
Pagi hari ini, Jasmine sudah bersiap-siap ikut pergi bersama Aldalin ke pengadilan bertemu dengan ibu kandung yang selama ini tidak pernah menemui dia.
Jasmine tengah meminum susu yang di buatkan oleh sang suami yang mulai bucin padanya, dan ia sarpan bersama dengan keluarga kecilnya.
"Kak Jasmine, eh, Ibu atau kakak?" Samudra bingung harus memanggil sang kakak dengan sebutan apa.
Jasmine juga merasakan hal yang sama seperti Samudra, kemudian mereka saling menatap dan tersenyum.
"Bunda, ha itu saja," ucap Samudra dengan senyuman manisnya, membuat semua orang tertawa kecil. Terkecuali Azam karena pria itu merasa hampa sejak Jasmine dan sang kakak menikah.
Pria itu hidup. Namun, merasa seperti sudah mati karena dirinya sama sekali tidak di hiraukan siapapun yang ada di sana.
'Mereka sangat bahagia, melihat Jasmine dan Kak Aldalin. Tanpa memikirkan aku ini yang mencintai gadis itu,' batin Azam.
Aldalin sangat perhatian pada Jasmine. Namun, gadis itu sama sekali tidak menyukainya karena dia menganggap Aldalin ayah bukan suami.
Semua orang yang ada di mansion sangat bahagia bisa melihat Aldalin menyayangi Jasmine, tidak seperti sebelumnya pria itu selalu menghukum anak sambungnya itu.
Setelah kedua pengantin baru itu selesai sarapan, mereka berdua bergegas pergi dari mansion menuju kantor pengadilan.
Setelah kepergian sang kakak, Azam bersama dengan Samudra bergegas pergi menuju kampus karena hari ini ada panggilan untuk pria itu.
Kini mereka berdua sudah sampai di kampus, dan berjalan menuju ke ruangan dosen. Namun, langkah keduanya terhenti saat seorang wanita berteriak.
"Samudra, tunggu!" teriak Difa yang berlari menghampiri pria tersebut.
Samudra dan Azam langsung menoleh, melihat gadis remaja yang berlari menghampiri mereka.
"Samudra, Kau!" Difa menunjuk ke arah Azam yang ada di samping Samudra, membuat pria itu terkejut.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Samudra yang menatap wajah Azam dan Difa secara bergantian.
Difa menganggukkan kepala, kemudian menatap wajah Azam dengan sangat lekat. Gadis itu mengingat kembali pertemuan pertama dengan Samudra yang sama persis dengan Azam.
Gadis itu juga baru mengenal Samudra dari sang sahabat yang menceritakan tentang kisah hidup padanya.
__ADS_1
"Maafkan aku, karena kemarin aku mengerjai mu," ucap Azam dengan sangat lembut dan Difa menganggukkan kepala tanpa menjawab ucapan pria itu.
Samudra tersenyum melihat kedekatan sang paman bersama sahabat kakaknya, yang baru-baru saja ia ketahui karena Jasmine menceritakan jika tidak. Difa dan dia sama sekali tidak tahu tentang kehidupan pribadi.
*. *. *.
Tasya sudah berada di kantor pengadilan bersama dengan pengacaranya, mereka tengah menunggu kedatangan Aldalin bersama Jasmine.
Tasya sangat berharap dia bisa membawa Jasmine menemui sang suami, karena tahu kalau ia akan memenangkan kasus ini. Walaupun wanita paru paya itu tahu anaknya sudah menikah dengan mantan suaminya.
'Semoga saja aku memang, karena aku adalah ibu kandungnya dan dia sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan mas Al,' batin Tasya.
Tidak berselang lama, akhirnya yang di tunggu-tunggu sampai juga. Hati Tasya tersentuh dan meneteskan air mata karena melihat sang anak sudah hamil besar.
Ingin rasanya Tasya memeluk sang anak. Namun, terlihat jelas Jasmine menghindari darinya. Karena gadis itu selalu ada di sebalik tubuh Aldalin.
"Mari semuanya masuk," ucap pengacara Tasya, dan semuanya masuk ke dalam duduk si bangku masing-masing. Namun, Jasmine memilih duduk di samping sang suami walaupun tidak di perbolehkan.
'Bagaimana ini? Jika aku tidak berhasil membawanya, maka mas Gilang akan selalu bersedih sampai akhir hayatnya,' batin Tasya lirih.
Tasya ketar-ketir mendengar ucapan Aldalin, dan dia sama sekali tidak memiliki bukti dan di tambah lagi anaknya sudah menikah dengan pria itu.
"Kami sudah memutuskan, kalau hak asuh ini sudah tidak ada lagi. Kalian selaku orang tua harap bijak dalam hal ini."
Aldalin tersenyum simpul, karena sudah pasti Jasmine tidak akan mau ikut dengan mantan istrinya yang sekarang sudah menjadi ibu mertuanya.
"Jasmine, ibu mohon temuin ayahmu ... dia sedang koma di rumah sakit untuk yang terakhir kalinya," pinta Tasya pada sang anak.
"Mas Al, kita pulang sekarang," ucap Jasmine sambil menarik-narik ujung baju sang suami, dan pria itu tersenyum kemudian mendekati Tasya.
"Karma itu ada, dan tepat sasaran. Kalian boleh melukai aku dulu dan sekarang kalian yang merasakan hal itu!" Aldalin bergegas pergi dari sana bersama dengan Jasmine.
Tasya menangis tersedu-sedu sampai dia jatuh ke lantai. Bagaimana tidak sedih anak kandungnya sama sekali tidak mau di peluk dan menemui sang suami.
'Ini adalah karma untukku. Tapi, apa salahnya kalau aku ingin Jasmine menemui mas Gilang untuk yang terakhir kalinya,' batin Tasya.
__ADS_1
Tasya berpikir hanya Samudra yang bisa membantunya, sehingga ia mendapat ide agar Jasmine bisa menemui sang suami.
*. *. *.
Jasmine sangat sedih mendengar ayah kandungnya koma. Namun, dia masih belum bisa melupakan apa yang sudah terjadi padanya, itu adalah ulah dari sang ayah dan ibunya.
Gadis itu menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang suami. Menuangkan kesedihannya saat melihat wanita yang tidak pernah menyayanginya.
'Aku sedih mendengar ayah kandungku koma. Namun, hati ini belum bisa melupakan semua perbuatan mereka, sampai aku menjadi korban seperti saat ini. Menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cinta,' batin Jasmine.
Aldalin puas dengan apa yang di lihatnya, karena dia sama sekali tidak meminta Jasmine melakukan hal itu. Hatinya bersorak-sorak girang karena kehancuran mantan istrinya.
'Karma sudah datang bukan, ibu mertuaku,' batin Aldalin.
*. *. *.
Setelah berkenalan, Azam dan Difa bertukar nomor ponsel agar mereka bisa berkomunikasi walaupun tidak di kampus. Semua itu adalah permintaan dari Samudra.
Samudra sengaja meminta hal itu, karena dia ingin menjodohkan sang paman dan Difa sahabat kakaknya yang baik di matanya.
'Semoga mereka bisa jadian, seperti aku dan Moana atau Nana,' batin Samudra.
Difa merasa tidak nyaman berdekatan dengan Azam sampai bertukar nomor ponsel, karena ia tidak bisa menolak keinginan Samudra sebab dia sangat mencintai pria itu.
Samudra sama sekali tidak tahu kalau Difa menyukainya, sebab itu dia menjodohkan gadis itu dengan sang paman duda tampan itu.
Bersambung.
Hai, Author datang lagi ni menyapa kalian semua. Apa kabar semua. Semoga kalian semua sekali sehat ya.
Pembaca." Tor, kasihan Jasmine terus ingat malam kelam itu.ðŸ˜"
Author." Sabar Kak, habis hujan akan datang pelangi.ðŸ¤"
Pembaca. "Jangan sedih-sedih. Ya, Thor."
__ADS_1
Author." Siap kakak."