
Pagi ini Tasya dan suaminya mendatangi mansion Aldalin, karena mereka ingin segera bertemu dengan Jasmine. Walaupun mereka tahu jika Aldalin tidak akan mengizinkan mereka.
"Mas, ini mansion mas Al, banyak sekali pengawal sampai-sampai jarak yang masih jauh sudah ada. Aku jadi tidak yakin dapat menemui anak kita," ucap Tasya sambil melirik ke arah semua pengawal mansion Aldalin. Gilang memegang tangan Tasya kemudian ia tersenyum.
"Jangan khawatir, kita coba saja dulu jika tidak berhasil kita akan memikirkan cara lain," sahut Gilang.
Tasya tersenyum kemudian mereka mulai berjalan menuju gerbang mansion Aldalin.
"Mau, apa kalian?" tanya sang pengawalan yang berjaga di depan gerbang.
"Kami ingin, bertemu dengan tuan mu," jawab Gilang dan pengawal tersebut langsung menelpon tuan Aldalin.
Tak berselang lama akhirnya Aldalin keluar dan menghampiri mereka dari dalam gerbang.
"Sebaiknya kalian pergi saja dari sini! Sebelum aku bersikap kasar pada kalian dan anak mu!" ucap Aldalin yang sedikit menekan suaranya pada kata anak mu tadi.
"Mas, aku mohon jangan seperti ini berikan aku kesempatan untuk menemui dia," sahut Tasya dengan sangat lirih.
Aldalin tersenyum simpul kemudian ia menatap ke arah Gilang dan menaikan sebelah alisnya.
"Jelaskan pada dia! Apa permintaan ku waktu itu," ucap Aldalin sambil tersenyum simpul.
Tasya langsung menatap ke arah sang suami, karena Gilang tidak pernah bercerita apapun padanya tentang permintaan dari Aldalin.
"Apa, itu?" tanya Tasya sambil menatap ke arah sang suami yang ada di sampingnya.
Gilang hanya diam saja karena tidak bisa menjelaskan apa permintaan dari Aldalin padanya.
"Cik, ternya kau tidak memberitahu dia sebaiknya kalian pergi saja!" Aldalin langsung bergegas pergi dari sana.
"Mas Al, tunggu!" teriak Tasya.
Aldalin tidak memperdulikan teriak dari sepasang suami istri tersebut, sehingga langsung masuk ke dalam mansionnya.
"Al!"
"Mas Al, kami belum selesai!"
Tasya dan Gilang terus-menerus berteriak-teriak sehingga mereka berdua di usir oleh pengawal.
__ADS_1
Jasmine mendengar suara keributan dari dapur yang sedang membuat sarapan untuk sang ayah, ia sangat penasaran sehingga berjalan menuju luar saat akan keluar ia terkejut, melihat ayahnya masuk ke dalam dan mereka saling bertatapan.
'Jangan sampai dia keluar, lalu dia melihat adanya ja-lang itu!' batin Aldalin.
Jasmine bingung mau berbuat apa sehingga hanya menunduk wajah saja.
'Bagaimana ini, jika ayah bertanya aku akan kemana dan aku harus menjawab apa?' batin Jasmine.
"Mau, pergi kemana kau?" tanya Aldalin dengan ketus. Jasmine langsung menatap wajah sang ayah.
"Melihat luar karena ada beberapa bunga yang layu," jawab Jasmine dengan asal, sehingga Aldalin merasa curiga akan sikapnya.
'Aku yakin ini hanyalah asalan dia saja, sebenarnya dia ingin melihat keributan apa tadi di luar,' batin Aldalin.
"Sarapan, sudah siap?" tanya Aldalin yang mengalihkan pandangan Jasmine, agar wanita itu tidak melihat ada apa di luar.
"Sudah, apa sekarang Jasmine bawakan ke dalam kamar Ayah?" jawab Jasmine.
Aldalin menganggukkan kepala kemudian bergegas pergi dari sana, karena ia sudah tidak mendengar suara Tasya dan Gilang lagi.
Jasmine sudah tidak mendengar suara orang berteriak sehingga ia langsung pergi ke dapur, lalu membawa nampan berisi sarapan untuk sang ayah dengan perlahan karena ia tiba-tiba merasa pusing.
Jasmine perlahan masuk ke dalam kamar sang ayah dan langsung menaruh nampan di meja. Seperti biasa dia membereskan kamar ayahnya.
Saat Jasmine hendak pergi langkahnya terhenti saat sang ayah memanggilnya.
"Tunggu!"
Jasmine langsung menatap wajah sang ayah dengan rasa takut, sehingga ia tiba-tiba pingsang dan terjatuh ke lantai membuat Aldalin terkejut.
"Jasmine!"
Aldalin langsung menghampiri Jasmine dan menggendong tubuh gadis itu ke tempat tidurnya, kemudian ia mengoleskan minyak kayu putih ke hidung anak gadisnya itu.
Aldalin juga mengoles minyak kayu putih pada bagian perut Jasmine karena, gadis itu memakai kaus yang memudahkan dia untuk melakukannya.
Perlahan Jasmine membuka kedua mata yang terasa berkunang-kunang dan ia menatap ke arah sang ayah, yang ada di hadapannya. Gadis itu cepat-cepat bangun karena saat ini berada di tempat tidur ayahnya.
"Maaf Ayah, jika tidak ada lagi Jasmine keluar karena masih banyak pekerjaan," ucap Jasmine, dengan sangat kuat padahal ia merasa sangat lemas dan pusing karena muntah tadi.
__ADS_1
"Tidak ada, aku hanya ingin mengatakan jika pekerjaan mu bagus dan sarapan kali ini bagus. Besok-besok buatkan saja salad untuk ku," ucap Aldalin.
Aldalin bergegas bangun kemudian ia duduk di depan meja.
"Baik, kalau begitu Jasmin pergi dulu," ucap Jasmine dengan terburu-buru, karena ia takut membuat kesalahan lagi dan akan dihukum.
Jasmine bernafas lega sang ayah sama sekali tidak marah padanya, karena pagi ini ia membuatkan sarapan salad saja. Sebab ia merasa sangat mual jika harus memasak makanan.
'Untungnya ayah tidak tahu, jika aku membuat salad karena aku merasa sangat mual. Mungkin asam lambung ku kambuh lagi,' batin Jasmine.
*
*
Tasya menangis tersedu-sedu karena gagal untuk menemui anaknya yang sudah sangat di cemaskan.
"Katakan, apa yang di minta oleh Al?" tanya Tasya yang melihat sang suami yang sedang menyetir mobil.
"Tidak, karena itu tidak akan pernah terjadi!" jawab Gilang tanpa melihat Tasya sedikitpun.
"Anak kita menjadi korbannya, dan Mas sama sekali tidak mau berkorban karena kesalahan kita juga!" seru Tasya.
Gilang langsung menghentikan mobilnya di tepi jalan lalu menatap wajah Tasya.
"Al mengatakan, jika kita mau Jasmine bebas dia ingin tidur bersama mu satu malam saja dan anak kita akan bebas," ungkap Gilang.
Tasya menutup mulut menggunakan tangan kemudian meneteskan air matan, karena ia juga tidak mau tidur dengan Aldalin. Sebab mereka bukan suami-istri lagi.
"Bagaimana ini? Tapi, tidak mungkin jika aku melakukannya?" tanya Tasya sambil mengisi nasib anaknya.
"Aku akan mencari jalan, agar kita bisa menyelamatkan Jasmine darinya," jawab Gilang dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.
*
*
Sejak tadi Samudra ada di balkon kamar sehingga ia melihat jika sang ayah mengusir ibunya tadi, dan dia mencari cara agar bisa membantu kakaknya.
"Sepertinya aku harus mencari jalan, agar kak Jasmine bisa bebas dari ayah dan bisa hidup bahagia selamanya," ucap Samudra yang masih berdiri di balkon sambil menatap ke arah jalanan.
__ADS_1
Bersambung.