
Dokter menjelaskan semuanya pada Jasmine, sontak membuat gadis itu terdiam dan meneteskan air mata.
Aldalin langsung memeluk Jasmine, menenangkan sang istri yang terlihat jelas sangat terkejut mendengar kenyataan pahit itu.
"Dok, apa anak kami benar-benar akan terlahir cacat?" tanya Jasmine dengan sangat tidak percaya, kalau anaknya cacat.
"Benar, karena kaki bayi kalian besar sebelah dan, anak kalian hanya memiliki satu tangan saja," ungkap Dokter tersebut.
Hati Jasmine seakan di iris pisau dan di tabur garam. Cukup berat maslah yang di laluinya, mendengar anaknya akan terlahir cacat dan di tambah lagi anak mereka hanya memiliki satu tangan.
Aldalin sangat terpukul dengan kenyataan bahwa anak mereka benar-benar akan terlahir cacat. Di tambah lagi hanya memiliki satu tangan.
'Kenapa Tuhan mengujiku dengan masalah sebesar ini? Apakah, aku banyak salah di masa lalu ku?' batin Aldalin sambil berpikir keras.
Karena, seingatnya dia tidak pernah berbuat kesalahan atau kejahatan apapun di masa lalunya.
__ADS_1
"Bapak dan Ibu, harus terima semua ini dengan lapang dada," ucap Dokter tersebut.
Aldalin menganggukkan kepala sambil menenangkan Jasmine. Setelah sang istri tenang, dia membawanya pergi dari rumah sakit.
Aldalin membawa Jasmine duduk di taman yang tidak jauh dari rumah sakit, karena dia ingin membuat hati Jasmine tenang. Setelah mereka duduk mulailah Aldalin berbicara.
"Sayang, aku tidak mempermasalahkan hal ini. Karena, hal yang sangat penting kalian berdua ada bersamaku," ucap Aldalin sambil mengelus-elus rambut Jasmine dengan lembut.
Gadis itu hanya bisa diam, karena belum bisa menerima kenyataan pahit bahwa anak pertamanya akan terlahir dengan cacat.
'Aku tahu pasti, semua ini sangat berat untuk Jasmine dan untukku. Walaupun aku berusaha untuk menerima. Namun, di hati kecilku tetap masih tidak percaya,' batin Aldalin.
'Walaupun anakku cacat. Tapi, dia sangat aktif di dalam sini. Tuhan kenapa memberikan aku cobaan yang sangat berat seperti ini?' batin Jasmine lirih.
Aldalin memeluk Jasmine agar sang istri bisa tenang, dan sedikit melupakan masalah yang tengah di hadapi mereka berdua. Walaupun akan sulit melupakan hal itu.
__ADS_1
"Sayang, kita pulang sekarang?" tanya Aldalin dengan lembut.
Jasmine menganggukkan kepala, kemudian menatap wajah sang suami dengan sangat lirih. Ingin dia katakan pada Aldalin kalau saat ini dia tidak sanggup menerima kenyataan anak mereka akan terlahir cacat. Namun, semua itu hanya ada di dalam benaknya saja.
"Mas Al, jangan beritahu siapapun kalau anak kita cacat. Karena, Jasmine takut membuat semua orang sedih," pinta Jasmine pada Aldalin.
Aldalin langsung mengecup kening Jasmine, karena dia sangat terharu mendengar ucapan sang istri yang takut membuat semua orang cemas dan bersedih, tanpa memikirkan tentang dirinya sendiri.
'Aku sangat beruntung memiliki Jasmine, karena dia wanita baik dan sempurna untukku, walaupun aku di masa lalu tersakiti sangat dalam,' batin Aldalin.
Aldalin membawa Jasmine dengan perlahan menuju mobil mereka yang masih terparkir di halaman rumah sakit, karena tadi mereka bersua berjalan kaki ke taman.
Setelah masuk ke dalam mobil, Jasmine menidurkan kepalanya di bidang dada Aldalin. Karena tempat itu sangat nyaman baginya bersandar seperti ini.
'Semoga aku bisa menerima kenyataan bahwa anakku akan terlahir cacat,' batin Jasmine.
__ADS_1
...Bersambung....
Halo teman-teman, pantangi terus. Ya, karena author akan update lagi nanti malam. ☺️