Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 35 Calon menantu


__ADS_3

Aldalin melakukan aktivitas seperti biasa, setelah mandi langsung bersiap-siap menggunakan baju kerja, karena hari ini ia akan memperkenalkan Azam sebagai calon penggantinya.


Saat sedang menggunakan sepatu, ia teringat akan aktivitas Jasmine yang akan membuatkan sarapan seperti biasanya.


"Sepertinya aku harus menemuinya, karena aku sudah tidak mau melihat dia bekerja apapun di sini lagi. Entah mengapa sejak dia hamil anakku perasaan benciku sudah hilang padanya." Aldalin langsung bergegas pergi menuju dapur, untuk memastikan jika Jasmine tidak masakan sarapan.


Setelah sampai di dalam dapur, ia sama sekali tidak melihat adanya Jasmine. Sehingga ia langsung berjalan menuju kamar tamu.


Perlahan ia membuka pintu lalu ia cepat-cepat masuk ke dalam, terlihat jika Jasmine tidak ada di dalam.


"Di mana dia? Kalau tidak ada di dapur lalu dia ada di mana sekarang?" tanya Aldalin pada dirinya sendiri, dan mendengar suara Jasmine sedang muntah dari dalam kamar mandi.


Huek ... Huek ... Huek ...


Aldalin langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dan menghampiri Jasmine kemudian membantu gadis itu memijat tengkuk lehernya dengan perlahan.


Jasmine menoleh sekilas dan muntah kembali, karena ia mencium aroma parfum Aldalin yang sangat menyengat di hidungnya.


Setelah selesai muntah,Jasmine berjalan bersama Aldalin kembali ke dalam kamar dan duduk di bibir ranjang.


"Apa kita ke Dokter saja?" tanya Aldalin yang melihat wajah pucat Jasmine.


"Tidak, karena aku baik-baik saja," tolak Jasmine dengan halus.


"Baiklah, jangan lakukan apapun di mansion kamu hanya perlu istirahat saja. Aku akan pulang cepat hari ini." Aldalin memegang tangan Jasmine.


Sontak membuat Jasmine langsung menangkis tangan Aldalin, sehingga pria itu langsung bangun dari duduknya.


"Beristirahat saja, dan jangan lupa untuk minum susu mu! Aku pergi sekarang." Aldalin langsung bergegas pergi dari kamar Jasmine, karena merasa jika dia butuh memberikan waktu untuk gadis itu.


Jasmine menepuk keningnya karena lupa jika ia akan menyampaikan sesuatu pada sang ayah, dan kali ini dia gagal sehingga harus menunggu sampai malam hari saat ayahnya pulang.


"Lupa, kenapa juga bisa lupa sama tujuan soal aku yang tidak mau menikah dengan ayah," sesal Jasmine pada dirinya sendiri.


*


*

__ADS_1


Aldalin duduk di sofa sambil menunggu kedatangan Azam, ia meminta anak buah untuk merubah penampilan sang adik, karena ingin memperkenalkan sebagai penggantinya.


Bu Jima datang dan duduk di samping Aldalin sambil tersenyum manis, pria itu langsung mencium tangan bu Jima dengan sangat sopan.


"Ibu, istirahat saja dan jangan lupa makan karena makanan sudah siap dan ajak calon membantu Ibu juga," ucap Aldalin dengan senyuman manis di wajahnya.


Bu Jima tersenyum bahagia, ia bisa bersama dengan anak sambungnya yang sangat menyayangi dirinya dari dulu.


"Al, kamu itu sudah seperti anak ibu sendiri, dan juga tidak berubah sampai saat ini sangat sopan kepada ibu," sahut bu Jima dengan sangat lembut.


Aldalin tertawa kecil ia menatap wajah bu Jima sambil memegang tangannya.


"Dulu, Al selalu ingat kata ayah dia mengatakan jika dirinya ada di dalam diri Ibu. Al akan bersiap sopan kepada ibu," sambung Aldalin dengan cepat.


Saat mereka tengah berbincang datanglah Azam dari atas, Aldalin dan bu Jima sangat terpana akan ketampanan pria itu yang mengunakan jas.


"Bu, kami pergi dulu. Oh, ya. Samudra akan segera sampai dari luar kota karena dia mengurus pekerjaan semalam di sana, jika dia menemui Ibu ceritakan tentang kita." Aldalin bergegas pergi dari sana sedangkan Azam masih bersama dengan ibunya.


"Bu, jika Azam pergi Ibu bersama dengan Jasmine saja ya," pinta Azam pada Ibunya.


Setelah mereka duduk supir mulai melajukan mobil menuju Kantor.


"Azam, mulai besok kau harus kuliah dan memahami semua tentang perusahaan. Karena aku tahu jika kau tidak kuliah selama ini," ucap Aldalin dengan sangat pelan.


"Itu benar, aku akan kuliah dan setelah lulus aku akan memimpin perusahaan dan akak bisa beristirahat," sahut Azam dengan sangat keterpaksaan.


Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin menjadi seorang Presdir akan tetapi, ini semuanya ia lakukan untuk Jasmine.


'Jika bukan untuk Jasmine, aku tidak akan mau memimpin perusahaan dan kuliah kembali di umurku yang sudah tua ini,' batin Azam.


*


*


Samudra sedang di perjalanan menuju mansion, karena ia saat ini berada di luar kota. Semalam ada masalah yang sangat besar di luar kota sehingga ia harus pergi buru-buru.


Seharusnya ia juga belum pulang, karena ayahnya mengatakan jika sang nenek dan pamannya ada di mansion dia langsung segera pulang.

__ADS_1


"Aku tidak pernah tahu jika aku memiliki paman. Bahkan, aku juga tidak tahu jika nenek masih hidup bukannya makam nenek dan kakek bersebelahan?" tanya Samudra pada dirinya sendiri.


*


*


*


Bu Jima berjalan menuju meja makan, dan ia menyimpan makanan untuk Jasmine karena tahu, sejak tadi gadis itu belum keluar kamar juga membuatkan susu.


"Nyonya, seharusnya saya saja yang membuat susu dan menyimpan makanan untuk non Jasmine, kalau tuan tahu bisa di pecat saya," ucap bu Sinta sambil mendekati bu Jima.


"Tidak usah cemas, karena Al akan patuh dengan apa yang saya pinta," sahut bu Jima sambil meletakan susu yang ia buta di nampan.


Bu Sinta langsung mengambil nampan berisi makanan, kemudian berjalan dengan perlahan bersama mu Jima menunju kamar Jasmine.


Setelah sampai mereka langsung masuk ke dalam, terlihat Jasmine masih berada di tempat tidur dan bu Jima menghampiri gadis itu.


Sedangkan bu Sinta meletakan makanan di meja dan bergegas keluar, karena pekerjaannya masih sangat banyak jika tidak i akan menghampiri Jasmine juga.


Bu Jima mengelus-elus rambut Jasmine dengan sangat, dan gadis itu langsung terbangun karena pikir itu adalah Aldalin yang mengelus-elus rambutnya.


"Ibu," Jasmine langsung bangun dan memegang tangan bu Jima.


"Sudah bangun, cepat habiskan sarapan mu lalu minum susu," ucap bu Jima yang mengambilkan makanan untuk Jasmine.


"Terimakasih, Ibu sudah sangat baik kepada saya," ucap Jasmine dengan haru, karena ia berfikir jika bu Jima akan marah padanya. Sebab, ia sudah membohongi bu Jima.


Bu Jima tersenyum dan mengelus wajah Jasmine dengan lembut.


"Ibu tidak marah karena kamu tidak berjodoh dengan Azam akan tetapi, kamu berjodoh dengan Al," sahut bu Jima dengan senyuman manisnya.


Jasmine hanya bisa tersenyum saja saat ini, karena ia tidak mau membuat bu Jima kecewa akan keputusan yang ia ambil setelah ini.


Bersambung.


Mohon dukungannya ya, dengan cara tinggalkan jejak dan memberikan hadiah atau vote. Satu dukungan dari kalian semua sangat berarti untuk Author. 🙏

__ADS_1


__ADS_2