Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 87 Tidak ada rumah


__ADS_3

Setelah acara pemakaman selesai, Aldalin bergegas pergi menuju mobil dan masuk ke dalam. Namun, sang istri tidak ada kemudian dia ke luar dan melihat mobil Samudra.


"Mungkinkah Jasmine ada di sana?" gumam Aldalin sambil berjalan menuju mobil Samudra.


Sesampainya di mobil sang anak, dia langsung masuk ke dalam dan duduk di samping anaknya.


"Ayah!" pekik Samudra, karena dia terkejut sang ayah tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya.


Jasmine langsung menoleh dan tersenyum manis pada sang suami, ingin rasanya detik ini juga dia memeluk pria itu. Namun, terhalang oleh jarak.


"Sam, bawa dia pulang ke rumah saja! Tadi ayah sudah bertanya pada Jhoni, dan mengatakan kalau Nana untuk sementara waktu di rumah kita dulu," ucap Aldalin.


Samudra menganggukkan kepalanya, kemudian menatap wajah Jasmine yang terus menerus menatap wajah sang ayah.


"Bucin!" cibir Samudra, sontak membuat Jasmine langsung membuang pandangannya.


Sedangkan Aldalin, langsung mencubit lengannya dengan pelan.


"Sakit Ayah," keluh Samudra.


Aldalin tersenyum dan langsung memeluk sang anak dengan sangat lembut. Dia sangat bahagia bisa seperti ini, memiliki istri yang di cintainya dan anak sambung yang sudah seperti anak sendiri.


"Jasmine, ayo kita pulang," ucap Aldalin dengan sangat lembut.

__ADS_1


Jasmine menganggukkan kepalanya, kemudian bergegas pergi turun dari mobil. Begitu juga dengan Aldalin yang menyusul sang istri.


Sesampainya mereka di dalam mobil, Aldalin langsung memeluk dan mencium sang istri dengan sangat lembut dan mesra.


"Mas, nanti ada yang melihat bagaimana? Bukankah ibu juga akan masuk ke sini?" tanya Jasmine dengan cemas.


"Biarkan saja! Apa perlu aku minta supir menjemput ibu dan Azam?" sahut Aldalin dengan cuek.


Jasmine menggelengkan kepalanya, kemudian mereka kembali berpelukan sampai Bu Jima dan Azam masuk ke dalam.


Hati Azam seakan di tusuk-tusuk dengan jarum, kemudian di taburi garam melihat pemandangan itu.


"Tidak ada rumah," sindir Bu Jima, membuat Aldalin langsung melepaskan pelukannya.


"Maaf Bu," ucap Aldalin dengan sangat lembut.


.


.


.


Samudra menghampiri Nana, kemudian mencium wajah gadis itu. Karena, dia sangat mencintainya.

__ADS_1


"Na, aku sangat mencintaimu dan aku harap kita bisa bersama sampai acara pernikahan kita beberapa bulan lagi," ucap Samudra dengan sangat lembut.


.


.


.


Tasya berada di dalam pelukan Gilang, karena wanita itu merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya, dan tidak mau di bawa ke rumah sakit oleh sang suami.


"Tasya, ayolah ... kita ke rumah sakit, apa keadaan mu sudah membaik?" tanya Gilang dengan sangat lembut.


Tasya menggelengkan kepalanya, kemudian kembali menutup mata karena rasa sakit yang di rasakannya.


"Aku panggilkan dokter saja. Ya?" tanya Gilang, dan lagi-lagi Tasya menggelengkan kepalanya.


Tasya benar-benar tidak berdaya akan rasa sakit yang di rasakan itu. Tapi, dia tetap ke keh tidak mau di bawa ke rumah sakit.


'Sakit sekali kepalaku ini, sampai tidak bisa bergerak sedikitpun,' batin Tasya.


Gilang merasa bingung harus berbuat apa, karena dia tidak tega melihat Taysa menahan sakit Sampai mengeluarkan keringat dingin.


'Apa yang aku harus lakukan? Tasya tidak mau ke rumah sakit, dan aku tidak tahan melihatnya sakit seperti ini?' batin Gilang bingung.

__ADS_1


Pria itu memijat kepala Tasya dengan sangat lembut, agar sang istri bisa sedikit tenang dan benar adanya. Tasya langsung tertidur pulas dan dia langsung membawanya ke rumah sakit.


...Bersambung....


__ADS_2