Salah Jasmine Apa?

Salah Jasmine Apa?
Episode 76 Pria normal


__ADS_3

Nana membuka kedua matanya, dan melihat dia ada di dalam ruang inap. Namun, dia tidak tahu siapa yang membawanya dan pria yang ada di tempat tidur pasien itu.


'Eh, siapa yang mambawa aku ke sini? Lalu, pria itu siapa?' batin Nana sambil berpikir.


Nana tidak bangun, dia hanya diam sambil mencoba untuk mengingat kembali kejadian semalam. Namun, ia sama sekali tidak bisa mengingat apapun karena semalam dia tertidur pulas.


Saat tengah berpikir, Samudra datang dan langsung mencium puncak kepalanya. Sontak membuatnya terkejut dan langsung bangun.


"Sam, untuk apa kamu mambawa ku ke sini?" tanya Nana dengan sangat lembut.


Samudra tersenyum, dan memegang tangan Nana dan mengecup tangan tersebut dengan sangat lembut.


"Dia ayahku," jawab Samudra.


Nana menaikkan sebelah alisnya, dan melirik ke arah pria yang terbaring lema di atas tempat tidur pasien itu.


"Maksudnya ayahnya kak Jasmine, dan bukankah adalah ayahku juga?" ucap Samudra dengan sangat lembut.


Nana mengerti dan menganggukkan kepala, kemudian bangun dan berjalan ke luar kamar. Sebab, dia ingin melihat keadaan sang ibu yang masih koma bersama dengan Samudra.


"Na, apa sebaiknya aku antar kamu pulang?" tanya Samudra dengan sangat lembut.


Nana mengentikan langkahnya, kemudian menatap wajah Samudra dan memegang tangan pria itu.


"Terimakasih Sam, nanti setelah aku melihat keadaan ibu ... aku akan pulang bersamamu," jawab Nana dengan lembut.


"Baik," sahut Samudra.


Mereka berdua berjalan kembali. Nana menahan rasa sakitnya agar tidak di ketahui oleh Samudra, karena dia ingin mengetahui kebenaran lebih dahulu benar atau tidak kekasihnya itu berselingkuh.


Setelah sampai di ruangan sang ibu, Nana masuk ke dalam dan melihat sang ayah tengah berbicara pada sang ibu yang masih koma.


'Kasihan ayah, dia sampai seperti itu karena ibu koma,' batin Nana.


Gadis itu berjalan mendekati sang ayah dan memeluk pria itu dengan sangat lembut, dan meneteskan air mata saat melihat ibunya tak kunjung sadar.


"Ayah ... kenapa ibu tidak sadar-sadar?" tanya Nana dengan lirih.


Jhoni menarik tangan sang anak dan memeluknya, sambil mengelus-elus rambut Nana dengan lembut.


"Entahlah, ayah juga tidak tahu," jawab Jhoni.


Nandini masih saja diam dan tidak ada kemajuan, dan keadaannya semakin memburuk hari ini. Namun, Jhoni tidak memberitahu Nana karena dia takut membuat gadis itu semakin cemas.


"Ayah, Nana pulang dulu. Ya? Nanti kembali lagi," ucap Nana sambil melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


"Iya. Ambil kunci mobil ini!" Jhoni memberikan kunci mobilnya, karena dia tahu Samudra yang akan mengantarkan putrinya.


Nana mengambil kunci itu dan mencium pipi sang ayah, kemudian bergegas pergi dari sana. Gadis itu menghampiri Samudra yang tengah duduk di bangku tunggu pasien dan memberikan kunci mobil.


"Ayo sayang." Samudra langsung menggandeng tangan Nana, dan mereka berjalan ke luar dari rumah sakit.


Setelah sampai di dalam mobil, Nana duduk di samping Samudra dan pria itu langsung mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang agar mereka selamat sampai tujuan.


"Na, setelah sampai aku juga ikut masuk. Ya?" tanya Samudra sekaligus meminta izin.


Nana menaikan sebelah alisnya dan tersenyum, kemudian memegang tangan Samudra.


"Tunggu saja! Di dalam mobil, aku tidak akan lama kok mandinya," ucap Nana dengan sangat lembut.


Samudra mengendus kesal, karena tidak bisa ikut bersama sang kekasih masuk ke dalam kamar. Karena, pria itu ingin bermesraan dengan sangat kekasih. Namun, sayangnya Nana tidak mau hal itu terjadi.


*


*


*


Jasmine dan Aldalin pulang hari ini, karena meraka ingin menjenguk ibunya Nana yang koma di rumah sakit. Sebab, mereka juga baru tahu kalau istri Jhoni itu sakit.


"Jangan! Biar aku saja! Yang membereskan semuanya," cegah Aldalin saat Jasmine hendak membereskan baju-baju mereka.


"Cuma itu saja kok Mas, jangan! Cemas," ucap Jasmine.


Aldalin langsung menghampiri sang istri dan menyambar bibir ranum itu, dan mereka berdua seperti tersengat listrik dan saling berpelukan.


Aldalin mengentikan aksinya, karena dia takut membuat Jasmine dan anak mereka kelelahan kalau dia terus bermain di gua itu.


"Kenapa berhenti?" tanya Jasmine tanpa sadar, karena dia masih menginginkan hal itu terulang kembali.


Aldalin tersenyum dan mencubit hidung mancung sang istri karena merasa sangat gemas.


"Di rumah saja! Kita, kan' mau pulang dan menjenguk ibunya Nana," jawab Aldalin dengan sangat lembut.


Jasmine langsung diam dan tersipu malu, karena sudah meminta Aldalin untuk bermain lagi bersamanya. Walaupun ia tengah hamil tua, tetap saja gairah itu muncul.


"Ayo, nanti kita bisa terlambat." Aldalin membawa dua koper milik mereka bersama Jasmine.


Satu jam kemudian ...


Kini Aldalin dan Jasmine sudah sampai di kota mereka, dan langsung di jemput oleh anak buah. Kemudian melajukan mobil menuju rumah sakit karena perintah Aldalin.

__ADS_1


Jasmine merasa lelah sehingga dia bersandar di bidang dada suspek Aldalin, karena di sana terasa sangat nyaman.


'Aku ingin selalu ada di dalam pelukan ini, karena nyaman dan membuatku tenang,' batin Jasmine.


Aldalin tersenyum dan mengelus-elus rambut Jasmine dengan lembut. Mereka terlihat sangat mesra seperti pengantin baru yang sedang di mabuk cinta.


'Aku ingin seperti ini saja! Sampai kapanpun itu,' batin Aldalin.


Setelah mereka sampai di rumah sakit, Aldalin membawa Jasmine mengunakan kursi roda. Karena, dia tidak ingin sampai terjadi sesuatu pada calon anaknya.


Aldalin membawa Jasmine menuju Jhoni yang terlihat sangat sedih, dan mereka berdua duduk di samping Jhoni.


"Bagaimana keadaan istri Om?" tanya Jasmine sambil menatap wajah Jhoni.


"Masih seperti itu. Bahkan, semakin memburuk," jawab Jhoni lirih.


Aldalin memegang tangan Jhoni dan menguatkan sang asisten yang sudah seperti saudara baginya.


"Bila perlu kau cuti saja! Biar perusahaan aku dan Sam yang mengurusnya," ucap Aldalin.


Jhoni menggelengkan kepalanya, karena semua itu adalah tanggung jawabnya. Dia tidak mau sampai salah satu proyek gagal atau berantakan. Sebab, dia yang sangat tahu tentang tender yang di pimpinannya.


"Aku sangat bahagia bisa memiliki bos, yang sangat baik seperti Tuan," ucap Jhoni dengan penuh haru.


Mereka berdua berpelukan, dan Jasmine hanya diam. Kemudian melihat Samudra datang bersama Nana menghampiri mereka.


Aldalin langsung bangun dan menarik tangan sang anak, kemudian menjewer telinga Samudra sampai sang anak meringis kesakitan.


"Ampun Ayah!" jerit Samudra.


"Jangan! Sampai kalian melewati batas!" geram Aldalin.


Samudra langsung berlari dan berlindung di sebalik tubuh Jhoni.


"Tuan, mereka berdua tidak ada melewati batas. Aku yakin sekali Sam pria yang baik, karena dia partner kerjaku," ucap Jhoni sambil melirik ke arah Samudra.


Samudra tersenyum karena Jhoni membelanya, walaupun dia sendiri tahu dirinya adalah pemuda yang baik.


"Aku tidak yakin," sahut Aldalin.


"Kenapa?" tanya Jhoni.


"Karena dia pria normal," jawab Aldalin.


Karena Aldalin pernah melihat Samudra menonton film dewasa, karena itu dia mengatakan kalau Samudra pria normal.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2