
Azam bersedih melihat sang kakak dan pujaan hatinya berlibur berdua. Namun, dia mendapatkan hal janggal dalam kepergian mereka karena tidak seperti biasanya.
'Ada apa dengan mereka? Tidak seperti biasa. Apakah ada sesuatu yang di sembunyikan oleh mereka berdua?' batin Azam penuh tanya.
Pria itu menghampiri sang ibu dan mencium tangan wanita yang sudah membesarkannya seorang diri.
"Bu, Azam pergi sekolah dulu. Eh, maksudnya kuliah," ucap Azam dengan cepat.
Bu Jima tersenyum melihat sang anak yang sudah tua masih kuliah, karena ingin meneruskan perusahaan sang ayah.
"Hati-hati, jangan lupa untuk mencari menantu untuk ibu," sahut Bu Jima sambil tersenyum.
Azam hanya mengangguk kepala, dan bergegas pergi dari sana bersama Samudra yang sejak tadi hanya diam, terlihat seperti sedang memukul beban berat.
Setelah sampai di luar, Azam menendang kaki sang keponakan sehingga Samudra terjatuh dan hanya diam. Tampak jelas pria itu sedang memikul bedan berat.
"Sam, apa kamu sedang memiliki masalah besar?" tanya Azam sambil melihat wajah sang ponakan bersedih.
"Paman, sebenarnya Sam memiliki masalah yang begitu besar," jawab Samudra lirih.
Azam langsung menarik tangan sang ponakan masuk ke dalam mobil, yang akan mengantarkan mereka ke Kampus. Setelah duduk Samudra meneteskan air mata yang sejak tadi di tahannya.
"Hei! Pria tidak boleh menangis," ucap Azam sambil menghapus air mata Samudra.
"Paman!"
Samudra menangis sambil menceritakan tentang dirinya yang bukan anak kandung Aldalin, hal itu membuat Azam bersedih pasalnya sang kakak terus mendapatkan pengkhianatan.
'Kasihan dia, sampai dua kali di selingkuhi istrinya dan kedua anak yang sudah di besarkannya bukan anak kandungnya,' batin Azam.
Samudra terdiam dan memikirkan tentang masalahnya yang satu lagi, dan hal itu tidak akan dia ceritakan pada sang paman. Sebab jika Azam tahu akan habis riwayatnya.
"Sudahlah Paman, semua sudah percuma saja! Sekarang kita juga bersaudara bukan?" tanya Samudra.
Azam mengangguk kepala dan kembali melanjutkan cerita mereka yang tertunda tadi. Namun, mereka membahas hal lain.
*
*
*
Nana berangkat ke kampus dengan sangat lemas, karena sang ibu tak kunjung sadar sejak kemarin. Hal itu membuatnya takut dan berpikir yang bukan-bukan.
Gadis itu duduk di bangku taman kampus dengan pandangan kosong. Telinganya mendengar tawa dan candaan orang di sana. Namun, dia hanya diam dan menangis.
__ADS_1
'Tuhan, selamatkan ibu,' batin Nana.
Azam dan Samudra baru sampai dan melihat Nana di bangku taman seorang diri dan gadis itu tengah menangis.
"Sam, ada apa sampai Nana menangis?" tanya Azam sambil terus menatap ke arah Nana.
Samudra menggelengkan kepala karena dia juga tidak tahu mengapa sang kekasih hati menangis. Sebab, mereka sudah lama tidak bertukar kabar.
"Kita datangi saja! Dia." Samudra dan Azam berjalan menghampiri Nana yang tengah manggis seorang diri.
"Nana!" Azam dan Samudra duduk di bangku itu membuat Nana berada di tengah-tengah mereka.
Gadis itu berhenti menangis dan memeluk sang kakak, sedangkan Samudra hanya diam karena tidak bisa berbuat apa-apa saat wanita pujaannya bersedih.
"Nana, katakan ada apa?" tanya Azam dengan sangat panik karena sang adik hanya menangis.
"Nana, jangan menangis lagi," ucap Samudra pelan.
Nana berhenti menangis dan melepaskan pelukannya, kemudian menatap wajah sang kakak.
"Kak Azam, ibu koma," ucap Nana.
Azam dan Samudra terkejut mendengar ucapan gadis itu, karena mereka berdua sama sekali tidak tahu hal itu terutama Azam.
"Bagaimana bisa?" tanya Azam.
Tanpa mereka sadari ternyata Difa memandangi wajah Samudra dari jauh dengan lirih.
"Beruntung gadis itu, karena ada dia pria yang menyukainya sampai seperti itu," ucap Difa sambil bergegas pergi dari sana.
*
*
*
Aldalin dan Jasmine masih di bandara menunggu jadwal penerbangan yang tertunda tadi. Entah mengapa mereka juga tidak tahu akan hal itu.
Kini pasangan suami-istri itu tengah duduk berdua di bangku tunggu dengan sangat mesra. Sebab Aldalin yang meminta hal itu. Sedangkan Jasmine hanya diam dan menerima saja karena dirinya juga bahagia.
"Mas Al, apa sesampainya kita di sana akan ..." Jasmine ragu meneruskan ucapannya.
Karena gadis itu takut mendengar jawaban dari Aldalin. Jasmine berpikir mereka akan berbulan madu di saja karena sejak hari pernikahan dia sama sekali tidak melayani suaminya dengan baik.
Aldalin mengetahui apa yang akan di ucapkan oleh Jasmine. Namun, dia ingin bermain-main dulu dengan istri kecilnya itu.
__ADS_1
"Akan, apa?" tanya Aldalin sambil menatap wajah sang istri.
Wajah Jasmine berubah memerah saat mendengar pertanyaan dari Aldalin, sehingga dia diam dan menggelengkan kepalanya.
"Ayolah katakan? Bagaimana aku menjawab kalau kamu tidak meneruskan ucapannya?" tanya Aldalin dengan senagaja agar gadis itu berbicara.
Jasmine tersipu malu dan dia langsung memeluk sang suami dengan erat, tanpa rasa malu di lihat banyak orang di sana.
Aldalin tertawa dan melepaskan pelukannya, karena dia belum selesai menggoda anak yang dari bayi sudah bersamanya dan sekarang menjadi istrinya.
"Ayolah katakan. Atau ... malam pertama. Ya?" Aldalin sengaja berucap terus terang karena ingin melihat wajah malu Jasmine.
Jasmine semakin malu mendengar ucapan Aldalin dan dia menganggukkan kepala dengan rasa malu-malu.
'Jantung jangan berdebar-debar seperti ini, kalau ayah mendengarnya bagaimana?' batin Jasmine.
Saat Aldalin hendak menggoda Jasmine lagi, penerbangan mereka sudah tiba sehingga semua orang masuk ke dalam pesawat begitu juga dengan mereka bersua.
Setelah sampai di dalam pesawat, mereka berdua hanya diam dalam pikiran masing-masing. Kecanggungan itu terjadi saat di luar tadi.
*
*
*
Difa duduk di bangkunya sambil bermain pulpen dan melukis wajah pujaannya, sontak dia langsung menghapus wajah itu.
"Astaga Difa, apa yang kau lukis?" tanyanya pada diri sendiri.
Karena sudah melukis wajah Samudra di bukunya. Gadis itu tidak menyadari bahwa orang yang tengah di lukis sejak tadi ada di sampingnya.
"Ya ampun Difa, bagaimana jika dia ada di sini dengan tiba-tiba seperti jin? Apakah lukisan ini juga bisa hilang dengan capat?" tanya Difa pada dirinya sendiri.
Samudra tersenyum dan terus saja menatap gadis yang tengah menghapus wajahnya, dan dia juga berpikir untuk apa Difa melukisnya.
'Untuk apa dia melukis wajah ku ini? Apakah dia menyukaiku?' batin Samudra dengan percaya diri.
Difa terkejut melihat adanya Samudra, sehingga gadis itu melompat dan menabrak Azam membuat mereka berdua terjatuh dan gadis itu menduduki pisang Ambon Azam.
"Astana! Ada yang tegak. Tapi, bukan keadilan!" jerit Difa sambil bergegas bangun.
Azam menahan rasa sakit di bagian pusakanya, sedangkan Samudra tak henti-hentinya tertawa melihat Difa ketakutan melihat pisang Azam bangun.
"Astaga Paman," ucap Samudra geli.
__ADS_1
Azam menatap tajam ke arah ponakannya dan gadis yang sudah membuatnya malu, karena sudah membeberkan pisangnya bangun.
...Bersambung....