Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 30 Saya bukan remaja, umur saya 30 tahun


__ADS_3

Sore hari ini Jhoni sudah sampai di kota A ia langsung bergegas pergi menuju penginapan, setelah itu langsung mencari informasi tentang bis yang membawa Jasmine beberapa hari lalu.


Setelah sampai di stasiun bis yang membawa Jasmine, ia langsung bertanya-tanya kepada semua orang yang ada di sana.


Namun, sayangnya tidak ada yang mengenali Jasmine atau melihat gadis itu di sekitar stasiun membuat Jhoni putus asa. Sehingga ia memutuskan untuk kembali ke penginapan.


Setelah sampai ia langsung menidurkan tubuhnya di ranjang, besok ia akan mencari informasi tentang Jasmine setelah melihat perternakan.


"Semoga saja satu minggu aku di sini, aku dapat informasi tentang Jasmine dan berhasil membawanya pulang," ucap Jhoni sambil memejamkan kedua mata.


*


*


Keesokan harinya ...


Pagi ini Jasmine bersama dengan Nana akan berbelanja ke kota untuk mengisi kios mereka, yang akan mereka bangun di depan rumah Azam yang lumayan ramai orang berlalu lalang.


Mereka berdua pergi dengan menaiki angkot agar segera sampai di kota.


"Kakak ipar, sebaiknya kita belanja apa yang kita butuhkan dan segera pulang. Aku khawatir karena kakak sedang hamil mudah," ucap Nana sambil menggandeng tangan Jasmine, karena takut terpisah.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir," jawab Jasmine dengan senyumannya.


Mereka berdua mulai membeli perlengkapan untuk berjualan, dan juga membeli bahan-bahan untuk membuat tokoh. Sehingga barang yang mereka beli mencapai satu mobil penuh.


*


*


Jhoni pagi ini langsung melihat perternakan karena sehabis itu ia akan mencari keberadaan Jasmine lagi.


"Hei anak muda, kemarilah!" panggil Jhoni pada laki-laki yang sedang memberi makan sapi.


"Maaf Tuan, saya sudah tua saya tidak mudah lagi. Karena umur saya sudah tiga puluh tahun," jawab Azam sambil menatap wajah Jhoni.


"Maaf, ternyata kau seumuran dengan adikku," ucap Jhoni sambil tertawa kecil, karena ia mengira jika Azam tadi anak remaja.


"Tidak apa-apa, saya mengerti Tuan," sahut Azam dengan sangat lembut.


"Besok pagi, kau antarkan berkas-berkas laporan keuangan dan semuanya ke penginapan ku, karena aku ada sedikit urusan," pinta Jhoni.

__ADS_1


Azam mengangguk kepala sambil menatap wajah Jhoni, yang seperti tidak asing sehingga ia berfikir di mana pernah melihatnya.


'Sepertinya aku setiap hati melihatnya, tapi. Di mana?' pikir Azam dalam hatinya.


"Saya permisi dulu, jangan lupa besok pagi," ucap Jhoni yang bergegas pergi dari sana.


Azam kembali mengerjakan tugasnya dengan sangat giat karena ia ingin pulang cepat. Sebab Jasmine pulang dari kota membeli perlengkapan usah mereka.


Ya, mereka bertiga Azam dan Jasmine juga Nana akan berbisnis bersama dengan menjual kelontong di depan rumah.


Flashback on.


Jasmine dan Nana duduk saling berhadapan sedangkan bu Jima dengan Azam duduk bersebelahan.


"Jadi itu usaha kalian, ibu akan sangat setuju," ucap bu Jima dengan sangat bergembira.


Karena anak-anaknya akan berbisnis bersama.


"Kita bagi tiga modalnya, nanti hasilnya juga sama," ucap Nana sambil menatap wajah Jasmine dan Azam secara bergantian.


"Benar," jawab Jasmine dan Azam hanya mengangguk kepalanya saja.


"Kak Azam, kok diam saja?" tanya Nana kepada Azam dan pria itu menatap wajah Nana dengan sangat sayu.


"Pulang saja kamu, aku sangat mengantuk. Jasmine ayo kita masuk! Biarkan saja dia di sini bersama dengan Ibu," ucap Azam yang menarik tangan Jasmine masuk ke dalam kamar.


Nana dan Bu Jima saling menatap satu sama lainnya dengan senyuman mereka saat melihat Azam dan Jasmine.


Flashback off.


*


*


Jhoni terus-menerus mencari informasi tentang Jasmine dan kali ini ia mendapatkan informasi, jika seorang laki-laki tua melihat gadis itu pergi bersama dengan seorang laki-laki yang masih mudah.


"Lalu, mereka pergi kemana Pak?" tanya Jhoni yang sangat penasaran pergi dengan siapakah Jasmine.


"Mereka naik angkot. Tapi, saya tidak tahu angkot itu pergi kemana hanya itu saja yang saya tahu. Anda bisa bertanya-tanya kepada supir angkot yang ada di sekitar sini karena mereka narik angkot yang selalu di sini," jawab laki-laki tua tersebut.


"Terimakasih atas informasinya, saya sangat berterimakasih kepada bapak," ucap Jhoni yang bergegas pergi dari sana dan menuju pangkal angkot.

__ADS_1


Jhoni bertanya-tanya kepada semua supir angkot apakah mereka pernah bertemu dengan Jasmine atau tidak, semuanya mengatakan jika mereka tidak pernah melihat Jasmine.


"Satu supir angkot tidak masuk hari ini, mungkin saja dia mengenal wanita ini," ucap salah satu supir angkot.


"Mungkin saja, karena beberapa hari lalu dia selalu mangkal di sini bersama dengan saya akan tetapi, saya tidak pernah melihat wanita ini naik angkot saya. Kemungkinan dia naik angkot teman saya itu," ucap salah satu supir angkot.


Jhoni sangat bahagia karena usahanya untuk mencari keberadaan Jasmine akan tercapai sebentar lagi.


"Lalu di mana rumahnya?" tanya Jhoni dengan sangat bersemangat.


"Kami juga tidak tahu, karena dia itu baru mangkal di sini," jawab laki-laki tua itu.


Jhoni seakan jatuh dari tebing tinggi saat mendengar jika mereka semua, tidak tahu di mana rumah Supir angkot yang membawa Jasmine hari itu.


"Lalu bagaimana saya bisa menemukan anak saya, tolong saya Pak karena dia sudah dua hari pergi bersama dengan orang yang tidak dia kenali," ucap Jhoni dengan sangat lirih membuat semua orang ikut bersedih.


"Begini saja, kami akan membantu Bapak mencari tahu di mana supir angkot itu setelah kami tahu kami akan memberi tahu kepada Anda," ucap laki-laki tua tersebut.


Jhoni langsung tersenyum lalu ia meminta jika mereka menemukan kebenaran Supir angkot itu, untuk segera mengabarinya melalui telepon karena ia sudah memberikan nomor ponselnya.


Jhoni juga berpesan jika di antara mereka berhasil mendapatkan kabar dari supir angkot itu, ia akan memberikan uang senilai lima juta rupiah untuk mereka yang menemukan supir angkot itu.


*


*


Jasmine merasa sangat leleh, karena saat ini ia baru saja pulang dari berbelanja untuk keperluan jualannya.


Kini Jasmine duduk di bangku depan rumah , bersama dengan bu Jima dan Nana pada saat itu juga Azam baru saja pulang.


Azam mencium tangan bu Jima dan duduk bergabung dengan mereka semua.


"Eh, kenapa hanya ibu saja?" ucap Bu Jima sambil tersenyum kepada Nana.


Azam langsung tersadar ia melirik ke arah Jasmine dan mengulurkan tangan, gadis itu mencium tangannya setelah itu dia mencium puncak kepala istri pura-puranya.


"Cie ... Cie ... "


Nana bersiul-siul karena baru saja melihat jika Azam mencium kakak ipar di hadapannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2