Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 34 Kembalinya Jasmine ke Mansion


__ADS_3

Jhoni dan Nana berjalan menuju rumah dengan perlahan, sepanjang jalan mereka terus-menerus di lihat oleh orang-orang yang ada di sana. Ada juga orang yang sedang bisik tentang mereka berdua.


Setelah mereka sampai di rumah Nana. Jhoni berdiri di belakang tubuh gadis itu karena ia sedikit gugup ingin bertemu dengan mantan istrinya.


"Bu, buka pintu Nana sudah pulang," ucap Nana dengan sangat lembut tak berselang lama akhirnya, pintu terbuka ibu melihat jika ada sosok laki-laki di belakang anaknya.


"Nana, siapa laki-laki itu? Beraninya kamu membawa pulang dia!" teriak ibunya Nana sambil berjalan menghampiri Jhoni.


Nandini terdiam saat melihat wajah laki-laki yang ada di belakang anaknya, perlahan air mata lolos begitu saja tanpa izin darinya.


"Jhoni."


Nandini menangis tersedu-sedu saat melihat wajah laki-laki yang sudah di sakiti selama ini, dan ia juga sangat menyesal sudah melakukan hal itu.


"Bu, sebaiknya kita bicara didalam saja. Om, ayo kita masuk ke dalam," ucap Nana dengan sangat lembut.


Jhoni ikut masuk ke dalam rumah bersama dengan Nana dan Nandini, mereka duduk di ruang tamu.


"Bu, apa benar Om itu adalah Ayah?" tanya Nana sambil mengelus-elus punggung sang ibu, agar bisa lebih tenang dari sebelumnya.


"Nandini, kumohon mungkin masa lalu kita buruk dan ingat kalau aku ini adalah ayah Nana aku juga sudah hidup senang, hartaku bisa membuat Nana menjadi anak yang sukses," ucap Johni sambil menatap ke arah Nandini, yang masih menangis.


Nandini dapat melihat jika kehidupan Jhoni sudah berbuah menjadi lebih baik, sejak ia meninggalkan Jhoni belasan tahun yang lalu. Karena tidak mau hidup susah bersama Jhoni.


"Benar, dia Ayahmu,"


Deg!


Nana sangat terkejut juga tidak pernah membayangkan jika ia akan bertemu dengan ayahnya, ia langsung berjalan menuju Jhoni dan memeluknya dengan tangisan.


"Ayah, maafkan Nana jika tadi tidak percaya dengan Ayah," ucap Nana dengan tangisnya.


Jhoni sangat terharu mendengar sang anak memanggil dirinya dengan sebutan ayah, ia mengelus-elus rambut Nana dengan lembut juga meneteskan air mata.


"Nandini, aku ingin membawa Nana bersamaku karena ingin dia melanjutkan kembali sekolahnya, dan juga membawamu karena kita akan rujuk kembali," ucap Johni dengan sangat lembut.

__ADS_1


Nandini menganggukkan kepalanya, karena ia juga tidak bisa hidup seorang diri tanpa adanya Nana. Mereka bertiga berpelukan dengan sangat haru.


*


*


Setelah sampai di pesawat, Jasmine duduk bersama dengan bu Jima, karena ia merasa sangat takut. Bukan naik pesawat yang ia takutkan akan tetapi, Aldalin yang membuatnya takut.


"Jasmine, tidurlah kamu perlu istirahat karena sedang mengandung dan sebentar lagi kita akan sampai," ucap Aldalin dengan sangat lembut sambil menatap wajah gadis itu.


Jasmine hanya diam saja tanpa menjawab ucapan Aldalin, karena ia tahu kalua gadis itu masih marah padanya.


'Aku sadar, selama ini sudah menyakiti hati Jasmine karena tidak bisa melupakan pengkhianatan Tasya dan Gilang,' batin Aldalin.


Azam duduk di samping Aldalin dan terus-menerus menatap sang kakak, yang sejak tadi terus memandangi wajah Jasmine dengan sangat dalam.


'Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, di antara mereka. Aku akan menjaga Jasmine dari dia dan juga melindungi gadis itu,' batin Azam.


Jasmine tidak bisa menerima semuanya, karena sudah pasti ia adalah anak haram sang ibu dan selingkuhannya itu. Ia juga berfikir jika dirinya memang pantas mendapatkan semua perlakuan dari ayahnya.


Setelah selesai di mansion, Aldalin membantu membawakan koper milik bu Jima dan juga Jasmine, kini mereka duduk di ruang tamu bersama.


Bu Sinta sangat bahagia saat melihat Jasmine ikut pulang, ia langsung membuatkan air minum untuk semua orang.


"Silahkan diminum semuanya." Bu Sinta memberikan teh hangat untuk semua orang.


"Non, apa kabar?" tanya Bu Sinta kepada Jasmine yang ada di hadapannya.


"Baik," jawab Jasmine dengan senyumannya.


"Bik, tolong bawakan koper milik Jasmine ke dalam kamar. Ya," ucap Jasmine dan bu Sinta langsung mengambil koper Jasmine.


"Tunggu!"


Semua mata tertuju pada Aldalin yang menghentikan langkah bu Sinta.

__ADS_1


"Iya, Tuan."


"Jangan bawa koper itu ke dalam kamar Jasmine, bawalah koper itu ke dalam kamar tamu," ucap Aldalin.


Sontak membuat Jasmine terkejut akan sikap ayahnya kali ini, tidak seperti biasa jika ia harus tidur di dalam gudang tua itu.


"Baik Tuan," jawab bu Sinta yang bergegas membawa koper milik Jasmine, ke dalam kamar tahu yang ada di lantai bawa.


"Ayah, untuk apa Jasmine tidur di sana bukankah selama ini tidur di gudang?" tanya Jasmine sambil menatap wajah Aldalin.


"Karena kita akan segera menikah," jawab Aldalin sambil mengangkat tangannya ke udara, yang artinya Jasmine tidak boleh bertanya atau berbicara lagi.


"Bu, ayo Al akan mengantar ibu ke dalam kamar dan Azam langsung masuk saja ke dalam kamar, yang bersebelahan dengan Ibu," ucap Aldalin sambil membantu bu Jima berjalan.


Setelah kepergian Aldalin mulailah Azam mendekati Jasmine, dan duduk di samping gadis itu.


"Jasmine, aku akan mengantarmu ke dalam kamar." Azam membatu Jasmine untuk bangun.


Jasmine hanya diam saja karena saat ini ia sedang berfikir keras, ia tidak mau menikahi laki-laki yang sudah menjadi ayahnya sejak kecil. Walaupun laki-laki itu bukan ayah kandungnya.


Setelah ia sampai didalam kamar langsung masuk ke dalam, sedangkan Azam langsung pergi menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


Jasmine menidurkan tubuhnya di kasur tempat tidur, sambil menatap langit-langit kamarnya dan lirih.


"Mau bagaimanapun, aku tidak mau menikah dengan ayah walaupun dia bukan ayah kandung ku ... selama ini dia adalah ayah yang terhebat untuk ku," ucap Jasmine lirih.


Air mata yang sejak tadi ia tahan kini sudah tidak mampu lagi tahan, kini mengalir deras membasahi seluruh wajahnya.


Jasmine menangis tersedu-sedu sambil memeluk dirinya sendiri, ia sangat kecewa pada sang ibu.


Walaupun Jasmine tidak merasakan kasi sayang dari ayahnya, ia tetap menyayangi sang ayah dengan sangat dalam hanya sebagai anak dan ayah tidak lebih.


Jasmine menghapus air matanya, dan bangun lalu duduk. Ia berniat akan mengutarakan isi hatinya besok kepada ayahnya, kalau dia tidak mau menikah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2