Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 25 Surat dari Jasmine


__ADS_3

Laki-laki tersebut perlahan mengelus perut Jasmine yang terasa sangat sakit, beberapa detik kemudian gadis itu sudah tidak merasakan sakit lagi.


"Terimakasih, perut saya sudah tidak sakit lagi," ucap Jasmine dengan sopan kepada laki-laki tersebut.


"Sama-sama, saya memang selalu mengelus perut istri saya dulu waktu dia hamil," sahut laki-laki tersebut dengan sangat cuek.


Jasmine hanya diam saja karena bis sudah mulai berjalan menuju kota A yang membutuhkan waktu enam jam.


*


*


Pada pagi hari ini Jhoni merasa sangat aneh saat ia tidak melihat adanya Jasmine di meja makan, biasanya gadis itu sudah bangun untuk membuat susu di pagi hari.


"Bi, apa Jasmine sudah bagun?" tanya Jhoni kepada Bi Indi yang sedang menyiapkan sarapan.


"Sepertinya belum, karena susunya masih ada di dalam lemari," jawab Bi Indi sambil terus mengerjakan tugasnya.


Jhoni langsung bergegas pergi menuju kamar Jasmine setelah sampai ia tidak melihat adanya gadis itu, lalu masuk ke dala melihat adanya sepotong surat dan langsung membukanya.


Dari Jasmine.


[ Om, saya sangat berterimakasih atas tumpangan salam beberapa bulan ini. Katakan pada ayah jika saya akan baik-baik saja.]


"Ya ampun, bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan pada tuan Al?" ucap Jhoni dengan tangan yang bergetar hebat saat membaca isi pesan dari Jasmine.


*


*


Aldalin tersenyum bahagia, karena pagi ini akan membujuk agar Jasmine mau pulang bersamanya.


Aldalin mengemudikan mobil menuju rumah Jhoni dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai, karena ia tidak bisa menahan rasa rindunya pada Jasmine.


Setelah sampai Aldalin langsung turun dari mobilnya lalu berjalan menuju rumah Jhoni, ia langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Aldalin melihat Jhoni yang sedang duduk di di sofa dengan tatapan kosong, lalu ia menghampirinya dan duduk di samping Jhoni.


Sontak membuat Jhoni terkejut karena Aldalin tiba-tiba duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Tuan!"


"Di mana Jasmine?" tanya Aldalin yang tidak banyak basa-basi.


Jhoni merasa sangat takut saat Aldalin mempertanyakan di mana Jasmine, karena ia tidak tahu kenapa tuannya tahu jika gadis itu ada di rumahnya.


"Katakan! Semalam aku bertemunya di sini!" tambah Aldalin karena Jhoni hanya diam saja saat ia berbicara.


Jhoni memberikan surat dari Jasmine tadi dan Aldalin langsung membuka. Air mata laki-laki paru paru begitu saja tanpa izin darinya saat membaca isi pesan dari anak sambungnya tersebut.


"Jhon, ke mana dia pergi! Dia sedang mengandung anak ku, Jhon!" teriak Aldalin sambil mengisi kepergian Jasmine yang tidak tahu kemana Jasmine pergi.


Jhoni merasa sangat kasihan kepada Aldalin yang tidak sangat terpukul akan kepergian Jasmine, ia sangat menyesal sudah menyembunyikan gadis itu di rumahnya.


Andai saja ia tidak menyembunyikan Jasmine maka saat ini gadis itu masih bersama mereka.


*


*


Laki-laki yang ada di samping Jasmine menyingkirkan kepala gadis itu karena ada di bahunya.


Mau tidak mau Azam harus membangunkan Jasmine, karena mereka sudah sampai di kota A pagi ini.


"Nona, bangunlah kita sudah sampai!" Azam menggoyangkan bahu Jasmine dengan perlahan.


Jasmine terbangun lalu melihat sekeliling yang sudah tidak ada orang lagi, hanya ada dirinya dan laki-laki tersebut.


"Maaf, saya ketiduran tadi," ucap Jasmine dengan sangat pelan.


Azam tersenyum kemudian bangun dan berjalan keluar, di ikuti oleh Jasmine sampai di laur.


Jasmine hanya diam saja sambil duduk di bangku dengan sangat bingung, karena ia sama sekali tidak tahu harus ke mana.


Azam masih duduk di warung sambil memakan sarapannya, lalu mata melirik ke arah wanita yang duduk bersamanya di dalam bis tadi.


"Dia sepertinya sedang ada masalah, aku jadi kasihan padanya," ucap Azam sambil melirik ke arah Jasmine.


"Bu, uangnya ada di meja!" teriak Azam sambil berjalan menghampiri Jasmine yang masih saja duduk termenung.

__ADS_1


Azam duduk di samping Jasmine sambil menatap wajah sedih gadis itu.


"Kau memiliki masalah?" tanya Azam dengan sangat pelan.


Jasmine menatap wajah Azam dengan tatapan sedih, lalu air mata lolos begitu saja tanpa izin darinya.


"Hei, ada apa? Kenapa kau menangis seperti itu?" tanya Azam yang merasa tidak berbuat apa-apa, sampai Jasmine menangis tersedu-sedu.


"Aku tidak memiliki siapa-siapa di sini," jawab Jasmine yang mulai berhenti menangis.


Azam merasa sangat kasihan kepada Jasmine sehingga ia berniat akan membawa gadis itu bersamanya.


"Aku Azam, dan kau siapa nama mu?" tanya Azam sambil mengulurkan tangan lalu Jasmine menerima uluran tangannya.


"Jasmine," jawab Jasmine dengan sangat gugup saat ini, karena takut jika Azam bertanya tentang siapa suaminya dan kenapa ia hamil.


"Jangan bersedih, kau ikut saja dengan ku karena aku akan membawa mu bertemu dengan ibuku," sambung Azam membuat Jasmine langsung tersenyum.


"Terimakasih, aku tidak tahu lagi mau pergi ke mana dan bersama siapa karena aku di sini hanya sendiri," sahut Jasmine dengan sangat bahagia.


"Kau bisa menganggap ku sebagai kakakmu dan ibuku adalah ibumu juga, setelah sampai di rumah kau bisa menceritakan tentang dirimu pada kami," ucap Azam lalu Jasmine menganggukkan kepala.


Azam dan Jasmine naik angkot agar bisa segera sampai di rumah Azam yang masih lumayan jauh, mereka harus menempuh perjalanan selama setengah jam dengan menaiki angkot.


Setelah sampai mereka berdua turun, mata Jasmine sangat terpesona akan keindahan kampung Azam. Ia juga melihat beberapa orang melihat dirinya dan juga pria itu.


"Apa mereka semuanya tidak mengenal mu sampai melihat kita seperti itu?" tanya Jasmine yang sedikit berbisik kepada Azam.


"Mereka memang seperti itu, kita diam dan tersenyum saja pada mereka," jawab Azam dengan cara berbisik juga.


Azam berdiri tepat di depan rumah lalu ia mulai mengetuk-ngetuk pintu rumah, tak berselang lama akhirnya sang ibu membukakan pintu.


"Ibu, anak Ibu ini sudah pulang dari kota mengadu nasib kita," ucap Azam dan sang ibu memeluknya dengan lembut.


"Euum ibu rindu sekali dengan mu," ucap ibu Azam sambil memeluk anaknya, saat ia membuka mata melihat seorang wanita yang terdiri tepat di belakang sang anak.


Ia langsung melepaskan pelukan dan menghampiri wanita yang bersama dengan anaknya.


"Kamu siapa?" tanya ibu Azam dengan sangat lembut sambil menatap wajah Jasmine.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2