Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 08 Kenapa aku ingin memeluknya


__ADS_3

Malam hari tiba, Jasmine terbangun sebab ia sama sekali belum membersihkan diri. Gadis itu beranjak dari tidurnya, lalu dia berjalan mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Kenapa aku mengeluarkan flek? Apakah aku sakit? Tapi, seingatku beberapa minggu yang lalu aku baru saja datang bulan?" Jasmine berucap dengan nada lirih.


Ia merasa heran karena ini kali pertamanya mengeluarkan flek saja dan tidak ada sebabnya.


*


*


Samudra duduk bersama dengan ayahnya karena mereka baru saja selesai makan. Kini mereka tengah berbincang sedikit seperti biasa.


"Sam, bagaimana dengan kuliah mu?" tanya Aldalin sambil menatap wajah anak tersayangnya.


"Baik Ayah," jawab Samudra dengan sangat lembut.


Pada saat itu juga Jasmine melewati mereka. Kemudian langkahnya terhenti saat Samudra memanggil namanya.


"Kak Jasmine, tunggu!" Samudra langsung menghampiri Jasmine.


"Iya," jawab Jasmine sambil membalikan badannya dan menatap ke arah Samudra.


"Kak Jasmine, mau pergi kemana?" tanya Samudra.


Aldalin mendengar jelas percakapan mereka. Namun, ia hanya diam saja tidak peduli akan Jasmine.


"Euum, aku mau pergi sebentar mau membeli pembalut," jawab Jasmine yang mengecilkan suaranya, saat mengatakan kata 'pembalut tadi.


Akan tetapi, Aldalin masih dapat jelas mendengarkannya.


"Oh, sebaiknya aku antar saja! Pasti Kakak sangat membutuhkannya?" tawar Samudra.


Jasmine menolaknya akan tetapi, Samudra tetap saja ngotot untuk mengantarkannya. Sehingga dia tidak bisa menolak lagi. Aldalin hanya diam saja karena ia malas melarang Samudra.


Jasmine dan Samudra naik motor berdua menuju Swalayan terdekat, karena gadis itu tidak ada lagi setok membalut dan saat ini ia sama sekali tidak menggunakan barang tersebut.


"Kak Jasmine, apa? Wanita seperti itu setiap bulan?" tanya Samudra yang merasa penasaran. Dia juga ingin tahu, datang bulan seperti apa dan bagaimana.


"Iya, dan kakak selalu merasakannya. Sudahlah jangan dibahas lagi! kakak malu karena, kan' kamu laki-laki," jawab Jasmine.


Samudra tertawa karena kali ini dia bisa bersama dengan kakaknya, tanpa ada yang menghalanginya seperti biasa.


*

__ADS_1


*


Aldalin duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya, dan melihat jika Jasmine sudah pulang bersama dengan Samudra.


"Sam, duduk di sini! Ayah ingin berbicara sebentar!" Aldalin menepuk sebelah kursinya, meminta Samudra duduk.


Samudra menghentikan langkahnya, kemudian ia menatap wajah Jasmine.


"Kak Jasmine, besok kita bertemu lagi dan jangan lupa untuk istirahat ya," ucap Samudra.


Jasmine menganggukkan kepala, kemudian bergegas pergi menuju kamarnya karena ia ingin segera memakai pembalut.


Samudra duduk di samping ayahnya sambil menatap ke arah dapur, dan Aldalin juga melirik ke arah dapur yang terlihat tidak ada siapapun.


"Hei, tidak ada siapapun, di sana?" tanya Aldalin.


Samudra langsung menatap ayahnya dan dia tersenyum, karena dia tadi memperhatikan gerak-gerik dari kakaknya yang sedang membawa pembalut.


"Ayah, tadi ingin mengatakan apa?" tanya Samudra dengan sangat cepat agar sang ayah tidak mencurigainya.


"Iya, ayah akan ke luar kota untuk satu bulan. Sebab ada proyek di sana. Jadi, ayah harap kamu bisa mengurus mansion ini! Karena jika wanita ja-lang itu kabur, maka ayah akan langsung menghabisi nyawanya!"


Samudra tersenyum, karena ia akan bebas bertemu Jasmine. Dan kakaknya itu juga akan bebas dari ayah mereka untuk sementara waktu.


"Iya, Ayah tenang saja! Sam akan menjaga rumah ini, sampai Ayah kembali," jawab Samudra dengan sangat bahagia.


Aldalin memeluk Samudra dengan sangat lembut. Pada saat itu juga Jasmine melihatnya karena ia akan keluar untuk membeli makan malamnya sekalian juga ingin berjalan-jalan.


'Sakit hati ini melihatnya. Aku juga sudah merasakan pelukan ayah malam itu, walaupun hanya sebuah kesalahan. Akan tetapi, aku merasa bahagia telah mendapatkannya,' batin Jasmine.


Jasmine cepat-cepat pergi sambil menghapus air mata yang sudah berjatuhan, dan tidak ada yang melihat jika dirinya pergi dari mansion.


Jasmine berjalan dengan perlahan sambil meneteskan air matanya. Entah mengapa hatinya terasa sangat nyeri saat mengingat malam kelam itu bersama dengan sang ayah.


'Pantas saja aku mendengar suara ayah, ternyata dia benar-benar ayah semoga saja tidak ada yang tahu akan hal ini. Karena aku tidak mau sampai aku di perlakukan tidak baik oleh ayah lagi,' batin Jasmine.


Jasmine menghentikan langkah di sebuah warung mie ayam kesukaannya, dia langsung memesan satu porsi lalu dia langsung memakannya.


Saat itu juga ada tangan yang memegang pundaknya, dengan sangat terkejut Jasmine mencoba menenangkan dirinya.


"Hai sayang, kau melupakanku sepertinya?" tanya seseorang dari belakangnya.


Jasmine langsung menoleh, kemudian ia tersenyum melihat siapa orang yang memegang pundaknya.

__ADS_1


"Kau, jangan melupakan tentang kita."


"Menyebalkan Difa!" teriak Jasmine.


Jasmine memukul tangan Difa dan sahabatnya itu tertawa sambil mendudukkan bokongnya di sampingnya.


"Hei! Kau makan enak malam ini, tapi jangan lupa hutangmu padaku, ya! Sebab hutang itu bukan mantan, yang kau lupakan begitu saja," kekeh Difa.


"Baiklah, pesan saja! Aku akan membayarnya kali ini," sahut Jasmine. Difa langsung memesan mie ayam juga.


"Kamu, lagi datang bulan?" tanya Difa, dan Jasmine langsung menoleh.


"Kok kamu, tahu?" Jasmine menjawab sambil menatap wajah Difa dengan sangat dekat.


"Soalnya, ada noda merah sedikit dibaju mu," sahut Difa.


Sontak Jasmine langsung bergegas melihat bajunya, benar saja ada sedikit noda darah dibajunya.


'Padahal saat aku ingin memakai pembalut tidak ada darah, dan sekarang keluar dan hanya sedikit saja seperti flek,' batin Jasmine.


"Sudah, lupakan saja. Ngomong-ngomong kamu kenapa sudah beberapa hari ini tidak kuliah?" tanya Difa sambil menyantap mie ayam miliknya.


"Tidak ada! Hanya saja, aku tidak ingin kuliah lagi. Sebab akan percuma dan sia-sia saja. Mendingan aku kerja dan mendapatkan uang," jawab Jasmine.


Sontak Difa langsung memegang kening Jasmine, karena ia tahu betul sahabatnya itu seperti apa.


"Kamu baik-baik saja 'kan, sayang?" tanya Difa karena setahunya sahabat sangat mengutamakan pelajaran.


"Pelajaran itu penting Difa, dan kita harus mengejar cita-cita kita."


Difa mengingat kembali ucapan Jasmine yang ada di dalam kepalanya sampai saat ini.


Setelah selesai makan Jasmine bergegas pulang dengan berjalan kaki, karena jarak warung mie ayam dengan mansion hanya beberapa menit saja.


Setelah sampai di rumah, Jasmine melihat ayahnya sedang berdiri di balkon sambil merokok dan menatap ke arahnya.


'Perasaan apa ini, kenapa? Aku ingin selalu bisa bersama ayah apa? Aku tidak pernah di sayang oleh ayah?' batin Jasmine.


Jasmine bergegas masuk kedalam dan ia langsung pergi ke kamarnya. Kemudian menidurkan tubuhn sebab ia merasa leleh.


"Kenapa, aku ingin memeluknya?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2