Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 24 Kepergian Jasmine


__ADS_3

Jasmine menyusun barang-barangnya ke dalam tas besar karena malam ini juga, akan berangkat ke kota yang memiliki suasana indah.


Ya, walaupun Jasmine merasa sedih harus pergi dengan cara diam-diam. Karena ia tidak mau sampai sang ayah atau siapapun mengetahui kepergiannya.


'Semoga saja tidak ada yang tahu aku pergi kemana, karena aku sudah benar-benar tidak sanggup jika harus seperti ini. Walaupun ayah sudah mulai baik padaku dan calon anakku,' batin Jasmine.


Air mata Jasmine meluncur dengan deras tanpa izin darinya, ia menangis tersedu-sedu saat mengingat kembali kejadian tadi saat bersama dengan sang ayah.


Flashback on.


Jasmine kembali menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang ayah. Sontak saja membuat Aldalin terkejut pasalnya ia tidak mengatakan apapun.


Perlahan Aldalin melepaskan pelukannya lalu menatap ke arah Jasmine sambil menghapus air mata yang mengalir deras di pipi gadis itu.


"Jasmine, aku tidak mengatakan apapun? Lalu, kenapa kau menangis?" tanya Aldalin menatap ke arah Jasmine.


Jasmine menghentikan tangisan lalu ia menghapus air matanya dan mulai menatap wajah sang ayah, karena ia kurang yakin jika yang ada di hadapannya saat ini ayahnya.


"Apa ini Ayah? Bukankah Jasmine ini anak yang selalu Ayah benci? Lalu, untuk apa membawa Jasmin pulang lagi?" tanya Jasmine dengan sangat lirih.


Kata-kata itu membuat hati Aldalin nyeri karena ia kembali mengingat saat dirinya memperlakukan Jasmine.


Malah lebih banyak ia membuat Jasmine bersedih dan tersiksa, bukan hanya hati yang ia sakit, juga hidup gadis itu dan raga Jasmine terluka karenanya.


"Maaf, jika kita sudah pulang dan berdua di rumah maka aku akan bercerita kepada mu," jawab Aldalin dengan sangat lembut.


Lagi-lagi air mata Jasmine lolos begitu saja dari kelopak matanya, ia tidak bisa menjawab ucapan sang ayah lagi. Sehingga dia berlari masuk ke dalam dan mengunci pintu rumah.


"Jasmine!" teriak Aldalin sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah Jhoni.


Jasmine menangis tersedu-sedu di sebalik pintu ia masih bisa mendengar jelas, ucapan sang ayah dari luar yang memintanya untuk membuka pintu.


"Jasmine, dengarkan aku dulu!" teriak Aldalin sambil terus mengetuk-ngetuk pintu rumah Jhoni.


Jasmine tidak bisa menjawab sehingga ia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya, dengan tangisan yang tak ada henti-hentinya.


Flashback off.

__ADS_1


Jasmine menghela nafasnya dalam-dalam, lalu ia menuliskan surat untuk Jhoni karena dia tidak bisa berpamitan langsung. Yang sudah jelas akan melarangnya untuk pergi dan harus menetap.


Dari Jasmine.


[ Om, saya sangat berterimakasih atas tumpangan salam beberapa bulan ini. Katakan pada ayah jika saya akan baik-baik saja.]


Setelah menulis surat Jasmine langsung bergegas tidur karena ia merasa mengantuk lagi pula, dia juga akan pergi di tengah malam ini untuk kabur.


*


*


Malam ini Samudra akan berangkat menuju kota A yang berada lumayan jauh dari kotanya berada, ia ke sana karena ingin berlibur bersama dengan dua temannya.


Kini mereka sudah bersiap-siap dan langsung berangkat dengan mengunakan mobil pribadi mereka.


"Sam, jika sudah sampai di sana kita ke pantai lalu bermain voli bersama," ucap Rangga yang sedang mengemudikan mobilnya.


"Tentu saja, kalian ini bagaimana bukankah kita datang untuk bersenang-senang? Lalu, berpesta di sana," sambung Samudra dengan sangat bersemangat.


Meraka terus-menerus bercerita bersama sehingga mereka sampai di kota A dengan selamat.


*


*


Pada malam hari saat Jhoni pulang ia ingin menghampiri Jasmine karena ada yang ingin di membicarakan kepada gadis itu.


Tapi, sayang Jasmine tidur sehingga ia menunda keinginannya sampai besok pagi saat gadis itu sudah bangun.


Jhoni duduk di bibir ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya dengan lirih, ia juga memikirkan tentang Jasmine dan Aldalin yang menurutnya sangat rumit.


"Andai saja aku dan anakku itu bertemu, pasti dia sudah seumuran dengan Jasmine dan juga sudah menjadi gadis remaja," ucap Jhoni sambil mengingat-ingat kembali wajah bayi putrinya.


Ya, begitu nasib Jhoni yang di tinggal pergi oleh istri dan anaknya yang masih bayi karena ia hanya laki-laki miskin, saat ini kehidupannya sudah sangat lumayan. Menerima uang sekitar lima ratus juta yang hanya menjadi asisten saja.


Kadang ia bisa menerima uang tiba-tiba senilai satu miliar, tergantung hasil dari pekerjaannya.

__ADS_1


Jhoni mengingat saat ia menjadi tukang ojek yang sehari cuma membawa uang seratus ribu saja, hal itu membuat istrinya meninggalkan dia karena hanya laki-laki miskin.


*


*


Jasmine terbangun dan melihat jam yang sudah tengah malam, ia langsung bersiap-siap. Gadis itu mengenakan jaket dan kaus kaki karena malam ini sangat dingin.


Setelah selesai Jasmine menaruh surat yang ia tulis tadi di meja kemudian mulai bergegas pergi dari rumah Jhoni.


Jasmine membawa tas besar yang berisikan baju-bajunya dengan sangat kesulitan, hal itu tidak membuatnya menyerah ia terus berjalan menuju stasiun bis yang tidak jauh lagi.


Setelah berjalan kurang lebih lima belas menit akhirnya ia sampai juga, Jasmine langsung membeli tiket untuk keberangkatan tercekat.


Setelah ia membeli tiket dan jadwal keberangkatannya tinggal setengah jam lagi, sehingga Jasmine langsung masuk ke dalam dan duduk di bangkunya.


Jasmine duduk dengan seorang pria tampan yang terlihat sangat cuek dan dingin, karena wajah laki-laki itu tidak memperlihatkan ekspresi sama sekali. Dari situlah Jasmine mengambil kesimpulan jika pria itu dingin dan cuek.


Saat ia tengah duduk santai sambil memejamkan matanya, laki-laki tersebut menyenggol perutnya karena pria tersebut sedang tidur.


"Aaahhhkkk!" jerit Jasmine saat pria itu menyenggol perutnya.


"Perutku sakit sekali!" jerit Jasmine lagi sontak saja membuat semua orang langsung menghampirinya.


"Ada apa, Nona?" tanya salah satu penumpang di sana dan laki-laki tersebut langsung bangun.


"Perut saya sakit, karena dia tadi yang menendang!" jawab Jasmine sambil menunjuk ke arah laki-laki yang ada di sampingnya.


"Anda hamil?" tanya salah satu penumpang di sana dan Jasmine menganggukkan kepalanya.


"Hei! Anak muda, kau harus bertanggung jawab karena dia sedang hamil. Bukankah kau yang membuatnya sakit perut?" ucap salah satu penumpang di sana.


Laki-laki tersebut langsung mengangguk kepalanya lalu menatap ke arah Jasmine.


"Maaf, boleh aku memegang perut mu agar rasa sakitnya menghilang?" ucap laki-laki tersebut dan Jasmine menganggukkan kepala.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2