Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 11 Ingin Makanan Khas Kota J


__ADS_3

Jasmine meminta pada, Samudra untuk menelpon sang ayah melalui video call. Karena ia sangat merindukan ayahnya yang sudah beberapa minggu ini tidak bertemu.


"Kak Jasmine, Sam bosan menelpon ayah terus, karena memang Sam masih kesal pada ayah," ucap Samudra yang menatap wajah Jasmine.


Jasmine memegang tangan Samudra kemudian ia memeluk sang adik karena tidak tahu harus berkata apa.


"Sam, kakak sebelumnya tidak pernah memintanya apapun padamu bukan? Dan sekarang kakak ingin kita menelpon ayah setiap hari sampai ayah pulang," pinta Jasmine.


Samudra menganggukkan kepala karena ia senang jika sang kakak meminta sesuatu kepadanya, sebelum ini Jasmine tidak pernah meminta apapun.


"Tentu saja, karena Sam sangat senang jika kakak meminta apapun itu dan Sam akan langsung memberikannya," jawab Samudra sambil tersenyum manis kepada Jasmine.


Samudra mulai menelpon sang ayah dan langsung terhubung, seperti biasanya Jasmine tidak akan terlihat di layar ponsel karena ia berada di samping Samudra.


📱Ayah.


[Hai, sayang.]


Jasmine tersenyum bahagia saat melihat laki-laki yang selalu di rindukan, walaupun pria itu selalu kasar padanya dan ia sama sekali tidak membenci sang ayah.


[Sepertinya ayah akan cepat pulang, karena pekerjaan ayah sudah selesai. Mungkin minggu depan sudah pulang.]


Jasmine tersenyum bahagia karena ia mendengar jika sang ayah akan segera pulang, sedangkan Samudra merasa tidak senang sama sekali.


[Euum, jangan lupa untuk membawa oleh-oleh untuk kami, karena kemarin Kak Jasmine ingin makanan khas kota J.]


Samudra berkata sambil melirik ke arah Jasmine yang membuka matanya lebar-lebar, karena sang adik mengatakan keinginannya pada ayah mereka, yang sudah pasti tidak akan menuruti keinginan dia sama sekali.


[Khas kota J? Bukankah dia sama sekali tidak pernah menyukai makanan khas kota J?]


Aldalin mengerutkan keningnya karena memang tahu, jika ia membawa makan khas kota J maka Jasmine tidak akan mau meninta atau memakan makanan yang di bawa.


[Benarkah? Tapi, kemarin dia bilang jika dia sangat menginginkan makan itu.]


Samudra bertanya sambil menatap ke arah Jasmine yang terlihat, menaikan bahunya karena ia juga tidak tahu mengapa keinginan itu muncul.


[Baik, ayah akan membawakannya dan apa dia di sana baik-baik saja?]

__ADS_1


Sontak saja membuat Jasmine dan Samudra saling menatap, karena ini kali pertama buat mereka mendengar jika sang ayah menanyakan kabarnya.


[Dia baik, dan kenapa Ayah menanyakan kabarnya?]


Aldalin terdiam saat mendengar pertanyaan dari Samudra, ia menatap langit-langit kamarnya dengan lirih kemudian dia kembali menatap wajah anaknya itu.


[Besok kita sambung lagi, karena ayah ada pekerjaan!]


Aldalin langsung memutuskan sambungan teleponnya, dan Samudra menatap wajah Jasmine karena ia sangat bahagia.


"Dengar kak, bukankah ayah menanyakan kabar kakak," ucap Samudra dengan sangat bahagia.


'Aku sangat bahagia, akan tetapi, apa semuanya ada maksud lain?' batin Jasmine sambil berfikir.


"Oh. Ya, untuk apa makanan khas kota J jika kakak tidak menyukainya?" tanya Samuda. Jasmine juga tidak tahu karena keinginannya datang tiba-tiba.


"Entahlah, mungkin saja ini karena rasa penasaran kakak karena tidak pernah merasakan makanan itu," jawab Jasmine sambil membayangkan enaknya memakan makanan tersebut.


"Tenang saja, karena tadi ayah mengatakan jika dia akan membawa makanan itu untuk kakak," sahut Samudra.


Jasmine merasa heran, bagaimana tidak. Karena sang ayah selalu saja menolak keinginannya. Namun, berbeda dengan kali ini ayahnya mau menuruti apa yang ia mau.


*


*


Aldalin memukul-mukul mulut karena sudah menanyakan kabar wanita yang sangat di benci, dan juga mengumpat kebodohan dia sudah memikirkan tentang wanita yang selalu membuatnya ingat akan masa lalu.


"Aku merasa ... ini hanya kesalahan, aku tidak benar-benar memikirkannya dan kenapa juga dia ingin makanan khas daerah sini?" tanya Aldalin pada dirinya sendiri.


Kemudian Aldalin mulai bersiap-siap untuk pergi meninjau proyek agar ia cepat-cepat pulang.


Entah apa yang membuatnya sangat ingin pulang cepat, karena itu ia memutuskan untuk pulang minggu depan. Padahal Aldalin masih harus di kota J dua minggu lagi dan dia mengutus anak buah untuk mewakilinya.


*


*

__ADS_1


Tasya dan Gilang memutuskan untuk pergi ke kota A agar mereka bisa menemui Jasmine, hari ini mereka sudah berangkat menuju kota A dan akan tinggal di rumah Tasya dulu.


Setelah mereka sampai langsung bergegas masuk ke dalam rumah, dan berberes-beres setelah itu barulah mereka akan mencari keberadaan Jasmine.


"Mas, sepertinya kita akan mudah menemukannya, karena mas Al adalah konglomerat di sini," ucap Tasya.


Kemudian Tasya mendudukkan bokongnya di sofa. Gilang yang sedang membereskan barang-barang langsung menghampiri istrinya.


"Benar sekali, karena di kota ini hanya ada empat orang konglomerat dan kita coba mencarinya lewat internet," usul Gilang dan mereka mulai mencari tentang Aldalin. Tasya melihat identitas Aldalin dari internet.


Aldalin Kusnaeni, umur empat puluh lima tahun, memiliki satu anak laki-laki yang bermana. Samudra Kusnaeni umur sembilan belas tahun. Aldalin Kusnaeni memiliki usaha properti terbesar dan dia adalah konglomerat nomor dua di kota A.


"Kemana anak kita? Apa mas Al tidak memperkenalkan Jasmine pada publik? Lalu, bagaimana cara menemukannya?" tanya Tasya sedih.


"Lewat Samudra, karena kita hanya melihat wajahnya saja itu akan memudahkan kita. Karena tidak mungkin dia tidak tahu keberadaan kakaknya bukan?" sahut Gilang dan Tasya tersenyum.


"Benar, putraku itu pasti tahu di mana keberadaan Jasmine."


*


*


Jasmine merasakan sangat sakit saat tidur di tikar usang, di tambah lagi ia seringkali masuk angin saat bangun tidur. Membuat gadis itu pun berniat membeli sebuah kasur.


Jasmine sedang memilih-milih kasur kecil untuknya dan saat hendak ke kasir ia menabrak wanita.


"Maaf, saya tidak melihat Ibu tadi." Jasmine mendudukkan wajahnya karena merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, karena saya juga salah buru-buru berjalan dan menabrak kamu tadi," jawab wanita paru paru tersebut dengan sangat ramah.


"Maaf Bu, saya permisi dulu karena saya buru-buru dan sekali lagi saya minta maaf." Jasmine langsung bergegas pergi dari sana.


'Anak yang sopan,' batin wanita tersebut.


Jasmine pulang dengan mobil yang mengantarkan kasur milikinya, sampai di mansion.


'Tidak apa-apa, sebaiknya aku lupakan saja malam itu dan anggap uang yang ada padaku ini uang dari ayah memang untuk ku, bukan karena malam itu,' batin Jasmine.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2