
Hari ini Jhoni akan segera kembali ke rumahnya, dengan membawa anak dan istrinya pulang. Ia sangat bahagia bisa seperti saat ini.
Jhoni duduk di tengah-tengah, sambil memeluk anak dan dan Istrinya secara bersamaan.
'Tuhan, semoga aku bisa seperti ini sampai akhir hayat ku nantinya. Aku ingin selalu bisa melihat mereka berdua bahagia seperti saat ini,' batin.
"Ayah, sesampainya kita di rumah apakah Nana bisa bertemu dengan kak Azam dan kak Jasmine?" tanya Nana sambil menatap wajah sang ayah.
Jhoni tersenyum. "Tentu saja, bukankah ayah ini adalah kaki tangan kakaknya Azam."
"Dunia ini sangat sempit, ya?" sambung Nandini, karena ia baru tahu jika kakaknya adalah mantan istri konglomerat.
"Tentu saja," jawab Jhoni sambil mencium puncak kepala Nandini dan Nana.
*
*
Sore hari tiba, Azam dan Aldalin sudah sampai di mansion karena Aldalin sudah berjanji akan pulang lebih awal.
Saat Aldalin masuk ke dalam, ia melihat tidak ada orang dia langsung berjalan menuju kamar Jasmine.
Azam hanya menatap kepergian Aldalin ke kamar Jasmine, dengan rasa sakit di dalam hatinya.
"Azam, kau harus sadar dari mimpi mu itu," ucap Azam lirih sambil berjalan, dan ia menghentikan langkahnya saat tangannya di tari oleh seseorang dari belakang.
Azam langsung menoleh dan membuka mulutnya lebar-lebar saat melihat Samudra ada di hadapannya.
"Samudra!"
"Kak Azam!"
"Sedang apa kau di sini?" tanya Azam pada Samudra dengan sangat serius.
Samudra tertawa kemudian memegang pundak Azam. "Aku anaknya yang mempunyai mansion ini."
Azam muka mulut lebar-lebar saat mendengar jika Samudra adalah anak Aldalin, yang artinya adalah keponakannya.
"Lalu kau?"
"Jangan-jangan kau adalah Paman ku!" pekik Samudra sambil tertawa lepas, bersama dengan Azam karena mereka mengingat kembali pertemuan pertama mereka.
Flashback on.
Azam sedang ada pekerjaan di sebuah pantai yang ada di kota A, bersama dengan temannya karena ingin mendapatkan uang tambahan. Saat ia tengah duduk di bangku ada sebuah bola yang jatuh di kakinya.
__ADS_1
Perlahan ia mengambil bola voli tersebut dan melihat ada anak remaja yang berlari menujunya.
"Maaf bola itu milik saya. Apa bola itu melukaimu?" tanya Samudra yang mengambil bola miliknya.
Azam tertawa renyah sambil menatap wajah Samudra. "Aku ini laki-laki sejati, mana mungkin hanya karena bola bisa terluka."
"Sekali lagi maaf, apakah aku boleh berkenalan dengan mu?" tanya Samudra sambil mengulurkan tangannya, dan Azam menerima uluran tangan pria remaja itu.
"Aku Azam."
"Aku Samudra."
Mereka kembali bercerita bersama dengan saling mengenal satu sama lainnya dengan lebih dekat.
Flashback off.
"Dunia ini sangat sempit," ucap Samudra sambil mendudukkan bokongnya di sofa, begitu juga Azam.
"Benar," sahutnya.
*
*
"Jasmine." panggil Aldalin dengan lembut sambil mendekati gadis itu.
Jasmine langsung menoleh dan meletakan buku di meja, setelah itu ia menatap wajah Aldalin dengan niat akan mengutarakan isi hatinya.
"Ayah ak-" terputus karena Aldalin langsung memotong ucapannya.
"Jangan panggil aku ayah, karena aku bukan ayahmu akan tetapi, suamimu," potong Aldalin.
Jasmine merasakan nyeri dan sakit pada hatinya, saat Aldalin akan menikahinya dengan sangat berani ia mulai menjawab ucapan pria itu.
"Jasmine, tidak mau menikah dengan Ayah," sambung Jasmine dengan cepat.
Aldalin mendekati Jasmine, dan menatap bola mata gadis itu. "Anak mu butuh ayah dan ibu yang lengkap."
Jasmine tak kuasa menahan tangisnya sehingga ia langsung menangis tersedu-sedu, dan Aldalin membawa gadis itu ke dalam pelukan yang sangat hangat.
"Jasmine, maafkan kesalahanku semalam ini. Aku yakin jika kau paham akan sikap dan perilaku selama ini itu karena ibu mu, dia yang sudah membuat Aldalin baik mejadi jahat," ungkap Aldalin.
Jasmine semakin terisak-isak saat mendengar ungkapan Aldalin, karena rasa bersalah di dalam hatinya semakin dalam dan besar.
"Jika kita menikah, Jasmine tidak bisa bersikap seperti seorang istri pada umumnya, karena yang aku rasakan untuk Ayah hanyalah anak dan orang tua saja. Tidak lebih," ucap Jasmine membuat Aldalin langsung melepaskan pelukannya.
__ADS_1
'Apa yang harus aku jawab, apa aku ikuti saja maunya karena aku juga tidak mau membuatnya kecewa dan marah,' batin Aldalin.
"Baiklah, aku akan menikahi demi anakku bukan karena kau. Bersiaplah untuk menikah beberapa hari lagi." Aldalin langsung beranjak dari duduknya dan bergegas pergi dari kamar Jasmine.
Jasmine masuk ke dalam selimut dan mengisi semua yang sudah terjadi, ia menyesali perbuatan yang sudah membuatnya terjebak saat ini.
"Andai saja aku bisa memutar waktu, aku tidak akan mau terjerat satu malam bersamanya, karena tetap saja tidak bisa menikah dengan ayah!" Jasmine menangis tersedu-sedu.
*
*
Aldalin bergegas pergi dari mansion menuju Bar untuk menenangkan dirinya, ia juga mengutus Jhoni untuk menemaninya di Bar.
Jhoni baru saja sampai rumahnya, dan ia langsung bergegas pergi menuju Bar karena tidak bisa menolak keinginan tuannya. Walaupun dia dan istrinya akan menghabiskan malam bersama.
"Ada apa lagi, sampai taun tidak bisa menunggu waktu besok saja. Untungnya Nandini bisa memahami pekerjaanku saat ini," ucap Jhoni sambil mengemudikan mobilnya menuju Bar.
Setelah sampai di Bar ia langsung masuk ke dalam dengan terburu-buru, dan melihat Aldalin sedang duduk sambil menghisap rokok.
"Itu dia. Sepertinya ada masalah yang membuatnya seperti saat ini?"
Jhoni langsung menghampiri Aldalin dan ia duduk di samping Aldalin.
"Apa, ada maslah?" tanya Jhoni tanpa basa-basi karena ingin segera pulang.
Aldalin menghisap rokok lalu ia menghembuskan asap ke atas.
"Jhon, apa yang harus aku lakukan?" tanya Aldalin dengan lirih.
Johni menaikan sebelah alisnya karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Aldalin.
"Sebenarnya ada apa, Tuan?" tanya Jhoni sambil menatap wajah sedih dan frustasi Aldalin.
"Jasmine tidak mau menikah denganku, dia bilang jika aku ini akan tetap menjadi ayahnya sampai kapanpun. Kau tahu jika malam itu sampai saat ini masih saja ada di dalam benak ku ini," ungkap Aldalin dengan lirih.
Jhoni hanya mengangguk kepalanya karena ingin Aldalin menceritakan isi hatinya.
"Kau tahu, sejak dia hamil anakku entah mengapa rasa benci yang sangat dalam hilang dengan tiba-tiba. Aku juga tidak tahu kenapa ingin sekali memeluknya," tambah Aldalin dengan lirih.
Jhoni memberikan pendapatnya, dan Aldalin menyetujui usul Jhoni lalu ia cepat-cepat pulang. Karena sudah merasa lebih baik, itulah alasannya untuk membicarakan masalahnya kepada Jhoni.
Karena Jhoni selalu menyelesaikan masalah yang sedang di alaminya sejak dulu sampai saat ini.
Bersambung.
__ADS_1