Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 36 Ungkapan Jasmine


__ADS_3

Jasmine langsung memakan makanan yang di berikan oleh calon mertuanya, setelah selesai makan ia menghabiskan susu dari calon mertuanya itu.


"Jasmine, tadi Al mengatakan jika Samudra akan segera sampai sebaiknya kita tunggu saja dia di luar," ucap Bu Jima sambil mengelus-elus rambut gadis itu dengan lembut.


Jasmine baru teringat kalau tidak melihat adanya Samudra sejak ia sampai, ternya adiknya itu sedang di luar kota.


'Pantas saja aku tidak melihatnya, ternyata dia tidak ada di mansion ini. Setelah aku menemuinya akan membicarakan isi hatiku padanya,' batin Jasmine.


"Iya Bu, sebaiknya kita tunggu di luar saja," sahut Jasmine sambil beranjak bangun dari duduknya.


"Ayo, ibu akan membantumu untuk berjalan," ucap Bu Jima sontak membuat Jasmine langsung tertawa kecil.


"Bu, seharusnya Jasmine yang membantu Ibu bukannya sebaliknya," kekeh Jasmine.


Bu Jima tertawa sambil berjalan menuju luar yang di bantu oleh Jasmine, setelah mereka sampai langsung duduk di sofa.


"Bu, pasti Ibu lelah bukan?" tanya Jasmine sambil beranjak dari duduknya, kemudian duduk di bawah dengan perlahan.


"Bangun sayang, jangan seperti ini karena kamu itu sedang mengandung anak Al," ucap Bu Jima sambil membantu Jasmine bangun.


Jasmine merasa nyeri di dalam hatinya, saat Bu Jima mengatakan jika dirinya hamil anak Aldalin.


'Kenapa sakit dan nyeri di dalam hati ini masih terasa, seharusnya aku bisa melupakannya,' batin Jasmine.


"Al berpesan, kalau ibu harus menjagamu dan calon anaknya ini." Bu Jima mengelus-elus perut Jasmine yang sudah mulai membuncit.


Jasmine masih saja terdiam mendengar ucapan Bu Jima yang membuat hatinya terasa nyeri, saat itu juga Samudra baru sampai dan langsung menghampirinya.


"Kak Jasmine!" teriak Samudra sambil memeluk Jasmine dengan sangat erat.


Keduanya sama-sama menangis tersedu sambil berpelukan, sedangkan Bu Jima hanya bisa meneteskan air mata, saat melihat cucunya sudah besar.


"Kak Jasmine, Sam rindu." ucap Samudra yang menangis tersedu di dalam pelukan sang kakak.


Jasmine melepaskan pelukannya, kemudian menghapus air mata dan juga air mata Samudra.


"Itu, Nenek." Jasmine menunjuk ke arah Bu Jima dan Samudra langsung memeluk sang nenek dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Maaf jika Sam tidak pernah melihat nenek karena Sam tidak tahu, kalau nenek hidup kembali," ucap Samudra dalam tangisnya.


Sontak membuat Jasmine dan Bu Jima saking menatap satu sama lainnya, dengan senyuman yang menghiasi wajah mereka.


"Sam, sebenarnya kakek memiliki dua istri bukannya nenek hidup kembali," jelas Jasmine yang menahan tawanya.


Samudra langsung membuka mulutnya lebar-lebar, dan melepaskan pelukannya sambil menatap wajah Bu Jima.


"Maafkan Samudra. Ya, nek karena tidak pernah menemui nenek," ucap Samudra dengan sangat polos.


Bu Jima tersenyum kemudian memegang tangan Samudra dengan perlahan.


"Sam, walaupun nenek ini adalah ibu sambung ayahmu akan tetapi, nenek sudah seperti ibu kandungnya," sahut Bu Jima dengan senyumannya.


Samudra tersenyum dan merasakan kalau kakinya di senggol oleh Jasmine, ia pun menatap wajah sang kakak yang memberikannya kode.


Jasmine memberikan kode pada Samudra ia ingin bicara, dan sang adik menganggukkan kepalanya.


"Euum, nek bisakah Sam bicara sebentar saja dengan Kak Jasmine?" tanya Samudra dengan sangat hati-hati.


Samudra takut jika sang nenek akan marah padanya, pasalnya mereka baru saja bertemu dan berbicara dan ia harus pergi.


"Kami permisi dulu, nek." Samudra menarik tangan Jasmine menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


Setelah mereka sampai, mulailah Jasmine duduk di sofa sambil menangis tersedu-sedu. amudra mendekati sang kakak dan memeluknya.


"Katakan, ada apa?" tanya Samudra sambil mengelus-elus punggung Jasmine agar kakaknya bisa tenang.


Jasmine melepaskan pelukannya, kemudian menatap wajah Samudra, lagi-lagi ia tidak bisa menahan tangisnya sehingga ia menangis tersedu.


"Kak Jasmine, jangan takut katakan ada apa?" tanya Samudra yang mulai cemas, karena sejak tadi Jasmine hanya diam dan menangis saat ia bertanya.


"Sam, ternyata kakak ini bukan anak ayah," ungkap Jasmine. Samudra membulatkan matanya saat mendengar ungkapan kakaknya barusan.


"Lalu kita?" tanya Samudra dengan cepat.


Karena ia takut jika dirinya dan Jasmine bukan adik dan kakak.

__ADS_1


"Kita hanya beda ayah Sam, kakak ini anak ibu dengan selingkuhannya itu," jawab Jasmine dengan tangisannya.


Samudra sangat terkejut akan ucapan Jasmine, ia langsung menghapus air mata sang kakak yang terus-menerus berjatuhan dengan deras.


"Kak Jasmine, kita tetap adik dan kakak bukan?" tanya Samudra dengan lembut, agar Jasmine berhenti menangis.


"Sam, bukan itu yang membuat kakak sedih akan tetapi, aku hamil anak ayah," ungkap Jasmine.


Lagi-lagi Samudra sangat terkejut akan apa yang di dengar, sehingga ia hanya diam sambil mendengarkan ucapan Jasmine.


"Walaupun kami buka ayah dan anak, tetap saja kakak tidak mau menikah dengan ayah. Ayolah Sam bantu aku," ucap Jasmine dengan sangat lirih.


Samudra bingung harus berbuat apa karena saat ini di hadapkan oleh maslah sulit, yang pertama dia tidak menyangka jika dirinya dan Jasmine hanya adik dan kakak tiri saja. Yang kedua ia tidak bisa membantu sang kakak.


Kakak tirinya akan menjadi ibu sambungnya, walaupun mereka satu ibu tetap saja mereka bukan kandungan karena mereka beda ayah.


"Kak Jasmine, aku akan bicara kepada ayah dan membantu kakak semampuku," ucap Samudra dengan lembut.


Jasmine tersenyum karena berharap jika Samudra akan membantunya, agar tidak bisa menikah dengan ayahnya walaupun mereka bukan ayah dan anak kandung.


*


*


Aldalin bersama dengan Azam sedang berada di ruangan meeting, bersama dengan semua karyawan yang ada di kantor.


"Semuanya, saya kumpulkan di sini untuk memberitahu, kalau Azam adik kandung saya ini akan memimpin perusahaan dalam waktu dekat ini, saya harap kalian semua bisa terima dan bekerjasama," ucap Aldalin sambil melirik ke arah Azam yang berada di sampingnya.


"Baik Pak!" teriak semua karyawan dengan serempak.


"Hanya itu saja yang saya sampaikan, selebihnya akan di sampaikan oleh Jhoni saat dia sampai di kantor besok," ucap Aldalin dengan sangat tegas.


"Kalian bisa kembali bekerja," tambah Aldalin lalu semua karyawan bergegas pergi dari sana, untuk melanjutkan kembali pekerjaan mereka masing-masing.


"Azam, besok kau akan mendaftar kuliah di kampus Samudra dan Jasmine. Karena di sana sangat bagus, jika kau ingin di luar negeri juga boleh," ucap Aldalin sambil berjalan keluar menuju ruangannya.


"Tidak, aku di sini saja karena tidak bisa berjauhan dari ibu," sahut Azam sambil mengikuti langkah Aldalin.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2