
Begitu juga dengan Zhang Xuan dan Zhang Cuihua, mereka juga berlutut. Mereka bukan orang bodoh, reaksi Zhang Zitou sudah cukup membuktikan kalau apa yang Lin Chen katakan adalah kebenaran.
"Bangunlah, kita ke kediaman anda dulu."
Karena sudah mengatakan masalahnya, maka Lin Chen pun bisa mencari solusinya. lagipula kalau dia tidak salah benda yang membuat keluarga Zhang bermasalah adalah benda yang dia butuhkan untuk naik ke alam Induksi Roh.
Alam ini berhubungan erat dengan kekuatan jiwa, Rumput Roh dan Akar Roh untuk membuat pil sudah siap, tinggal beberapa bahan lagi sampai semuanya terkumpul. Bahkan untuk Alam Elemen Awal pun sudah Lin Chen siapkan, yakni Giok Api.
Tiba di kediaman keluarga Zhang, Lin Chen langsung di ajak masuk oleh Zhang Zitou ke kamarnya.
"Dokter Lin, barang ini yang aku temukan dulu." kata Zhang Zitou sambil menyerahkan sebuah Giok kaca berwarna hitam. Lin Chen dapat merasakan fluktuasi energi Roh yang terkandung di dalam Giok itu.
"Aku akan menyimpan benda ini, jangan khawatir, setelah benda ini jauh dari anda, kesialan dan kesehatan anda akan membaik."
Keringat dingin mulai membasahi punggung Zhang Zitou ketika Lin Chen menjelaskan asal usul Giok dan pengaruhnya pada keadaan keluarga Zhang.
Giok itu sudah terlalu lama menyerap energi roh sehingga berdampak besar bagi kesehatan karena itu juga dapat menyerap energi roh mereka yang menyimpannya. Tapi itu hanya berlaku pada manusia biasa, bagi Lin Chen yang mengolah kultivasi, Giok itu merupakan sebuah benda untuk membantunya naik tingkat.
"Dokter Lin, bagaimana?" tanya Zhang Xuan setelah Lin Chen keluar dari kamar.
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi." Lin Chen lalu membuat jimat untuk mengusir aura dari Giok yang sudah lama berputar di dalam rumah. Kemudian, dia juga memberikan akupunktur untuk semua anggota keluarga untuk membebaskan beberapa aura yang terlanjur masuk ke dalam tubuh mereka.
Wuss...
Seperti disapu angin dingin, Zhang Xuan dan yang lain merasa ada beban diangkat dari tubuh mereka, saat itu juga perasaan yang menekan hilang seketika.
"Aku akan menuliskan beberapa resep untuk membantu pemulihan. Tiga hari lagi, aku jamin anda sekeluarga akan kembali ke kondisi puncak anda."
"Oh ya tempelkan jimat ini di tengah-tengah ruangan."
"Dokter Lin, Terima kasih. Keluarga Zhang kamu berutang budi pada anda."
"Tidak usah sungkan, aku juga senang sudah membantu."
Lin Chen memang puas, benda yang mengganggu itu sangat berharga baginya. Dia juga menolak ketika Zhang Xuan memberikan kartu berisi sepuluh milyar. Baginya, Giok di tangannya itu sudah lebih dari cukup sebagai bayaran atas usahanya.
__ADS_1
"Kalau begitu baiklah, aku permisi dulu."
"Cuihua, antar dokter Lin." kata Zhang Xuan sambil menganggukkan kepalanya.
"Dokter Lin, besok siang aku akan menjemput mu. Ingat, jangan kemana-mana."
Lin Chen hanya mengangguk ringan, dia tidak mengerti maksud Zhang Cuihua tapi cukup penasaran. Lagipula menghabiskan waktu bersama gadis cantik seperti putri keluarga Zhang juga hal yang bagus.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa waktu yang dijanjikan Zhang Cuihua sudah tiba.
Mengendarai Porche merah, Zhang Cuihua tiba di klinik dan membawa Lin Chen ke sebuah bukit yang indah dan asri.
"Dokter Lin, karena anda tidak ingin menerima uang keluarga Zhang maka aku mewakili ayahku memberikan sebuah vila di daerah terbaik kami."
Villa no 1 adalah villa dengan lokasi terbaik. "Ini adalah unit terbaik kami dan di sini hanya ada sepuluh villa." Zhang Cuihua menjelaskan dengan bangga. "Dokter Lin, tolong jangan menolak lagi, anda sudah menolong keluarga Zhang kami."
"Baiklah." sahut Lin Chen. Ini juga merupakan penghargaan bagi keluarga Zhang jika dia menerimanya. Lagipula memang Lin Chen tidak punya rumah sendiri selain klinik.
"Bagaimana menurutmu tempat ini?"
"Ini sangat baik."
Pemandangan gunung yang hijau di belakang villa serta danau yang konon sudah ada sejak ratusan tahun lalu di sebelah membuat villa itu sangat cocok untuk ditinggali.
"Semua yang ada di sini adalah milik anda."
Setelah berkata ini, Zhang Zitou lalu pamit pergi karena masih ada yang harus dia kerjakan.
"Ayah, aku sudah mengantar dokter Lin."
"Bagaimana, apakah dia puas?"
"Ya ayah, dari penglihatan ku, dokter cukup puas."
Lin Chen memang luas dengan villa ini dan memutuskan untuk tinggal di sini.
__ADS_1
Lin Chen memilih kamar utama yang ada di lantai dua, kamar ini menghadap langsung danau di tengah bukit dengan latar belakang gunung besar yang hijau.
Tanpa menunggu waktu, Lin Chen memasang formasi pengumpul roh yang berpusat di kamarnya sendiri. Tak lupa juga dia memasangnya di sekeliling villa untuk menjaga udara di salam villa dipenuhi energi spiritual.
Dua hari itu Lin Chen sibuk memindahkan tungku dan segala kebutuhannya ke rumah barunya dan mempelajari lebih detail pil induksi roh.
Hari ketiga, Mao Dong menghubunginya dan mengatakan orang-orang Macan Terbang mulai bergerak.
"Tuan Lin, Bong Shan adalah kakak laki-laki Bong Lei,, anda harus hati-hati. dia juga adalah ahli beladiri. Dia lebih kuat dari Bong Lei."
"Aku akan mengirim beberapa orang untuk mengawal anda."
"Tidak perlu, fokus saja dengan apa yang kita rencanakan sebelumnya."
Lin Chen memang sudah membuat rencana ingin mendirikan sebuah farmasi, sumber daya herba menggunung si gudang Paviliun dan satu-satunya jalan untuk memanfaatkan nya adalah dengan cara membuat obat.
"Baik tuan."
Benar saja, saat dia kembali dari klinik dan ingin ke villa. Sekelompok orang datang menghadang.
"Dokter Lin, enak sekali ya hidup anda. Apa kamu pikir setalah membunuh adikku kamu bisa hidup tenang?"
"Hm baiklah apa yang kamu inginkan?"
Lin Chen yang sudah turun dari mobil mendesah kecil, masalah memang selalu datang.
"Aku akan mencabik-cabik mu dan melempar mu menjadi makanan anjing."
kata Bong Shan geram. Bukan saja ingin membalaskan kematian adiknya tapi untuk menjaga reputasi Macan Terbang sendiri. Bong Shan memberi perintah kepada anak buahnya untuk langsung menyerang dan tidak membiarkan Lin Chen lolos.
Sepuluh orang yang dibawa Bong Shan merangsek maju, masing-masing dadi meraka membawa pentungan besi dan bahkan ada juga yang membawa parang.
Plak!
Orang pertama yang maju langsung kena tampar, Lin Chen bergerak cepat. Semakin cepat dia menyelesaikan orang-orang ini, semakin kecil juga resiko celaka.
__ADS_1
Setelah membuat tamparan keras, Lin Chen memutar badan dan menendang satu orang lagi disusul satu orang lagi yang tumbang terkena tinjunya.
Tidak sampai satu menit, sepuluh orang itu sudah terkapar. Lin Chen lalu berjalan pelan menghampiri Bong Shan yang terkesima menyaksikan semua anak buahnya tumbang hanya dengan satu serangan.