
Satu tembakan menyelamatkan tetua Li dari maut, lalu tiga tembakan lain menyusul dengan cepat. Lin Chen yang sudah mulai terbiasa menggunakan senapan runduk itu tidak menyia-nyiakan kesempatan sementara tetua Li yang sangat bersyukur telah lolos dari bahaya hanya melirik arah tembakan namun tidak dapat mengenali siapa yang telah menyelamatkan dirinya.
Reaksi pertamanya adalah kaget dan bahagia namun tidak berlangsung lama, masih ada satu Tikus Api lagi yang tersisa.
Pengalaman di garis depan membuatnya mengambil langkah tegas, menyerang Tikus Api terakhir tapi gerakannya ini justru membuat Lin Chen kesulitan untuk membidik target terakhir ini.
"Dokter Lin, hati-hati." ucap Song Wanting memperingatkan Lin Chen agar tidak salah bidik.
"Tidak bisa, aku harus kesana membantu tetua Li." ujar Lin Chen. Ia lalu menyingkirkan senapan runduknya dan bergegas membantu tetua Li, tentu saja Song Wanting juga ikut.
"Kamu.... cepat pergi, aku akan menahannya."
Tetua Li yang melihat Li Chen datang dengan belati di tangannya berseru keras, dia menyayangkan tindakan Lin Chen yang datang. Dia memang sudah membulatkan tekadnya untuk menahan dan berjuang sendiri. Sikapnya jelas, tidak akan membiarkan anggota Pasukan Naga terluka ataupun tewas.
"Tetua, kami datang membantu." sahut Song Wanting yang juga sudah menyusul.
"Mundur!"
Tetiba tetua Li berkata. "Kalian segeralah pergi, aku masih sanggup menahannya. Jangan sia-siakan usahaku." ucapnya lagi.
__ADS_1
"Tetua, aku juga anggota Pasukan Naga, aku tidak akan mundur sedikitpun." sahut Lin Chen.
"Dokter Lin! ini perintah!"
"Awas!"
Lin Chen tidak mengindahkan seruan tetua Li, Ia berseru keras ketika Tikus Api itu mulai menyerang lagi.
"Jangan gegabah!" seru tetua Li.
Seruan tetua Li ini pada dasarnya merupakan sikapnya sebagai salah satu pimpinan Pasukan Naga.
Meskipun memang dari awal dia tidak terlalu menyukai Lin Chen yang dianggapnya bergabung karena sebuah rekomendasi tapi tetap saja dia tidak akan membiarkan Lin Chen berada dalam bahaya. Lin Chen akhirnya mengerti, pandangannya terhadap tetua Li juga berubah banyak.
Trang!
"Tetua Li tenang saja, aku masih sanggup dan tidak akan memalukan Pasukan Naga." kata Lin Chen sambil tersenyum. Di pun melompat dari belakang tetua Li dan langsung menghadang cakar lain dari Tikus Api yang sudah membuat serangan kedua.
Trang! ****!
__ADS_1
Belati Lin Chen bergerak cepat, sesaat setelah menghadang cakar Tikus Api, dia merubah belatinya dan menusuk kaki. Sesaat kemudian, belati itu bergerak lagi dan berhasil menembus leher Tikus Api.
"Dokter Lin, ka-kamu berhasil membunuhnya." ucap tetua Li dengan tatapan tidak percaya melihat Tikus Api di depannya yang tewas dengan leher yang hampir putus.
"Ini juga berkat tetua yang sebelumnya menahan serangan pertama dan nona Song dengan tusukan mautnya."
"Tidak udah merendah, aku tau apa yang terjadi." sahut tetua Li, kemudian dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Tetua, kalau anda mencari orang yang menembak Tikus Api tadi, orangnya tepat di depan anda." Song Wanting ikut menimpali.
"Dokter Lin?"
Lagi-lagi tetua Li tidak mau percaya, tapi Song Wanting juga tidak mungkin berbohong kan.
"Nona Song, sudahlah, itu juga hanya kebetulan saja." kata Lin Chen. "Tetua, dimana anggota yang lain?" sambungnya Lin Chen lagi, bertanya kepada tetua Li.
Tetua Li menghela nafas sebentar, lalu berkata, "Dokter Lin, maafkan aku jika sikapku sebelumnya tidak pantas." Kau maafkanlah orang tua ini."
"Tetua, jangan begitu. Aku masih perlu bimbingan anda."
__ADS_1
"Hahaha dokter Lin, terima kasih. Memang tidak salah atasan merekomendasikan mu."
Tetua Li akhirnya sadar dan tidak memandang Lin Chen dengan sebelah mata lagi. Sikapnya yang rendah hati dan tidak menyimpan dendam berhasil menarik simpatinya. Dia lalu mengajak Lin Chen dan Song Wanting pergi ke arah tetua Yun pergi.