Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 39 Buah delima untuk Jasmine


__ADS_3

Saat sore hari tiba, ada satu mobil yang terparkir di halaman mansion Aldalin. Pelayan berbondong-bondong melihat apa yang datang.


Begitu juga dengan Jasmine, ia penasaran apa yang terjadi di halaman sehingga semua pelayan berlari. Sesampainya di halaman ternyata ada Aldalin yang sedang menurunkan satu keranjang besar.


"Jasmine, apa kamu menyukainya? Aku membawakan semua buah yang ada di rumah ibu?" tanya Aldalin sambil menatap ke arah Jasmine.


Sontak membuat Jasmine malu, karena semua pelayan menatap ke arahnya dengan sangat dalam.


'Ya ampun, aku malu jadi pusat perhatian seperti ini,' batin Jasmine.


"Pak Kumar, bawakan ini ke dalam dapur!" teriak Aldalin sambil menatap ke arah Pak Kumar yang berada di bos ronda.


Pak Kumar cepat-cepat berlari menghampiri Aldalin, ia langsung membawa buah satu keranjang penuh masuk ke dalam dapur.


Aldalin menghampiri Jasmine, kemudian ia memegang tangan Jasmine karena tahu gadis itu tidak akan menolaknya.


"Jasmine, ayo kita masuk ke dalam dan aku akan menyiapkan buah itu untukmu," ucap Aldalin sambil berjalan masuk ke dalam.


Jasmine hanya diam saja karena ia tidak mau sampai pelayan, menggosipkan diri yang menolak keinginan Aldalin.


*


*


Jhoni berada di gedung pernikahan untuk Aldalin dan Jasmine, ia harus melihat gedung pernikahan itu. Sebab, jika tidak lihat maka kerjasama dengan anak buahnya akan sia-sia saja.


Karena Aldalin tidak akan menyukai apa yang tidak Jhoni sukai, dan Jhoni juga tidak bisa berbohong pada Aldalin.


"Baik, semuanya bagus dan satu lagi aku ingin setelah mereka naik ke atas pelaminan. Para penari khas kota A mari, apa kau mengerti?" tanya Jhoni pada pemilik gedung pernikahan tersebut.


"Saya mengerti, walaupun tidak ada yang menarikan tarian khas kota A di sini. Saya akan membuat hal itu untuk pertama kalinya," ucap pemilik gedung pernikahan tersebut.


"Saya hanya ingin yang terbaik, untuk taun jika bisa pastikan tidak akan ada masalah sampai dua hari kedepannya," ucap Jhoni yang bergegas pergi dari sana.


"Baik, saya akan pastikan tidak akan ada masalah apapun itu," jawab pemilik gedung pernikahan tersebut.


Jhoni tersenyum. Entah apa yang membuatnya ingin sekali ada penari yang menarikan tarian khas kota A di acara pernikahan Aldalin dan Jasmine nantinya.


*

__ADS_1


*


Jasmine duduk di sofa ruang tamu, bersama dengan Aldalin yang sedang menyuapinya buah delima. Ia hanya diam saja karena juga meninggikan hal seperti ini.


'Mungkin ini yang di namakan nyidam, karena aku tidak mau bersama dengan ayah akan tetapi, hatiku menginginkannya,' batin Jasmine.


Bu Jima datang kemudian duduk di samping Aldalin sambil tersenyum manis.


"Al, rumah ibu sangat banyak buah. Karena dulu ayahmu pernah berpesan, jika ibu pergi dan meninggalkannya maka. Ibu harus menanam pohon di sekitar rumah," ucap Bu Jima sambil mengingat-ingat kembali pesan suaminya.


"Jika kau tetap ingin pergi, maka tanamlah pohon di sekitar rumahmu. Karena aku akan ada di sana setiap waktu."


Aldalin tersenyum karena ia juga mengingat kembali saat ayahnya berpesan hal yang sama.


"Bu, kita sama di sini juga banyak pohon buah karena Al selalu ingat pesan ayah," sahut Aldalin dengan senyuman.


Jasmine hanya diam saja sambil terus memakan buah delima, ia tidak tahu apa-apa tentang ayahnya Aldalin karena saat ia lahir sang ayah sudah tidak ada lagi.


"Jasmine, setelah kalian menikah ibu ingin kalian akur. Jangan menganggap Al ini sebagai ayahmu ... karena dia akan menjadi suamimu," ucap Bu Jima dengan sangat lembut.


Jasmine hanya bisa menganggukkan kepalanya, karena ia tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi dia tidak bisa menerima pernikahannya.


'Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dan ayah kedepannya. Aku sama sekali tidak bisa menerima kenyataan ini,' batin Jasmine.


Aldalin tersenyum sambil menatap wajah Jasmine, entah kenapa rasa bencinya pada gadis itu luntur dengan tiba-tiba.


'Rasanya aku ingin sekali memeluknya, apa karena dia sedang mengandung anakku? Sebab itu, aku ingin memeluknya?' batin Aldalin.


Aldalin dan Bu Jima bercerita tentang masa lalu mereka, yang sangat indah tidak bisa tergantikan sampai kapanpun.


*


*


Azam dan Samudra pulang dari kampus bersamaan, karena Azam menunggu Samudra selesai kuliah tadi.


Saat ini mereka berdua baru saja sampai rumah, betapa terkejutnya mereka melihat rumah sangat ramai orang.


"Paman, apa ada acara di sini?" tanya Samudra sambil terus menatap ke arah orang yang berlalu lalang.

__ADS_1


"Entahlah, sebaiknya kita masuk dan bertanya saja," jawab Azam sambil bergegas masuk ke dalam.


Samudra mengikuti langkah Azam dari belakang sampai dalam, meraka melihat adanya Aldalin di ruang tamu kemudian mereka menghampiri Aldalin.


"Ayah."


"Kakak."


Ucap Azam dan Samudra secara bersamaan, sontak membuat Aldalin langsung menoleh.


"Ada apa?" tanya Aldalin dengan pelan.


"Tidak ada, hanya saja kenapa rumah kita ini banyak orang apa akan ada acara?" tanya Samudra dengan sangat lembut.


"Iya, karena dua hari lagi ayah dan Jasmine akan menikah," jawab Aldalin.


Azam langsung terdiam kemudian ia bergegas pergi dari sana, karena hatinya terasa sakit mendengar ucapan Aldalin tadi.


'Kakakku akan menikahi dia, dan aku ini kenapa harus bersedih? Tidak seharusnya aku mencintai istrinya,' batin Azam.


Samudra menatap kepergian Azam dengan bingung, pasalnya pamannya itu juga penasaran akan apa yang terjadi. Kemudian pergi tanpa pamit padanya terlebih dahulu.


' Kenapa dia pergi? Apa ada yang salah dengan kata-kata ku atau ayah. Kenapa juga dia pergi tanpa pamit?' batin Samudra.


"Ayah, apa pernikahan Ayah tidak bisa di tunda?" tanya Samudra pada ayahnya, karena ingat kalau Jasmine tidak ingin menikahi ayahnya.


"Tidak, memangnya ada apa?" tanya Aldalin balik, karena ia penasaran kenapa anaknya menanyakan hal itu.


"Tidak ada, hanya saja kak Jasmine tidak bisa menerima Ayah sebagai suaminya," jawab Samudra dengan jujur.


Aldalin menaikan sebelah alisnya sambil menatap wajah Samudra.


'Ternyata dia juga bercerita kepada Samudra. Sebaiknya aku diam saja karena aku juga bingung akan situasi yangku hadapi saat ini,' batin Aldalin.


Samudra bergegas pergi karena sang ayah sudah mengibaskan tangan, yang artinya ia harus pergi dan tidak boleh berbicara atau mengatakan apapun.


Aldalin duduk di sofa sambil menatap kearah orang-orang yang sedang bekerja, memasangkan dekorasi di ruang tamu dan menghias mansionnya.


Karena ia ingin mansionnya terlihat cantik, saat ia dan keluarganya bersama-sama merayakan hari pernikahannya besok.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2