
Satu Minggu kemudian ...
Jasmine sudah merasa lebih baik, sejak kejadian seminggu yang lalu. Hari ini dia dan Aldalin akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan. Namun, Aldalin takut Jasmine mengetahui keadaan calon anak mereka.
Aldalin sejak tadi gelisah, semuanya orang sudah bertanya dan dia tidak mengatakan apapun. Karena, hanya dia yang tahu tentang keadaan calon anaknya.
"Al, apa ada masalah?" tanya Bu Jima yang melihat Aldalin mondar-mandir menunggu kedatangan Jasmine di ruang tamu.
"Iya, apa Ayah ada masalah?" tanya Samudra yang berpikir sama seperti sang nenek.
Aldalin menggelengkan kepala, sambil terus mondar-mandir seperti orang yang kebingungan.
"Kak Al, katakan pada kami?" tanya Azam juga, karena sudah lelah melihat Aldalin seperti setrikaan.
Aldalin tidak menjawab, dan terus mondar-mandir sampai Jasmine datang. Barulah dia diam dan duduk.
"Kita, pergi sekarang?" tanya Aldalin dengan sangat lembut, sambil menatap wajah Jasmine yang ada di sampingnya.
Gadis itu menganggukkan kepala. Dan semua orang hanya menatap Aldalin yang bersikap sangat aneh, seperti orang yang tengah menyembunyikan sesuatu hal yang besar.
__ADS_1
"Bu, kami pergi dulu." Jasmine mencium tangan ibu mertuanya dengan sangat lembut.
"Hati-hati, dan jangan lupa! Poto bayi kalian karena kami penasaran," ucap Bu Jima.
Jasmine dan Aldalin menganggukkan kepala kemudian bergegas pergi dari sana, karena mereka sudah hampir terlambat menemui dokter kandungan Jasmine.
Selama di perjalanan, Aldalin terus-menerus berpikir bagaimana cara agar Jasmine tidak mengetahui tentang keadaan calon anak mereka yang cacat.
'Bagaimana agar aku bisa membuat Jasmine tidak tahu tentang anak kami yang cacat? Aku tidak sanggup, melihat dia harus bersedih karena hal itu. Karena aku sudah menerima semuanya,' batin Aldalin.
Jasmine merasa aneh melihat Aldalin yang seperti tengah menyembunyikan sesuatu hal yang besar padanya. Namun, dia enggan untuk bertanya pada sang suami.
Gadis itu menatap wajah sang suami dan Aldalin hanya tersenyum, menutupi rasa cemas dan gelisah.
Setelah sampai di rumah sakit, mereka langsung masuk ke dalam ruangan dokter karena Jasmine sudah tidak sabar melakukan USG.
Kini mereka duduk di hadapan sang dokter, yang tengah memeriksa keadaan Jasmine yang sudah sangat membaik.
"Keadaan Bu Jasmine sudah membaik. Sekarang kita periksa keadaan anaknya," ucap Dokter.
__ADS_1
Jasmine berjalan naik ke atas tempat tidur pasien, dan Dokter mulai mengoleskan jel dan melakukan USG. Gadis itu tersenyum melihat wajah sang anak yang sudah mulai terlihat.
"Mas Al, lihatlah anak kita," ucap Jasmine dengan sangat bergembira, bisa melihat wajah calon anak mereka.
"I-ya sayang," jawab Aldalin gugup, dan takut akan apa yang terjadi selanjutnya.
"Sekarang usia kehamilannya sudah memasuki bulan keenam. Hanya tinggal menghitung Minggu saja kalian sudah bisa menimangnya," ucap Dokter sambil terus memeriksa kandungan Jasmine.
Jasmine semakin bahagia mendengar ucapan sang dokter, dan dia langsung menatap wajah sang suami dengan sangat bahagia.
"Ibu Jasmine harus menerima kekurangannya," ucap Dokter tersebut sambil menyudahi memeriksa kandungan Jasmine.
Jasmine mengerutkan keningnya, sambil menatap wajah sang suami yang sudah mengeluarkan keringat dingin. Gadis itu tidak mengerti apa maksud dokter mengatakan dia harus menerima kekurangan calon anaknya.
"Ma-maksudnya apa?" tanya Jasmine dengan nada bergetar.
...Bersambung....
Maaf. Ya, teman-teman author belum bisa crazy update karena lagi sakit.🥲
__ADS_1