
Mohon Maaf, saya tidak bisa update sudah beberapa bulan ini karena menghadapi banyaknya masalah. Saya sampaikan, sekarang dan seterusnya novel ini akan update Santai, sampai Tamat!
Heppy Reading ....
Sesampainya di rumah, Aldalin dan Jasmine langsung masuk ke dalam kamar. Sebab, gadis itu merasa sangat lelah. Sedangkan Azam dan sang ibu, masih di ruang tamu.
"Bu, Azam pergi dulu," ucap Azam dengan sangat lembut pada sang ibu.
Jima hanya menganggukkan kepala, karena dia tidak ingin melarang sang anak pergi. Sebab, tahu hati putranya sekarang sedang tidak baik-baik.
'Aku tahu anakku itu seperti apa. Sebab, dia sama persis seperti ayahnya dulu,' batin Jima lirih.
Wanita paruh baya itu, kembali mengingat suaminya yang sudah meninggal dunia. Jima merasa sangat bersalah karena tidak ada saat sang suami meninggal dunia beberapa tahun lalu.
. . .
Jasmine menidurkan tubuhnya di atas ranjang dan, Aldalin menghampirinya kemudian mencium seluruh wajahnya.
"Mas, hentikan!" pinta Jasmine.
Namun, Aldalin tidak ingin menghentikan aktivitasnya dan, semakin mencium sang istri hingga ciuman itu berubah menjadi lahapan.
__ADS_1
"Mas!" kesal Jasmine.
Sambil mendorong tubuh sang suami, karena pintu kamar mereka belum di kunci. Gadis itu takut ada yang melihat mereka, apa lagi ada Nana di rumah mereka.
"Ada apa?" tanya Aldalin dengan heran.
Sebab, sang istri mendorong tubuhnya dengan kasar. Jasmine menunjuk ke arah pintu kamar dan, pria itu langsung bergegas pergi untuk mengunci pintu.
Setelah selesai, Aldalin langsung menghampiri sang istri dan melahap setia inci tubuh Jasmine, sampai gadis itu mengeluarkan suara historisnya tanpa rasa malu.
"Kita mulai?" tanya Aldalin dengan sangat menggoda di mata Jasmine.
Gadis itu malu-malu dan menganggukkan kepala, kemudian Aldalin langsung memasukan Kris Jaka Tarub miliknya ke dalam gua lele Jasmine.
. . . .
Nana diam di dalam pelukan Samudra, karena dia masih sangat terpukul atas kepergian sang ibu untuk selamanya. Padahal, ia berharap wanita paruh baya itu bisa sembuh dan berkumpul dengan keluarga kecilnya nanti.
"Sayang," panggil Samudra dengan lembut, sambil mengelus-elus rambut Nana.
"Ya," jawab Nana singkat, karena dia masih bersedih.
__ADS_1
"Jangan bersedih lagi! Sebab, kasihan ibumu di sana, dia pasti akan menangis melihat anaknya sedih," ucap Samudra dengan lembut dan, Nana hanya diam.
"Kamu tahu? Kalau, ibumu di sana sudah baik dari sakitnya. Bahkan, dia tidak akan merasakan sakit seperti ada di dunia ini. Apakah kami tidak menyukai ibumu sembuh?" tambah Samudra.
Nana terdiam, karena apa yang diucapkan oleh Samudra semuanya bener, sang ibu sudah tenang di sana dan, tidak merasakan sakit lagi.
"Tapi, aku masih sangat sedih. Karena, aku ingin selalu ada di samping ibuku," sahut Nana lirih.
Samudra langsung cium puncak kepala Nanan dan, juga mencium tangan gadis itu, agar jauh lebih tenang dari sebelumnya.
'Samudra adalah pria baik, karena dia sabar menemani ku yang tengah bersedih dan, juga membuat aku tenang,' batin Nana.
Gadis itu semakin erat memeluk Samudra, karena dia merasa sangat nyaman berada dalam pelukan sang kekasih.
'Aku harpa, Nana bisa cepat melupakan ibunya, karena Tante Nandini sudah tenang di alam sana,' batin Samudra.
Pria itu kembali mengelus kepala sang kekasih, sehingga Nana tertidur pulas. Sebab, dia merasa sangat lelah, kalau sejak kemarin tidak beristirahat sama sekali.
"Kasihan dia, pasti tubuhnya sangat lelah," gumam Samudra sambil membenarkan posisi tidur Nana.
Setelah selesai, Samudra tidak beranjak bangun melainkan terus menatap wajah Nana dengan sangat intens. Sebab, ia ingin gadis yang ada di hadapannya menjadi istri dan ibu dari anak-anakku kelak.
__ADS_1
BERSAMBUNG.