
Apa yang Lin Chen temukan saat kembali dan menemui Xia Yanran adalah Jimat Kutukan. Bentuk dan sifatnya sama persisi dengan yang yang terakhir yang dia netralkan, hanya saja ini sudah berubah dan yang tersisa hanyalah kulit saja.
Jimat Kutukan sendiri terbuat dari kulit binatang khusus, bukan terbuat dari kertas biasa.
"Nona Yanran, katakan dengan jujur, apa ada yang aneh yang terjadi baru-batu ini? jangan lupakan detail sekecil apapun itu." pinta Lin Chen.
Xia Yanran tidak langsung menjawab melainkan mengingat-ingat sesuatu.
"Aku tidak tahu ini hal yang aneh atau bukan tapi menurut aku, halaman rumah ini sudah cukup bagus dan tidak perlu ada perubahan lagi. Lagipula, apa yang dirubah? mereka bahkan tidak meletakkan satu tanaman pun di sana."
Lagi-lagi penggalian itu, Lin Chen kali ini sudah sampai pada kesimpulan kalau semua ini memang pekerjaan sekte Berhala. Sebenarnya, apa tujuan mereka dengan Jimat Kutukan ini.
Tadinya Lin Chen menduga masih bisa melakukan sesuatu begitu Xia Yanran mengatakan menemukan benda aneh di kamar kakeknya tapi melihat bentuk Jimat Kutukan itu, harapannya sirna.
"Oh ya ada satu lagi, orang-orang yang bekerja melakukan pekerjaan ini sepertinya bukan orang biasa."
"Maksudnya?"
"Itu... mereka tidak terlihat seperti pekerja taman, mereka lebih mirip dengan sekelompok pendeta?" ucap Xi Yanran lagi. "Dokter Lin, mungkin ayah dan yang lain tidak memperhatikan mereka karena mereka tidak ada di sini tapi aku setiap hari bersama kakek jadi aku tahu persis seperti apa mereka."
"Satu lagi, aku mendengar mereka berkata untuk membereskan yang lainnya karena waktunya sudah tiba."
Tidak salah lagi, itu dia. Pikir Lin Chen sambil mengepalkan tangannya. Lin Chen sekarang tahu kalau korban lainnya masih ada. "Sepertinya sekte Berhala ini memang harus dilenyapkan." ucapnya dalam hati.
"Dokter Lin, sebenarnya apa yang terjadi? apa kakekku masih ada harapan?"
"Untuk itu aku benar-benar minta maaf, seperti yang aku katakan sebelumnya, untuk saat ini aku tidak mempunyai caranya."
__ADS_1
"Lalu benda-benda ini untuk apa? bukankah ini petunjuk untuk menyelamatkan kakekku?"
Lin Chen menggeleng pelan, "Aku memang menduganya begitu."
Di sini Lin Chen tidak menceritakan keadaan sesungguhnya, lagipula tidak ada gunanya juga dia mengetahui hal ini.
"Nona Yanran, apa yang kamu temukan ini mungkin tidak bisa mengembalikan kakekmu tapi aku yakin ini bisa membantu atau paling tidak bisa menghindari adanya korban lagi."
Xia Yanran mengangguk patuh, dia juga bukan orang yang tidak masuk akal. Segala sesuatu sudah ada jalannya sendiri-sendiri.
"Terima kasih dokter Lin." ucapnya dengan air mata berlinang.
"Aku tidak akan tinggal lebih lama, doakan saja semoga tidak ada korban lainnya lagi."
Xia Yanran tidak berbicara lagi, sambil mengusap matanya, dia menatap punggung Lin Chen yang semakin menjauh.
Zhang Cuihua yang sejak tadi hanya diam tak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Dia langsung bertanya begitu mereka cukup jauh dari kediaman Xia.
"Jangan menganggap aku masih kecil, kamu kira aku tidak tahu kalau penderitaan kakek Yanran sebenarnya karena perbuatan jahat seseorang?"
"Oh jadi menurutmu bagaimana?" Lin Chen tersenyum saat bertanya.
"Tentu saja kita harus menyelidikinya. Aku yakin orang ini pasti tergabung dalam sebuah organisasi rahasia dan mengincar orang-orang kalangan atas."
"Lalu, bagaimana seharusnya?"
Lin Chen berpikir Zhang Cuihua sangat imut saat melakukan analisis. Pikiran untuk menggodanya pun muncul.
__ADS_1
"Hm, penyilidikan harus dimulai dari para pekerja taman itu dan ... "
Zhang Cuihua terus saja berbicara, mengemukakan semua pikirannya. Dari mulai menyelidiki pekerja taman sampai mencari dan menghancurkan orang-orang yang terlibat. Semua dikatakannya dengan apik.
Sesekali dia berhenti dan berpikir ulang ketika Lin Chen menyela dan bertanya. Sementara Lin Chen terus saja melihat tanpa berkedip.
Bibir merah Zhang Cuihua terus saja bergerak lincah, sesekali matanya yang jernih tampak penuh semangat dan karena mereka berbicara sambil berjalan, keringat pun mulai terlihat di wajah putihnya, menambah pesona tersendiri.
Apalagi saat Zhang Cuihua beberapa kali terlihat sangat bersemangat Ia berkata akan menghajar sendiri orang-orang jahat itu.
Benar-benar gadis muda yang penuh energi.
'Dokter Lin, apa kamu mendengarku? bagaimana rencanaku, bagus kan? nah kapan kita akan pergi menyelidiki masalah ini?"
"Menyelidiki apa? ini bukan urusan anak kecil dan siapa bilang aku akan menyelidikinya? aku akan menyerahkan ini pada polisi."
Ucap Lin Chen yang sudah kembali dari dunianya sendiri.
"Tapi, tapi.... "
"Tidak ada tapi tapi," Lin Chen mengetuk kening Zhang Cuihua sebelum berkata. "Sudah pulang sana, aku mau ke kantor polisi."
"La-lalu untuk apa kamu bertanya terus?" Zhang Cuihua mulai kesal. Kalau orang di depannya ini bukan Lin Chen, pasti sudah dihajarnya sejak tadi.
"Tidak apa-apa, aku hanya menyukaimu tadi, kamu terlihat cantik saat bercerita. Sudah ya, aku pergi duluan."
Lin Chen pun pergi meninggalkan Zhang Cuihua sendiri. Dia berdiri sambil memegangi keningnya yang tadi diketuk ringan oleh Lin Chen.
__ADS_1
"Apa aku cantik." gumamnya tanpa sadar. "Aduh, ada apa denganku?" Zhang Cuihua merasa malu sendiri dengan pikirannya, mukanya memerah sampai ke lehernya.