
Jasmine berjalan dengan perlahan ke luar dari kamar, ia menghampiri sang suami yang sedang duduk di sofa sambil menelpon seseorang.
"Euum, Mas sudah siap?" tanya Jasmine dengan sangat canggung, karena memanggil Aldalin mas.
Aldalin langsung memutuskan sambungan telepon, kemudian bangun dan mencium puncak kepala Jasmine tanpa rasa malu.
'Aku malu sekali, Ayah menciumku di keramaian orang seperti ini,' batin Jasmine.
Aldalin tidak memperdulikan tatapan semua pelayan yang tengah bekerja. Dengan perlahan ia menggandeng tangan sang istri ke luar rumah.
Para pelayan mulai berbisik-bisik, melihat sang majikan kian bucin pada gadis yang selalu di siksa dulu.
"Sinta, aku bahagia sekali melihat mereka seperti tadi saat tuan mencium puncak kepala Jasmine. Dulu ... gadis itu selalu saja mendapatkan siksaan," ucap salah satu pelayan di sana.
Sinta menghampiri sang sahabat itu, kemudian mulai berbisik agar tidak ada yang mendengar ucapannya.
"Itu adalah karma, karena kita tidak boleh membenci seseorang dengan sangat dalam. Maka itu semua akan menjadi kebalikannya," bisik Sinta.
Pelayan di sana mulai menceritakan tentang Jasmine dan Aldalin, yang sangat romantis di mata mereka.
*. *. *
Aldalin membuka pintu mobil, agar Jasmine masuk dengan mudah. Setelah itu ia juga langsung masuk ke dalam duduk bersebelahan dengan sang istri.
"Jasmine," panggil Aldalin dengan sangat lembut.
"Iya Mas, ada apa?" tanya Jasmine dengan sangat lembut sambil melirik ke arah sang suami.
"Minggu depan, aku akan membawamu ke kota B agar bayi kita bahagia," jawab Aldalin dengan sangat santai.
Jasmine hanya menganggukkan kepala, karena akan percuma saja kalau dia menolak keinginan sang suami.
'Kalau aku menolak akan percuma saja, sudah pasti Ayah tidak akan mendengarkan aku,' batin Jasmine.
Setelah sampai di rumah sakit, Aldalin membawa kursi roda agar Jasmine tidak berjalan. Pria paru baya itu takut kalau sang istri kenapa-kenapa.
"Mas Al, untuk apa kursi roda itu?" tanya Jasmine sambil menatap sang suami.
Aldalin mendekati Jasmine dan mencium kening sang istri tanpa rasa malu, berada di keramaian orang seperti saat ini.
__ADS_1
"Jasmine, ini untuk anak kita karena aku tidak mau sampai anakku sakit," ucap Aldalin sambil membantu sang istri duduk di kursi roda.
Jasmine tidak membantah lagi ucapan sang suami karena itu percuma saja, kalau Aldalin sudah mengatakan harus maka akan terjadi.
Setelah meraka sampai di ruangan Dokter, Jasmine langsung di periksa dan juga USG 4D karena Aldalin yang menginginkannya.
"Selamat, anak kalian laki-laki dan usia kehamilannya sudah memasuki bulan keempat," ucap sang Dokter sambil terus melakukan USG.
"Ah, anakku dua-duanya pria padahal, aku ingin sekali memiliki anak perempuan," ucap Aldalin lirih.
Karena dia memang menginginkan anak perempuan, sejak ia menikahi ibunya Jasmine dan dulu Aldalin sangat menyayangi gadis itu. Namun, sejak pengkhianatan Tasya di situlah awal mula dia berubah.
"Mas Al, terima saja kalau anak kita laki-laki. Bukankah Sam akan ada temannya?" tanya Jasmine dengan sangat lembut.
Aldalin tersenyum mendengar ucapan Jasmine, agar dia tidak bersedih karena anaknya laki-laki lagi.
"Terimakasih," ucap Aldalin dengan sangat lembut.
Setelah USG selesai, Jasmine duduk bersama sang suami berhadapan dengan Dokter yang sedang menjelaskan hasil pemeriksaan tadi.
"Semuanya baik, Istri bapak juga sehat," jelas Dokter tersebut sambil memberikan resep obat dan susu ibu hamil untuk Jasmine.
Saat Jasmine dan Aldalin berjalan, mereka tidak sengaja mebarak wanita paru paya yang tengah terburu-buru.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap wanita tersebut sambil merapikan penampilannya, kemudian ia menatap wajah Jasmine dan Aldalin.
"Tasya!"
"Aldalin!"
Jasmine terkejut sang suami menyebutkan nama ibunya, kemudian dia menatap wajah wanita yang ada di hadapannya.
"Dia siapa?" tanya Tasya sambil melirik ke arah Jasmine terlihat jelas gadis itu tengah mengandung, di karenakan perut yang sangat buncit.
Jasmine berjalan ke belakang tubuh Aldalin, dan memeluk sang suami karena dia takut ibunya akan membawa ia pergi.
"Katakan!" sentak Tasya emosi, karena Aldalin sama sekali tidak menjawab ucapannya.
"Jasmine," jawab Aldalin sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
Tasya langsung mengeluarkan air matanya, mendengar kaula wanita mudah yang sedang mengandung itu adalah anaknya. Perlahan dia mendekati Jasmine.
"Sayang, ini ibu." Tasya berucap dengan lirih sambil terus berjalan menuju Jasmine. Namun, gadis itu langsung menjauh dengan sangat cepat.
"Jangan mendekat!" jerit Jasmine, membuat semua orang yang berlalu lalang langsung menonton apa yang sedang terjadi.
Tasya terkejut mendengar anaknya membantai dirinya, sehingga dia menangis sambil menatap ke atas sang anak. Sedangkan Aldalin sama sekali tidak perduli pada mantan istrinya itu.
"Jasmine, masuk ke dalam mobil sekarang! Aku akan menyelesaikan ini," pinta Aldalin.
Jasmine langsung bergegas pergi dari sana, dengan berlari karena dia sangat membenci sang ibu. Tasya hendak mengejar anaknya. Namun, Aldalin menarik tangannya.
"Jasmine!" teriak Tasya menatap kepergian sang anak yang sangat di rindukan.
"Al, lepaskan aku!" sentak Tasya. Namun, Aldalin sama sekali tidak menggubrisnya.
Aldalin menarik tangan Tasya menuju tempat yang sunyi agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka. Setelah sampai di sudut rumah sakit pria itu duduk bersama mantan istrinya.
"Kumohon, jangan seperti ini Mas Al, pertemukan aku dan Jasmine," ucap Tasya dengan lirih.
"Kami sudah menikah, dan jangan harap kau dan suamimu itu membawa Jasmine dariku!" seru Aldalin.
Tasya tidak terkejut mendengar ucapan manta suaminya, yang mengatakan anaknya dan Aldalin sudah menikah. Sebab, dia sudah tahu pernikahan itu.
Tasya tersenyum simpul, kemudian bangun dan menatap wajah Aldalin dengan sangat dekat.
"Dengar baik-baik, aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Karena Jasmine bukan anakmu dengan mudah aku akan membawanya," ucap Tasya dengan sangat berani melawan Aldalin.
Aldalin bangun dan memegang tangan Tasya dengan sangat kuat, sehingga manta istrinya meringis kesakitan. Namun, dia sama sekali tidak peduli pada wanita paru paya itu.
"Kau bisa saja membawa masalah ini ke jalur hukum. Tapi, kalian akan kalah karena Jasmine saat ini adalah istri sah Aldalin Kusnaeni!" cecar Aldalin sambil bergegas pergi dari sana.
Tasya terduduk lemas di lantai, dengan air mata yang mengalir deras membasahi seluruh wajahnya. Bukan karena ucapan Aldalin tadi membuat dia menangis. Namun, ia mengingat kembali saat Jasmine tidak mau mendekat dengannya.
'Jasmine, ibu sangat rindumu sayang, Kenapa kamu tidak mau mendekati ibumu ini,' batin Tasya lirih.
Tasya sangat menyesali perbuatan puluhan tahun lalu, saat dia meninggalkan anak-anaknya bersama dengan mantan suaminya. Hanya untuk bersama pria yang lebih kaya dan di cintainya.
Bersambung.
__ADS_1