
Azam menahan tawanya, agar tidak pecah. Sebab, ia tidak enak menertawakan Difa yang masih ada dihadapannya.
"Om Azam, pinjamkan aku bajumu, untuk menutupi celanaku," ucap Difa dengan panik.
Azam langsung melepaskan bajunya dan, memberikan pada Difa, kemudian gadis itu mengenakan baju tersebut.
"Terima kasih, kalau begitu mari antara aku pulang," ucap Difa dengan lembut.
"Baik. Kak Al, kami pergi dulu," ucap Azam lembut.
Aldalin menganggukan kepala, kemudian Azam dan Difa bergegas pergi dari sana sambil melambaikan tangannya.
Sesampainya di dalam mobil, mata Difa melirik ke arah mobil yang ada di sampingnya, terlihat sosok pria yang semalam membantunya ke luar dari dalam mobil.
'Ya ampun, itu om yang semalam dan, sepedaku juga masih ada bersamanya,' batin Difa.
Difa langsung bergegas turun dan, Azam hanya melihat, sebab ia mengira gadis itu ingin mengambil barang yang tertinggal.
"Om!" teriak Difa.
Jhoni langsung menoleh dan, tersenyum kenapa Difa, sebab gadis yang ada di hadapannya terlihat lucu.
"Maaf ya Om, saya tidak sopan. Tapi, sepeda saya masih ada bersama Om," ucap Difa lembut.
__ADS_1
Jhoni tersenyum, karena dia juga baru sadar kalau sepeda gadis itu masih bersamanya dan, dia pun menghampiri Difa.
"Maafkan aku, karena semalam aku lupa menurunkan sepeda mu," ucap Jhoni lembut.
Difa menganggukan kepala, kemudian dia pun bergegas masuk ke dalam mobil Azam, sebab Jhoni ingin memperbaiki sepedanya.
"Kamu kenal sama dia?" tanya Azam sambil terus menatap ke arah Jhoni.
"Iya, memangnya ada apa?" tanya Difa santai.
Azam hanya diam, karena dia tahu Jhoni tengah kesepian dan, mencari pendamping hidupnya.
'Kalau dia menyukai Difa, yasudah lah, aku juga tidak menyukainya,' batin Azam.
. . .
Aldalin memeluk dan mencium sang istri dengan lembut, karena dia sangat khawatir akan keadaan gadis itu.
"Mas, kalau ada yang lihat gimana?" tanya Jasmine dengan lema.
"Aku tidak peduli," jawab Aldalin cepat.
Jasmine hanya bisa menghela nafas panjang, karena sang suami tidak akan menanyakan ucapannya.
__ADS_1
"Kamu tahu? Semalam, aku sangat mencemaskan keadaan mu, sebab kamu mengeluarkan banyak darah," ucap Aldalin lirih.
Pria itu sangat takut, kalau Jasmine dan anaknya pergi dari kehidupannya untuk selama-lamanya.
"Mas, kami berdua kuat dan, tidak mungkin kami pergi dari kehidupan Mas, karena kita berlima akan bersama-sama," sahut Jasmine lembut.
Aldalin kembali mencium Jasmine, kali ini ia mencium-nya dengan lama dan, pada saat itu juga Jhoni masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Cklek!
Sontak, Aldalin langsung melepaskan ciumannya dan, ia menatap tajam ke arah sang asisten.
"Maaf, jika aku menggangu kalian, sebab ada masalah yang penting aku harus bicarakan pada Tuan Al," ucap Jhoni lembut.
Aldalin tersenyum, karena dia sudah menganggap Jhoni sebagai adiknya, karena pria itu selalu ada bersamanya, walaupun keaannya sedang tidak baik-baik saja.
"Jhon, aku sangat senang bisa melihat mu seperti ini lagi, tidak terpuruk dalam kesedihanmu," ucap Aldalin lembut
Aldalin mendekati Jhoni dan, ia pun memeluk pria itu dengan lembut, membuat Jasmine tersenyum, sebab ia melihat sisi baik pria yang selama ini menjadi ayahnya.
'Kenapa ayah berubah, karena ibu jawabannya, suamiku bersikap jahat, karena dirinya tersakiti oleh wanita, yang benar-benar sangat dicintai,' batin Jasmine.
BERSAMBUNG.
__ADS_1