Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 72 Calon Mertua


__ADS_3

Samudra tersenyum dan menatap wajah calon mertuanya itu, yang menjadi rekan kerja di perusahaan sang ayah.


'Dasar Om Jhoni, dia masih saja seperti ini dalam situasi yang mencengangkan,' batin Samudra.


Jhoni tahu kalau sang anak berpacaran dengan Samudra, karena Nana sendiri yang mengatakan hal itu, dan dia juga tidak melarang anak-anak. Namun, tidak membiarkan mereka melewati batas saat pacaran.


"Sam, ada beberapa proyek di kantor yang tidak bisa aku selesaikan. Kamu tolong selesaikan hari ini juga bersama Azam," ucap Jhoni dengan lembut.


Azam membuka mata lebar-lebar, karena dia sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai tentang proyek dan sebagainya. Sebab, belum banyak ilmu yang dia kuasai.


'Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang proyek mereka?' batin Azam bingung.


"Baik Om. Tapi, semua itu proyek yang kita kerjakan bersama bukan? Kerena jika bukan maka Sam tidak bisa," sahut Samudra.


"Iya, semuanya yang kita jalankan bersama," jawab Jhoni.


Samudra menganggukkan kepala mengartikan paham, dan dia duduk di samping Nana kemudian berbisik walaupun Jhoni masih bisa mendengarkan ucapannya.


"Sayang, aku bekerja dulu. Ya? Kamu jangan bersedih lagi!" bisik Samudra dengan lembut.


Jhoni hanya diam sambil berpura-pura tidak mendengar ucapan Samudra pada anak gadisnya. Nana menatap wajah Samudra dan menganggukkan kepala saja karena dia masih sangat bersedih.


"Kamu sama Ayah mertuaku dulu. Ya," ucap Samudra dengan sangat percaya diri.


"Siapa mertua mu?" tanya Jhoni dengan sangat ketus, membuat Samudra langsung bergegas pergi dari sana sambil cengengesan.


Azam mengikuti langkah Samudra karena menolak akan percuma saja baginya. Sabab, Jhoni akan memaksanya bekerja dengan Samudra seperti yang di lakukan oleh Aldalin.


Sesampainya di parkiran, Azam langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Samudra sambil menatap wajah sang keponakan.


"Sam, paman sama sekali tidak tahu apapun tentang proyek kalian itu," ungkap Azam.


Samudra tersenyum dan menepuk pundak sang paman dengan sangat lembut, kemudian dia menjelaskan apa saja pekerjaan Azam.


"Baiklah. Tapi, beritahu aku kalau aku membuat kesalahan," ucap Azam dengan lembut.


"Tentu saja!" jawab Samudra.


Azam sangat kagum pada Samudra, karena pria remaja itu sangat pandai dalam urusan perusahaan. Padahal, dia masih kuliah di usia yang masih 20 tahun. Sedangkan dirinya sama sekali tidak tahu apapun.


'Sayangnya Sam bukan anak kak Al. Andai saja mereka ayah dan anak sudah pasti kakak ku itu sangat bahagia. Karena, sudah mendidik anaknya menjadi seperti ini,' batin Azam kagum.

__ADS_1


Ponsel Samudra bergetar ada pesan masuk dari wanita malam yang mengaku sudah di tiduri olehnya. Namun, dia sama sekali tidak mengingat hal itu sedikitpun.


'Mau apa lagi sih dia. Kalau sampai ayah tahu dan orang-orang, maka aku akan habis,' batin Samudra.


Pria itu membuka pesan masuk dari wanita malam itu dan membuka mulut lebar-lebar melihat apa yang di tuliskan wanita tersebut.


📨:Sam, aku hamil dan sudah dua bulan. Aku ingin kau bertanggung jawab.


Samudra sama sekali tidak merasa pernah meniduri wanita itu dan dia langsung menghapus pesan itu, kemudian menyimpan ponselnya sambil menatap wajah Azam yang terus menatapnya.


'Aku rasa wanita itu yang mengirimkan pesan padanya, aku harus menjalankan rencana bersama Difa agar membongkar pengkhianatan Sam, karena aku tidak mau adik tersayang ku sakit hati,' batin Azam.


Pria itu tidak ingin Nana sakit hati karena Samudra berselingkuh dengan wanita malam, yang sangat terkenal licik dan cerdik mendapatkan apa yang di maunya.


*


*


*


Difa sangat merindukan Jasmine, karena sudah setengah tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu dan bertukar kabar. Namun, dia enggan untuk menemui sang sahabat karena merasa insecure.


Saat tengah berbicara pada Poto Jasmine, ponselnya berdering dan ternyata Azam mengirimkannya pesan.


📨


Om Azam:Difa, temui aku di taman biasa, selepas aku menyelesaikan pekerjaan di kantor, aku akan menemui mu. Ini masalah Nana adikku.


"Wah, Samudra benar-benar sudah keterlaluan ... aku tidak bisa tinggal diam karena, ini menyangkut perasaan wanita dan aku juga wanita," ucap Difa dengan kesal.


Gadis itu langsung bersiap-siap agar tidak terburu-buru saat Azam memintanya datang nanti, karena jarak taman itu tidak jauh dari rumahnya berada.


*


*


*


Gilang berada di depan gerbang rumah Aldalin, karena dia sangat merindukan sang putri dan calon cucunya yang sebentar lagi akan terlahir. Namun, sialnya yang di cari-cari tidak berada di rumah membuatnya bersedih.


"Tuan, jangan khawatir! Jika mereka sudah kembali saya akan memberikan kabar Anda," ucap Satpam tersebut.

__ADS_1


Gilang tersenyum dan berkata, "Terimakasih banyak, aku sangat merindukan putriku."


"Sama-sama Tuan, bukankah Anda adalah mertua tuan saya? Sudah seharusnya say hormat pada Anda," jawab Satpam tersebut.


"Terimakasih, saya permisi dulu," ucap Gilang.


Pria itu bergegas pergi dari sana sambil berjalan dengan perlahan masuk ke dalam mobilnya, dan melajukan mobil menuju taman yang tidak jauh dari sana karena ingin menenangkan diri.


Setelah sampai, Gilang berjalan menuju bangku yang ada di sana sambil menatap langit-langit. Kemudian duduk seorang diri sambil menghela nafas dalam-dalam.


"Al, aku sangat menyesal sudah membuatmu terluka cukup parah dan, anakku yang menjadi korbannya. Andai saja waktu bisa aku putar kembali ... aku akan membiarkan kau bahagia bersama Tasya," ucap Gilang lirih.


Pria itu sangat menyesali perbuatannya, dan menangis sambil mengingat kembali wajah sang anak yang sangat menyayangi Aldalin sebagai ayahnya, sedangkan pada dirinya sama sekali tidak ada rasa sayang itu.


"Jasmine ayah sangat menyayangi mu," ucap Gilang lirih.


Wanita muda mendengar ucapan Gilang langsung mendekati pria itu dan duduk di bangku, yang tidak jauh dari tempat duduk Gilang agar mendengar apa saja yang di bicarakan pria itu.


'Kok om itu mengenal Jasmine?' batin Difa penuh tanya.


Ya, sejak tadi gadis itu mendengar ucapan Gilang. Namun, dia sama sekali tidak mengerti apa yang di maksudkan oleh pria itu.


"Jasmine ayah rindu!" jerit Gilang sambil beranjak bangun dan terjatuh.


Difa membuka mulut lebar-lebar mendengar ucapan Gilang, dan langsung menghampiri pria itu kemudian membantunya bangun duduk kembali di bangku.


"Om tidak apa-apa?" tanya Difa sambil memberikan air minumnya pada Gilang.


Gilang meminum air tersebut dan merasa air itu sangat aneh, kemudian melihat kalau air yang di minum tinggal setengah. Yang artinya sudah di minum gadis itu terlebih dahulu.


"Air ini sudah kamu minum?" tanya Gilang dengan lemas.


Difa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sontak membuat Gilang membuka mata lebar-lebar karena mereka sudah berciuman dengan cara tidak langsung.


"Tidak!" teriak Gilang dan Difa hanya bisa cengengesan, karena tadi dia panik dan langsung memberikan air minumnya.


Gilang berteriak bukan karena mereka sudah berciuman. Namun, karena air itu pasti sudah terkena air liur Difa dan hal itu sangat menjijikkan.


...Bersambung....


Namanya juga panik. Ya, Difa 🤦🤦🤦🤦

__ADS_1


__ADS_2