
Aldalin duduk di dalam ruangan kerja sambil menghisap rokok, dan juga meminum segelas Bir untuk melepaskan candunya. Saat sudah selesai minum perutnya sangat mual sehingga ia muntah-muntah.
Setelah selesai muntah kini Aldalin duduk sambil memegang perutnya yang terasa, seperti sedang di putar-putar dengan sangat kuat.
"Ada apa dengan diriku ini? Apa aku baik-baik saja atau aku sakit?" tanya Aldalin pada dirinya sendiri, karena ia meras aneh saat meminum Bir dan langsung muntah.
*
*
Difa sedang bekerja memarkirkan motor di Swalayan, pada saat itu ada laki-laki tampan yang menaiki motor matic menghentikan motor tepat di hadapannya, sehingga gadis itu langsung menatap tajam ke arah pria tersebut.
"Hei! Bukankah di sini sudah tidak ada lagi perkiraan? Sebaiknya kamu pergi saja dari sini dan perkiraan di tempat lain!" ucap Difa dengan ketus.
"Wanita cantik, aku pemilik Swalayan ini," ungkap pria tersebut, sontak saja membuat Difa langsung membuka mulut lebar-lebar saat mendengar ucapannya.
"Maaf, saya tidak tahu dan silahkan masuk saja motor ini akan saya urus." Difa langsung mendorong motor matic tersebut menuju pos tempatnya beristirahat.
"Dasar, wanita aneh." pria tersebut bergegas masuk ke dalam.
Pria tersebut mengambil beberapa barang di sana karena Swalayan tersebut bukan miliknya, ia hanya ingin mengerjai wanita tadi saja karena sudah memarahi anak konglomerat.
Setelah selesai, pria tersebut segera keluar sambil membawa barang belanjaannya, dan berjalan menghampiri Difa lalu memberikan uang 50 ribu kepada gadis itu.
"Terimakasih, karena sudah menjaga motor saya dan saya pamit dulu, ucapkan salam saya kepada pemilik Swalayan ini!" pria tersebut melajukan motor dengan kecepatan tinggi.
"Hei! Kurang ajar kau sudah menipu ku!" teriak Difa.
Difa mencoba untuk mengejar pria tersebut akan tetapi, ia tidak bisa karena sudah tertinggal sangat jauh.
Difa melanjutkan kembali pekerjaannya, ia juga sedang memikirkan tentang Jasmine yang sudah beberapa minggu ini tidak ada kabar, dan juga tidak bertemu dengan sang sahabat karena gadis itu sudah tidak masuk kuliah lagi.
Difa juga tidak tahu kenapa sahabatnya berubah menjadi seperti ini, padahal dulu Jasmine itu sangat rajin kuliah dan bekerja.
"Jasmine itu kenapa. Ya? Sangat berubah saat ini, dia tidak bekerja dan kuliah ada apa sebenarnya?" tanya Difa pada diri sendiri, karena merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Jasmine pada dirinya.
__ADS_1
*
*
Satu Minggu kemudian ...
Di pagi hari ini, seperti biasanya Aldalin akan menghukum Jasmine, kali ini ia membawa gadis itu ke halaman belakang sambil menarik tangannya dengan sangat kuat.
"Lepaskan, Ayah!" teriak Jasmine sambil mengikuti langkah sang ayah yang berjalan dengan sangat cepat.
Aldalin tidak menghiraukan ucapan Jasmine dan langsung mendorong tubuh gadis itu dengan sangat kuat, sehingga anak sambungnya terpental dan menabrak tembok mengakibatkan kepalanya terluka.
"Ini belum selesai! Kau akan mendapatkan hukuman yang lebih besar dari ini!" Aldalin membawa air garam, lalu membasahi seluruh tubuh Jasmine menggunakan air itu.
Jasmine merasakan sangat pedih di sekujur tubuhnya sehingga ia berlari masuk ke dalam kolam renang, walaupun ia tidak bisa berenang setidaknya rasa peri yang di rasakan hilang.
Aldalin menatap ke arah Jasmine yang terlihat kepala gadis itu keluar masuk kolam renang. Bahkan, juga mengibaskan tangan untuk meminta bantuan. Namun, Aldalin sama sekali tidak membantunya dan hanya melihat saja.
Jasmine sudah tidak bergerak lagi sehingga Aldalin mulai cemas dan masuk ke dalam kolam, lalu ia berenang dan mencari keberadaan Jasmine dia menemukan gadis itu dengan cepat dan membawanya naik ke atas.
Aldalin mencoba untuk menekan-nekan dada Jasmine agar memuntahkan air tetapi, gadis itu sama sekali tidak bereaksi sehingga ia terpaksa memberikan nafas buatan.
Para pelayan yang melihatnya langsung bergegas pergi karena mereka tidak ingin ketahuan, walaupun lebih tepatnya mereka malu melihat pemandangan seperti itu saat ayah dan anak berciuman.
Uhuk, uhuk.
Jasmine memuntahkan air yang ada di dalam mulutnya, lalu ia mulai menangis tersedu-sedu sambil menundukkan wajah.
"Kau menyusahkan aku saja! Sudah tahu tidak bisa berenang dan mala masuk ke dalam!" Aldalin bergegas pergi dari sana.
"Aku selalu salah, kenapa ayah harus menyelamatkan aku? Seharusnya membiarkan aku mati saja, daripada harus menderita setiap hari dan seumur hidup," ucap Jasmine sambil beranjak bangun.
Jasmine masih saja tidak bisa membendung air mata sehingga terus-menerus mengalir deras. Kini ia masuk ke dalam kamarnya dan berganti baju, ia mengenakan piyama lalu melihat jika perutnya semakin membuncit.
"Bagaimana ini? Jika sampai ayah tahu maka aku akan habis, sebaiknya jangan memakai baju sempit lagi dan mulai sekarang akan memakai baju yang besar saja." Jasmine bergegas untuk mengganti bajunya.
__ADS_1
Jasmine memakai mini dress yang terlebih lebih besar sehingga perutnya tidak terlihat, dan ia merasa aman untuk sementara waktu sampai dia bisa pergi dari mansion.
*
*
Tasya dan Gilang sudah berulangkali untuk menemui Jasmine di mansion Aldalin, mereka mendapat hasil yang sama tidak bisa menemui anaknya.
Sehingga mereka menyusun rencana untuk menjebak Aldalin di sebuah hotel, agar mereka bisa bersama dengan Jasmine buah hati mereka berdua.
"Rencana kita seperti itu, jika semua sudah tersusun rapi maka tidak akan segera melakukannya," ucap Gilang sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Tentu saja, sekarang juga kita akan mengabarinya untuk segera melakukan apa yang dia janjikan," sahut Tasya yang mulai mengirimkan pesan kepada Aldalin.
📥
[ Mas, aku menyetujui keinginan mu. Kita bertemu di hotel malam ini dan jangan lupa untuk membawa Jasmine juga, karena aku ingin mendapat anakku dan juga akan menyerahkan diriku pada mu.]
Aldalin tersenyum saat melihat pesan masuk dari Tasya, ia mulai berjalan menuju kamar Jasmine agar anaknya itu bisa bersiap-siap untuk menemui Tasya.
"Jasmine!" Aldalin berjalan masuk ke dalam kamar Jasmine.
Aldalin melihat Jasmine sedang merajut kaus kaki anak bayi, sehingga ia langsung mendekati gadis itu dan mengambil kaus kaki tersebut.
"Untuk, apa ini?" tanya Aldalin dengan pelan membuat Jasmine takut.
Jasmine bingung harus mengatakan apa kepada sang ayah, karena ia takut jika harus terus-menerus berbohong.
"Katakan!" bentak Aldalin membuat Jasmine harus berbohong lagi.
"Untuk, anak sahabat!" jawab Jasmine dengan cepat.
Aldalin merasa curiga akan sikap Jasmine padanya saat ini, karena tidak seperti biasanya gadis itu terlihat sangat gugup.
Bersambung.
__ADS_1