
Aldalin pergi menemui Samudra, yang masih berada di ruang transfusi darah. Pria itu ingin memastikan bahwa anak yang sangat ia sayang adalah anak kandungnya.
Perlahan dia masuk ke dalam dan melihat Samudra masih terbaring lema, karena banyaknya kehilangan darah setelah mendonorkan untuk Jasmine.
Seketika Aldalin meneteskan air mata, yang sejak tadi di tahan dan kini tumpah dengan sangat deras. Ternya benar adanya Samudra bukan anaknya, karena wajah sang anak sangat mirip dengan Gilang bila di lihat dengan sangat dalam.
Sakit yang teramat dalam mengingat kembali bahwa Tasya sudah sangat menyakitinya, berulangkali bahkan tidak pernah jujur padanya.
'Ternyata dia tidak pernah berpisah dengan Gilang, dan Sam adalah anak mereka sedangkan aku tidak memiliki anak,' batin Aldalin.
Samudra melirik ke arah sang ayah yang terlihat sangat sedih, dan dia sudah tahu apa penyebabnya.
'Aku sangat sakit, ternyata aku dan kak Jasmine anak hasil perselingkuhan wanita itu bersama selingkuhannya,' batin Samudra.
Pria itu sangat kecewa pada sang ibu, sampai dia tidak bisa memanggil wanita yang sudah melahirkannya dengan panggilan ibu.
"Ayah," panggil Samudra dengan sangat lembut, dan Aldalin langsung menghampiri sang anak.
Mereka berdua sama-sama diam dan menciptakan keheningan, karena merasa sangat canggung satu sama lainnya sejak kejadian tadi.
"Ayah, walaupun kita bukan kandungan. Samudra tetap akan menjadi anak Ayah," ucap Samudra dengan lirih.
Aldalin langsung memeluk sang anak dengan sangat, dan manggis untuk yang pertama kalinya di hadapan Samudra.
"Sam, kamu akan tetap menjadi anak ayah sampai kapanpun." Aldalin semakin terisak-isak, saat mengingat kembali pengkhianatan itu.
Samudra juga ikut menangis karena ia sangat sakit mengingat perbuatan sang ibu terhadap ayah, yang sudah membesarkannya sampai dia menjadi pemuda yang cerdas seperti saat ini.
*. *. *.
Perlahan Jasmine membuka kedua matanya, dan melihat sekeliling ada selang transfusi darah. Sontak dia langsung bangun dan memegang perut yang masih membuncit.
'Ah, untungnya aku masih mengandung. Menyesal sekali aku tadi berlari dan membahayakan anakku,' batin Jasmine.
Gadis itu bernafas lega dan menidurkan tubuhnya kembali, sambil mengelus-elus perut yang masih sedikit keram akibat pendarahan yang di alami tadi.
Jasmine mengingat kembali kejadian tadi saat video sang ibu terdengar jelas, karena dia sama sekali tidak berani melihat adegan panas itu.
__ADS_1
"Aku sangat kecewa pada ibu, ternyata selama ini dia yang sudah melukai ayah sampai menyiksa aku. Semua masalah itu sudah terungkap dan aku bisa mengetahui siapa yang bersalah sebenarnya." Jasmine berucap sambil mengelus-elus perut yang terasa nyeri.
Gadis itu tidak ingin menemui sang ibu lagi, karena merasa sangat kecewa. Andai dia tahu kalau Samudra bukan anak Aldalin maka kekecewaannya semakin bertambah pada Tasya.
Saat tengah memikirkan hal itu, pintu ruangannya di buka oleh Aldalin. Sontak pria itu langsung berlari melintasi sang istri sudah sadar.
Aldalin langsung memeluk Jasmine dengan sangat lembut, dan mencium seluruh wajah gadis itu sampai tidak ada yang terlewatkan.
"Mas Al, ada apa?" tanya Jasmine.
Gadis itu merasa sangat heran melihat raut wajah sang suami yang terlihat sangat sedih, dan sikap Aldalin juga seperti sedang menutupi sesuatu darinya.
"Tidak ada," jawab Aldalin dengan sangat lembut.
Pria itu mencium tangan Jasmine dengan sangat lembut, dan juga mencium puncak kepala Jasmine.
'Sepertinya ayah sedang menyembunyikan sesuatu dariku,' batin Jasmine.
*. *. *.
"A-ku tadi diam, ta-pi kali ini a-ku tidak diam!" seru Gilang dengan terbata-bata.
Tasya sedih karena pria yang sangat di cantai itu tidak pernah marah sedikitpun padanya, sejak pertemuan pertama mereka.
"Tapi, aku tetap mencintaimu Mas," jawab Tasya sambil memeluk suaminya yang tengah duduk di kursi roda.
Gilang menangkis tangan Tasya kemudian menjalankan kursi roda sendirian, tanpa bantuan dari siapapun.
"Mas!" teriak Tasya sambil mengejar sang suami yang sudah masuk ke dalam kamar.
Tasya sangat kesal karena Gilang marah padanya untuk yang pertama kalinya, dan dia langsung menyusun rencana agar sang suami bisa memaafkannya.
'Ini semua karena si brengsek itu, aku akan membalasnya!' geram Tasya dalam hatinya pada Aldalin.
Karena wanita itu berpikir semua yang terjadi padanya adalah ulah Aldalin, sampai dia dan Gilang bertengkar.
*. *. *.
__ADS_1
Samudra sudah sudah pulih dan kini ia berjalan dengan perlahan menuju ruang rawat sang kakak, karena sangat menghawatirkan keadaan gadis itu. Sebelum dia ke luar dari ruangan transfusi darah, pria itu berganti baju dengan baju pasien karena baju yang sebelumnya banyak sekali noda darah.
Perlahan ia membuka pintu ruang rawat Jasmine dan masuk ke dalam, terlihat sang ayah tengah menyuapi kakaknya makan bubur dan dia langsung menghampiri mereka.
"Apa, kakak sudah sehat?" tanya Samudra.
Jasmine hanya menatap heran karena Samudra memakai baju pasien seperti dirinya .
"Kamu sakit?" tanya Jasmine sambil menatap wajah sang adik.
Aldalin mencubit lengan Samudra, dan pria itu langsung menatap wajah sang ayah yang mengedipkan sebelah mata.
Samudra mengerti apa maksud sang ayah, karena mereka sudah sangat dekat dan mengerti bahasa isyarat.
"Sedikit pusing tadi kak. Tapi, kini sudah sembuh," jawab Samudra.
Aldalin bernafas lega karena sang anak tidak keceplosan, dia tidak ingin melihat Jasmine semakin memikirkan hal yang bukan-bukan. Sebab sang istri baru saja mengalami pendarahan.
'Aku tidak ingin Jasmine memikirkan tentang ja-lang busuk itu, karena semuanya telah penting juga bagiku,' batin Aldalin.
Jasmine dan Samudra bercerita bersama-sama dan mengabaikan Aldalin, yang tengah menyuapinya makan dengan sangat sabar.
Aldalin tersenyum. Namun, hatinya sangat sakit dan sedih mengingat kalau anaknya dan Jasmine kemungkinan terlahir dengan keadaan cacat. Pria itu bersedih calon anak pertamanya tidak sempurna dan hal itu tidak akan sampai di telinga Jasmine.
Karena, Aldalin tidak ingin membuat Jasmine stres dan mengalami keguguran seperti kata dokter, karena kalau itu terjadi akan membahayakan nyawa sang istri. Sebab kandungan sudah semakin besar dan hanya tinggal menghitung Minggu saja dia melahirkan.
'Aku tidak akan membiarkan anak kami kenapa-kenapa, walaupun dia tidak sempurna dan kami akan merawatnya dengan baik,' batin Aldalin.
"Ayah, Sam pamit dulu karena masih sedikit pusing," ucap Samudra sambil memegangi kepala yang terasa seperti berputar-putar.
"Ayah antar saja! Ke dalam kamar inap mu. Jangan pulang! Karena keadaan mu masih lema!" pinta Aldalin pada sang anak.
Samudra menganggukkan kepala, dan dia mulai berjalan di bantu oleh Aldalin karena masih sangat pusing.
'Aku bahagia, karena dia adalah ayah yang terhebat untukku,' batin Samudra.
Bersambung.
__ADS_1