
Pria itu terlempar, sama seperti lima orang sebelumnya, tangannya patah.
"Padahal jika kamu tadi memberikan milikku, hal ini tidak akan terjadi lagi."
"Tunggu, kamu mau apalagi?" pria itu mulai ketakutan saat Lin Chen mendekatinya. Ia beringsut di lantai sambil memegang tangannya yang patah.
"Mematahkan kakimu," ucap Lin Chen dingin. "Karena tadi kamu juga ingin kakiku patah maka maka jangan salahkan aku kalau aku juga ingin kakimu patah."
Krakk...
Suara tulang patah memecah keheningan pabrik, disusul teriakan kesakitan.
Lin Chen tak peduli dengan rintihan kesakitan enam orang itu, dengan santai, Ia memilah bahan herbalnya sendiri dan memasukkannya dalam kantung besar untuk dibawa pulang. Utang sudah dibayar lunas, tak ada gunanya lagi Ia tetap tinggal di sana.
Prokk prokk prokk
Seorang pria masuk sambil bertepuk tangan.
"Bagus, bagus... tidak kusangka masih ada orang berani membuat onar di tempatku."
Lin Chen memicingkan matanya, "Orang ini kuat." ucapnya dalam hati dan merasa ini akan sangat sulit.
"Tuan, anda datang. Beri pelajaran pada orang ini, dia telah melukai kami."
"Tuan, jangan beri ampun."
"Hahaha hari ini tamat riwayatmu."
Enam orang itu berbicara silih berganti, mereka tampak sangat senang dan tidak sabar melihat Lin Chen dihabisi.
"Diam! kalian pikir kalian ini siapa? berani menyuruhku hah?"
"Ta-tapi tuan...." enam orang itu tak percaya namun sesaat kemudian raut muka mereka memucat. "Tuan.... ja-jangan, jangan, kami bersedia melakukan apa pun."
"Baguslah kalau kalian bersedia melakukan apapun. kalian tentu tidak keberatan untuk mati kan hehe..."
Enam belati melesat terarah ke leher enam orang.
__ADS_1
"Tuan, anda ... "
"Kalian sudah tidak berguna, jadi lebih baik mati saja"
Sungguh malang nasib enam orang itu, mereka tewas begitu saja dengan leher ditembusi belati kecil.
Pria dengan tongkat kecil sepanjang tiga puluh senti berdiri tepat di depan Lin Chen. Pria misterius dibalik cederanya dua orang dari biro Naga Merah dan juga pria yang yang menjadi dalang dari hilangnya stok bahan herbal dari kota Liang.
"Jadi kamu mau aku membuat lubang dimana di tubuhmu?" kata pria itu, lalu meraba pinggangnya, namun, "Ah aku lupa, belatiku sudah terpakai semua. Anak muda, kamu beruntung bisa melihat belati saktiku terhunus, tapi kamu juga tidak begitu beruntung untuk melihatnya lagi hahaha."
Lin Chen tidak bisa menghindari pertarungan ini, dia harus bertahan kalau mau tetap hidup.
Melihat pria itu mencabut belati kecil dari tongkat kayunya dan menusukkan langsung ke perutnya, Lin Chen terkejut. Tidak sampai dua detik, belati itu sudah menggores perut Lin Chen walaupun Lin Chen sudah menghindar. "Cepat sekali." ucapnya dalam hati.
Lin Chen yang tidak mempunyai pengalaman bertarung itu bergerak menghindar seadanya sambil terus mencari peluang.
Inilah kedua kalinya Lin Chen tak berdaya melawan ahli beladiri, yang pertama dengan Song Wanting.
"Mati kamu!"
Teriak pria itu, Ia tak ragu sama sekali saat mengayunkan belati kecilnya. Jack menghindar dengan bergerak ke samping tapi pria itu seolah sudah tau kemana Lin Chen akan bergerak mengangkat sebelah kakinya dan melakukan tendangan samping yang sangat keras dan cepat.
Pria itu meringis saat kakinya bertemu dengan lengan Lin Chen yang Ia gunakan untuk menahan tendangan pria itu. "Hampir saja?" gumam Lin Chen tapi kemudian Ia tersenyum ketika melihat pria itu meringis.
"Sial tulang anak ini sangat keras." pria itu bergumam. "Apa hubunganmu dengan biro Naga?"
"Biro Naga?" Lin Chen yang baru pertama kalinya mendengar nama itu berkata heran. Sementara pria itu yang menganggap kemampuan Lin Chen pasti ada hubungannya dengan biro Naga menatap Lin Chen dengan tatapan merendahkan.
"Karena kamu tidak ada hubungannya dengan biro Naga, maka aku tidak akan ragu lagi."
Brakk...
Lin Chen terlempar ke samping setelah menerima tendangan telak di perutnya.
Pria itu menyerang lagi, lebih cepat dari serangan-serangan sebelumnya sampai akhirnya Lin Chen dengan nekat mencoba menahan tusukan belati dengan kakinya.
Sratt...
__ADS_1
Lagi-lagi Lin Chen terluka, celananya robek memanjang berikut kulit kakinya.
"Mati!"
Pria itu berteriak keras, menebas Lin Chen yang sudah terpojok. Namun sedetik sebelum belati itu mengoyak leher Lin terdengar sebuah suara nyaring disusul suara pria yang berseru kaget.
Ternyata Lin Chen menangkis belati di tangan pria itu dengan belati yang sering Ia gunakan mencacah bahan herbal. Karena tidak bisa berpikir saat diserang terus-terusan, Lin Chen melupakan belatinya. Dia baru ingat setelah kakinya terluka dan belati yang Ia ikat di pahanya itu terlihat.
"Belati yang bagus, itu harus menjadi milikku." Rupanya belati di tangan Lin Chen membuat pria itu tertarik namun sebelum menusukkan belatinya, terdengar suara jatuh di lantai.
Klontang...
Rupanya belati pria itu tak sanggup melawan ketajaman belati di tangan Lin Chen dan terpotong begitu saja. Pria itu menatap belatinya dengan tatapan tak percaya, belati andalan yang tidak pernah mengecewakan nya kini tinggal gagangnya saja.
Senyum serakah nampak tercetak di bibirnya saat melihat kilauan belati di tangan Lin Chen. "Belati itu harus menjadi milikku." gumamnya lalu menerjang Lin Chen dengan tinjunya.
Aaahh...
Lengan pria itu retak saat Lin Chen menahan tinjunya, Ia lupa kalau kekuatan tulang Lin Chen jauh di atasnya.
"Aku benar-benar meremehkanmu, baiklah karena waktuku tidak banyak, aku akan membereskanmu secepatnya."
Selesai mengucapkan ancamannya, pria itu berdiri bersedekap, lalu ada sedikit fluktuasi udara di sekitarnya. Sesaat kemudian dia menyerang Lin Chen lagi, namun kali ini lebih cepat dan lebih bertenaga dari tadi dengan niat membunuh yang besar.
"Apakah dia kultivator?" ucap Lin Chen dalam hati. "Sial, aku bisa mati kalau begini terus."
Lin Chen mulai resah, pria itu dengan mudah menghindari belatinya dan setiap bertemu lengan atau kaki Lin Chen, dia menarik sedikit dan memukul lagi. Dengan cara ini, dia bisa meredam daya tubrukan.
Yang tersiksa tentu saja Lin Chen, darah dari sayatan kecil dari belati sebelumnya belum kering, kini ditambah lagi dengan pukulan yang ringan namun bisa menggetarkan ototnya. Ini situasi yang sulit, betapapun kuatnya tulang Lin Chen tapi lambat laun dia akan terluka juga.
"Apa yang harus aku lakukan?" Lin Chen mulai panik.
"Percuma saja kau memiliki tulang yang kuat, di hadapanku, kau tidak lebih dari seorang pecundang hahaha."
"Biar ku beritahu padamu, kau tidak akan bisa melukaiku, yeah kecuali kau bisa menyentuhku hahaha."
"Menyentuh nya? tapi bagaimana caranya?" gumam Lin Chen. "Baiklah, mungkin ini akan terasa sakit, tapi tidak ada cara lain."
__ADS_1
Lin Chen menarik nafas dalam-dalam, ada kilatan kecil di matanya. Sekarang dia akan berinisiatif menyerang duluan.