
Aldalin membawa Jasmine masuk ke dalam terlihat rumah tersebut sangat seram, seorang wanita tua menghampiri mereka dan duduk di hadapan mereka.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita tua tersebut sambil menatap ke arah Jasmine.
"Tolong, gugurkan kandungan anak ini," jawab Aldalin sambil menunjuk ke arah Jasmine.
Wanita tersebut menghampiri Jasmine lalu ia mengusap-usap perut Jasmine dengan perlahan.
"Usia kandungannya masih mudah, sangat mudah untuk melakukannya sebaiknya kita masuk ke dalam saja," ucap wanita tua tersebut.
"Lakukan secepatnya!" pinta Aldalin pada wanita tua tersebut. Kemudian wanita tua itu membawa Jasmine ke dalam kamar yang tertutup.
"Kenapa di gugurkan kandungannya, Non?" tanya wanita tua tersebut sambil berjalan menuju alat-alat tempurnya.
"Sebenarnya saya tidak tahu jika saya hamil, apa benar saya hamil, Nek?" jawab Jasmine sambil menatap wajah wanita tersebut dengan tatapan sedihnya.
Wanita tersebut langsung menghampiri Jasmine dan menatap wajah gadis itu.
"Lalu, laki-laki tadi itu siapanya kamu? Kenapa, dia meminta agar kamu menggugurkan kandunganmu?" tanya wanita tua tersebut dengan sangat sedih.
"Dia ayah saya, karena malu jika saya hamil tanpa seorang suami," jawab Jasmine sambil menangis tersedu-sedu.
Hati wanita tua tersebut terasa teriris melihat Jasmine menangis tersedu-sedu seperti itu, sehingga ia memikirkan rencana yang bagus untuk menyelamatkan gadis malang itu. Karena umur Jasmine masih sangat mudah itu akan membuatnya mengalami pendarahan nanti.
*
*
Aldalin sangat kesal akan perbuatan Jasmine sehingga anak yang ia benci itu hamil tanpa adanya seorang suami, ia menunggu dan mendengar suara jeritan gadis itu yang terdengar sangat jelas.
"Aaahhhkkk!"
Aldalin menelan ludahnya. Keringat mulai membasahi seluruh tubuh karena mendengar jeritan Jasmine.
"Sakit! Ayah!" teriak Jasmine dengan keras.
Aldalin merasa cemas ia bangun dan berjalan menuju kamar itu yang tertutup rapat.
"Jasmine, semoga anak itu baik-baik saja! Anak haramnya lenyap tidak akan menyusahkan aku!" Aldalin terus-menerus berjalan seperti setrikaan.
__ADS_1
Setelah satu jam menunggu akhirnya wanita tua tersebut datang menghampiri Aldalin.
"Tuan, semuanya sudah selesai dan anak Anda di dalam. Keadaan dia sangat lemah sebaiknya kalian cepat pulang dan harus istirahat," ucap wanita tua tersebut.
"Terimakasih."
Aldalin memberikan wanita tua tersebut sejumlah uang yang di letakkan di dalam amplop.
Aldalin berjalan masuk ke dalam kamar tersebut lalu melihat Jasmine tertidur lemas, ia langsung menghampiri gadis itu dan menatap wajahnya yang terlihat sangat segar.
"Sudah selesai bukan? anak haram itu sudah tidak ada lagi," ucap Aldalin sambil tersenyum simpul. Jasmine hanya menganggukkan kepala saja dan juga meneteskan air mata.
"Sebaiknya kita pulang saja! Kau tidak bisa berjalan bukan?" Aldalin berjalan mendekati Jasmine.
"I-ya," jawab Jasmine gugup.
Aldalin perlahan menggendong tubuh Jasmine keluar dari kamar itu, dan membawanya masuk ke dalam mobil dengan perlahan.
Setelah itu Aldalin juga masuk ke dalam dan mulai mengemudikan mobilnya menuju mansion dengan perlahan.
'Aku masih akan menghukumnya, setelah ia sembuh karena dia baru saja keguguran. maka aku akan repot sendiri juga nantinya,' batin Aldalin.
Flashback on.
Wanita tua tersebut mengambil satu ekor ayam lalumemotongnya, dan menampung darah itu untuk Jasmine nantinya.
Jasmine merasa sangat takut melihatnya sehingga ia berteriak-teriak histeris.
"Aaahhhkkk!"
"Nek, hentikan tolong!" teriak Jasmine lagi karena merasa sangat takut, akan apa yang di lakukan oleh wanita tua tersebut.
Wanita tua itu langsung mengoleskan sedikit darah ayam tadi ke baju Jasmine, agar Aldalin tidak curiga jika mereka tidak melakukan apa-apa.
"Sakit! Ayah!" teriak Jasmine karena wanita tersebut mencubit lengannya dengan sangat kuat.
Jasmine berteriak-teriak histeris karena ia merasakan jijik karena darah ayam yang ada pada bajunya, ia juga berteriak-teriak karena lengannya masih terasa sangat sakit.
Setelah selesai Jasmine langsung tertidur lemas karena terlalu banyak berteriak-teriak tadi, ia langsung tidur dan mencoba untuk mengatur nafasnya dalam-dalam.
__ADS_1
Flashback off.
Jasmine tersadar saat Aldalin menyentuh tangannya karena mereka sudah sampai di mansion, dan gadis itu menatap wajah sang ayah yang mulai menggendongnya masuk ke dalam.
Semua mata pelayanan melihat ke arah Jasmine yang tengah di gendong oleh Aldalin, mereka juga melihat adanya noda darah pada baju gadis itu yang terlihat sangat jelas.
'Apa yang terjadi, sebaiknya aku cepat-cepat melihat keadaan, Non Jasmine,' batin Bi Sinta.
Aldalin meletakan tubuh Jasmine dengan perlahan lalu ia menatap wajah gadis malang itu.
"Jangan berharap jika aku tidak akan menghukum mu. Karena aku tidak mau ada masalah karena it akan menghukum mu sampai kau sembuh," ucap ketus Aldalin.
Kemudian bergegas pergi dari kamar Jasmine, karena ia sudah merasa sedikit puas hari ini.
Setelah kepergian Aldalin dari kamar Jasmine, mulailah Bi Sinta masuk ke dalam kamar dengan rasa cemas yang mendalam.
"Non," panggil Bi Sinta dan Jasmine langsung bangun dari tidurnya.
"Ada apa, Bi?" tanya Jasmine dengan sangat santai sambil bangun dari duduknya.
"Apa, Non baik-baik saja? Karena tadi Non di gendong sama tuan dan ada darah di baju Non," jawab Bi Sinta yang menatap aneh pada Jasmine.
Jasmine mengambil baju ganti dan handuk lalu ia duduk kembali di hadapan Bu Sinta.
"Bi, ini semuanya adalah rahasia ya. Karena ini adalah masalah besar jika ayah sampai tahu," sahut Jasmine dan Bu Sinta menganggukkan kepalanya.
Jasmine mulai menceritakan tentang kejadian tadi pada Bi Sinta, sehingga Bi Sinta menangis didalam pelukan Jasmine.
"Non, Bibi akan menjaga Non dan calon cucu Bibi walaupun dia terlahir tanpa keinginan dari ayahnya," ucap Bi Sinta sambil menangis tersedu-sedu. Jasmine juga ikut menangis.
Jasmine bingung karena ia saat ini tengah hamil anak sang ayah, dan juga berfikir jika semakin hari maka perutnya akan besar. sehingga ayahnya akan tahu jika dia tidak mengugurkan kandungannya.
'Aku harap sebelum anak ini lahir, aku dapat memecahkan masalah ini karena aku tidak mau anak ini lahir, dia akan terkena masalah,' batin Jasmine.
Jasmine bergegas pergi menuju kamar mandi yang di bantu oleh BI Sinta, karena tidak mau sampai sang ayah tahu jika dirinya sehat karena tidak melakukan apa-apa tadi.
Setelah Jasmine masuk ke dalam kamar mandi, ia mulai berfikir bagaimana bisa menyembunyikan kandungan dari sang ayah yang akan melenyapkan anaknya.
"Aku, akan menanggung semuanya."
__ADS_1
Bersambung.