadis itu? Apa mereka berpacaran?" tanya Nana pada diri sendiri, saat melihat sang pujaan hati bersama dengan wanita lain.


Difa terus menatap ke arah mereka dan Samudra mencium puncak kepala gadis itu dengan sangat lembut. Hatinya seakan berhenti berdetak saat ini juga melihat pemandangan seperti itu.


Walaupun Gadis itu sebelumnya sangat membencinya. Lama kelamaan dia menyukai pria remaja yang sangat tampan itu.


Difa duduk di salah satu motor yang ada di Swalayan, sambil terus melihat Samudra semakin mesra kepada gadis itu membuat Difa semakin sakit.


'Sakit sekali hati ini melihat mereka berdua. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena dia mencintai gadis itu,' batin Difa.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2