
Jasmine tersenyum, karena dia tahu Aldalin adalah pria baik dan, berubah menjadi jahat karena tersakiti oleh wanita yang dicintai.
"Lihatlah, istrimu cemburu Tuan memeluk aku," ucap Jhoni.
Pria itu melepaskan pelukannya dan, menatap wajah sang istri dengan lembut, juga senyuman manisnya.
"Tidak akan, dia tahu aku ini hanya mencintainya saja," sahut Aldalin.
Jasmine tersenyum dan, mengelus perut yang terasa keram akibat dia terlalu tertawa. Kemudian, dia pun menatap wajah sang suami.
"Mas, apa Jasmine boleh pulang?" tanya Jasmine dengan lembut.
"Belum tahu, nanti akan aku tanyakan," jawab Aldalin lembut.
Kemudian, mereka bertiga membahas acara pernikahan Samudra dan Nana, sebab mereka tidak ingin pernikahan yang sudah di rencanakan tidak terwujud.
"Setuju! Artinya, kita akan mengadakan pesta pernikahan satu bulan lagi," ucap Jhoni girang.
Walaupun dia bersedih atas kepergian sang istri. Namun, ia pun harus memikirkan kebahagiaan Nana, putri semata wayangnya.
"Setuju!" jawab Jasmine dan Aldalin bersamaan.
Mereka tersenyum bahagia, karena akan mengadakan pesta pernikahan yang mewah untuk Samudra.
__ADS_1
. . .
Samudra menyuapi Nana dengan sabar dan cekatan, sebab gadis itu tidak mau makan sejak semalam. Membuatnya harus sabar menghadapi calon istrinya. Padahal ia baru pulang dari rumah sakit.
"Sayang, satu suap lagi," ucap Samudra lembut.
Nana tersenyum, karena ada banyak orang yang sayang padanya dan, juga menghiburnya saat ia bersedih.
"Sam, terima kasih sudah sabar menghadapi aku dan, juga kasih sayang mu untuk ku," ucap Nana lirih.
Gadis itu langsung memeluk Samudra dengan lembut dan, menangis tersedu-sedu, karena merasa sangat bahagia.
"Nana, aku sangat mencintaimu. Jadi, jangan pernah ucapkan terima kasih lagi, karena semua aku lakukan demi cintaku padamu," jawab Samudra lembut.
'Tuhan, terima kasih sudah memberikan aku pria yang tulus mencintai ku apa adanya,' batin Nana lirih.
Walaupun Samudra merasa pusing, karena mendonorkan darahnya pada sang kakak, dia tetap sabar menyuapi Nana makan.
'Aku sangat mencintainya, sampai kapan pun aku akan tetap bersamanya,' batin Samudra.
. . .
Jhoni sudah pulang dari rumah sakit, kini ia tengah membenarkan sepeda Difa di bengkel langganannya. Setelah selesai, ia pun bergegas pulang.
__ADS_1
Namun, sebelum pulang, dia berniat mengantarkan sepeda Difa terlebih dahulu, sebab ia sudah berjanji pada gadis itu.
"Itu dia," ucap Jhoni saat melihat Difa duduk di teras sambil bermain ponsel.
Jhoni bergegas turun dari mobil dan, menurunkan sepeda Difa, membuat gadis itu tersenyum bahagia.
"Om, terima kasih banyak atas semuanya, saya ingin membuatkan kopi, mari masuk," ucap Difa girang.
Jhoni tidak bisa menolak dan, ia pun mengikuti gadis itu masuk ke dalam rumah, pria itu pun duduk di sofa.
"Difa, aku ingin buang air kecil," ucap Jhoni saat Difa hendak masuk ke dalam dapur.
"Silahkan Om, ikut saya," jawab Difa lembut.
Jhoni bergegas bangun dan, hendak melangkah. Namun, naas kakinya tersandung, sehingga dia jatuh di atas tubuh Difa.
"Aaahhh!" jerit Difa.
Gadis itu merasa tubuhnya remuk semuanya, karena Jhoni menimpanya. Sedangkan Jhoni, merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya.
'Ya ampun, apa yang ada di dalam pikiran ku ini?' batin Jhoni sambil berpikir.
Pria itu pun bergegas bangun dan, membantu Difa bangun, kemudian mereka bergegas pergi ke tempat tujuan masing-masing.
__ADS_1
BERSAMBUNG.