Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 38 Samudra bertemu dengan Samudra


__ADS_3

Jhoni bergegas pergi dari Bar setelah kepergian Aldalin, langsung buru-buru pulang ke rumahnya. Sebab, ia ingin menghabiskan malam bersama dengan Nandini wanita yang sangat di cintai.


Setelah sampai di rumahnya, ia bergegas masuk ke dalam kamarnya karena ia tahu jika Nandini ada di dalam kamar.


Ceklek!


Jhoni masuk, dan melihat Nandini sedang membereskan kamarnya yang lumayan berserakan. Dengan perlahan ia mulai berjalan mendekati sang istri.


Jhoni memeluk Nandini dengan lembut sambil mencium tengkuk leher Nandini, kemudian tangannya bergerak ke arah baju sang istri. dan membuka tali pengaman gunung kembar.


"Jhoni, kita sudah tau." Nandini menahan tangan Jhoni yang akan melepaskan pakaiannya.


Jhoni tersenyum kemudian ia langsung menyambar bibir Nandini, yang sudah lama sekali tidak di rasakan.


Jhoni membawa tubuh Nandini ke atas tempat tidur, tanpa melepaskan ciuamnya.


*


*


Pada pagi hari ini, Azam akan pergi bersama dengan Samudra ke kampus untuk mendaftarkan dirinya.


Semua keluarga Aldalin sarapan bersama di meja makan, yang terlihat sangat banyak menu makanan di sana.


"Bu, Azam pergi dulu," ucap Azam sambil mencium tangan sang ibu dengan sangat lembut, dan matanya melirik ke arah Jasmine yang ada di samping ibunya.


"Hati-hati," sahut Bu Jima dengan sangat lembut.


Samudra mencium tangan ayahnya dan juga neneknya, kemudian ia pergi bersama dengan Azam karena mereka akan terlambat jika terlalu lama perginya.


Aldalin menatap ke arah Jasmine yang masih menyantap sarapannya, ia juga melirik perut gadis itu yang sudah terlihat menonjol. Rasanya ingin sekali mengelus perut buncit itu. Akan tetapi, itu akan sulit baginya.


'Kenapa rasanya aku, ingin sekali mengelus-elus perut Jasmine itu yang sudah terlihat menonjol,' batin Aldalin.


Aldalin melanjutkan kembali sarapannya, sambil terus menatap wajah Jasmine yang kian bersinar.


"Bu, Jasmine ingin sekali memakan buah delima yang ada di rumah Ibu," ucap Jasmine dengan tiba-tiba.


Bu Jima menatap ke arah Aldalin kemudian menatap wajah Jasmine, ia juga memegang tangan gadis itu dengan lembut.


"Sayang, bisakah buah delima yang lain saja? Sepertinya yang ada di tokoh buah misalnya," sahut Bu Jima dengan sangat lembut.


Jasmine memasang wajah sedih, kemudian mulai meneteskan air matanya. Entah mengapa ia ingin sekali memakan buah delima yang ada di sana.


Aldalin langsung beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan Jasmine.


"Jangan bersedih, karena apa yang kamu inginkan akan terpenuhi. Aku akan mencari buah itu meskipun sampai di tanah suci sekalipun," ucap Aldalin sambil memegang tangan Jasmine.

__ADS_1


Jasmine langsung menatap wajah Aldalin, entah mengapa saat Aldalin ingin memenuhi keinginan. Ia seakan ingin berlompatan girang seperti anak kecil.


"Terimakasih Ayah," ucap Jasmine sambil melepaskan tangannya.


"Al, jika ada yang ke sana ambilkan semua buah yang sudah masak karena buah di sana sangat enak. Jasmine akan menyukainya," sambung Bu Jima sambil tersenyum.


Aldalin mengagungkan kepalanya, kemudian ia bergegas pergi dari sana dengan hati yang sedikit bahagia. Karena melihat senyum yang mengembang di wajah Jasmine.


'Aku akan mengutus anak buah, untuk memenuhi keinginan Jasmine yang artinya keinginan anakku juga,' batin Aldalin.


*


*


Azam dan Samudra sudah selesai mendaftarkan dan, Azam akan masuk kuliah beberapa minggu lagi.


Saat ini ia dan Samudra berjalan menuju kantin sebelum mereka masuk ke dalam, seorang wanita mebarak Samudra.


"Aaahhhkkk!" jerit wanita yang mebarak Samudra tadi.


"Aduh, eh. Mbak kalau jalan pakai mata dong," ucap Samudra sambil merapikan penampilannya.


"Enak aja, kamu itu jalan pakai kaki bukan mata," sahut wanita tersebut dengan ketus.


Azam hanya tersenyum saja, karena ia mengenali wanita tersebut.


"Kak Azam!" pekik wanita tersebut sontak membuat Samudra terkejut.


Wanita tersebut tidak memperdulikan ucapan Samudra, ia lebih memilih untuk mendengarkan ucapan Azam.


"Dia itu siapa, kak?" tanya Nana sambil melirik ke arah Samudra.


Azam tertawa kemudian ia menatap ke arah Samudra.


"Dia, Samudra adiknya Jasmine," jawab Azam sontak membuat Nana terkejut.


Nana langsung bergegas menghampiri Samudra, kemudian ia menatap wajah Samudra yang sama sekali tidak mirip dengan Jasmine.


"Yakin adiknya? Mana wajahnya tidak mirip sedikitpun," ucap Nana dengan sangat tidak percaya akan apa yang ia dengar.


"Kalau tidak percaya, tidak apa-apa." Samudra menghampiri Azam dan memegang tangan Azam.


"Sudah, kalian berkenalan saja dulu. Karena nama kalian itu sama," ucap Azam sambil tertawa renyah.


Samudra langsung melirik ke arah Nana, kemudian ia berfikir darimana nama mereka sama.


"Tidak mungkin," bantah Samudra dengan sangat angkuh.

__ADS_1


Nana menghampiri Samudra lalu ia memberikan kartu namanya, kemudian Samudra melihat jika namanya dan juga wanita itu jauh berbeda.


"Sudah aku katakan, jika nama kita tidak ada kemiripan sedikitpun," ucap Samudra dengan tawanya.


"Namaku, Moana sering di sapa Nana dan kau tahu tidak? Arti dari namaku adalah. Samudra," ungkap Nana sambil terus menatap ke arah Samudra.


Samudra juga baru tersadar kemudian ia tertawa, karena merasa lucu saat Samudra bertemu dengan Samudra.


*


*


Jhoni pagi ini sudah berada di kantor sambil mengerjakan pekerjaannya, yang sudah beberapa hari terakhir tidak di kerjakan. Saat sedang asik berkerja tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.


"Tuan."


Aldalin langsung masuk ke dalam kemudian duduk di hadapan Jhoni.


"Siapkan pernikahan ku dua hari lagi, aku ingin pernikahan itu mewah akan tetapi. Aku ingin hanya orang penting saja yang hadiri," ucap Aldalin dengan buru-buru.


Jhoni mencoba untuk menyimak ucapan Aldalin tadi, kemudian ia mengerti dan menganggukkan kepalanya.


"Tuan, Anda tenang saja karena aku akan mengurus semuanya dengan baik dan benar," sahut Jhoni dengan sigap.


Aldalin bergegas bagun dari duduknya, sebelum pergi ia menatap ke arah Jhoni.


"Pasti semuanya aman, jangan sampai ada yang tertinggal dan kau lupa untuk mengerjakannya," ucap Aldalin yang bergegas pergi dari sana.


"Ah, aku harus mengerjakannya dalam waktu dua hari saja. Astaga, semuanya membuatku semakin pusing," keluh Jhoni.


Jhoni langsung mengutus anak-anak buahnya, untuk mempersiapkan semuanya dari mulai gedung, dekorasi, undangan, dan lainnya juga.


Bukan ia tidak mau turun tangan. Namun, pekerjaannya sangat menumpuk membuat dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


*


*


Samudra dan Azam makan bersama di kantin kampus, karena Samudra ada mata kuliah siang jadi pagi ini tidak ada kegiatan.


Mereka juga mengajak Nana ikut makan bersama, sehingga Samudra berkenalan lebih jauh lagi dengan Nana.


"Oh, jadi kalian sepupu. Yang artinya kau juga saudaraku?" tanya Samudra sambil menatap wajah Nana.


"Seperti itu," sahut Nana sambil terus memakan makanannya.


Azam hanya diam saja melihat kedekatan Samudra dan Nana, ia merasa menjadi seorang remaja lagi di usianya yang sudah memasuki kepala tiga.

__ADS_1


'Melihat mereka, membuat ku seperti seorang remaja lagi di usia ku yang sudah tua ini,' batin Azam.


Bersambung.


__ADS_2