Sampah Dari Alam Langit

Sampah Dari Alam Langit
Terobosan Mendadak


__ADS_3

"Apa yang terjadi? siapa orang yang dikepung itu?"


Seorang pria paruh baya yang baru saja datang bertanya pada anggota yang menonton. Tubuhnya tegap dan membawa aura yang menindas setiap orang yang ada di sana.


Anggota yang mengenal nya langsung membungkuk penuh hormat.


"Tetua Huang." ucap mereka hampir serempak.


"Itu adalah dokter Lin yang di undang datang oleh kapten Song. Yang mengeroyok adalah Fan Tong dan anak buahnya."


Salah satu anggota itu pun menceritakan detail sampai kejadian itu berlangsung.


"Maksudmu Fan Tong yang menjadi kandidat untuk masuk di Biro Naga?"


"Benar tuan."


Tetua Huang tidak bertanya lagi, dia fokus melihat pertarungan di depannya.


Namun, pandangannya tidak seperti yang lain. Dia dengan sangat jelas dapat melihat fluktuasi energi setiap kali Lin Chen bergerak dan dia juga paham kalau Lin Chen memang bukan seorang petarung.


"Dokter Lin? kenapa jadi begini? ... "


"Nona Song, tunggu! biarkan saja."


Song Wanting yang baru selesai mengganti pakaiannya kaget ketika melihat Lin Chen yang dikeroyok, dia tau Lin Chen tak akan bisa bertahan. Itu sangat jelas.


Tapi saat ingin menghentikan pertarungan itu, tuan Huang berseru menghentikannya. Song Wanting menoleh, dia mengenali tetua Huang.


"Tetua Huang." ucapnya sambil membungkuk hormat. "Tapi dokter Lin bukan lawan mereka, dia sama sekali tidak pandai bela diri." sambungnya lagi, dia tak bisa menyembunyikan kecemasan dalam suaranya.


"Aku tau." sahut tetua Huang. "Biarkan saja, aku rasa dia tak akan kalah. Lagipula ini bagus untuknya, anggap saja sebagai latihan."


"Tapi tetua... "


"Tenang saja, aku akan menghentikan nya kalau sesuatu terjadi."


Tetua Huang sudah berkata, Song Wanting mau tidak mau harus menurutinya.


"Dokter Lin hati-hati. Aduh, awas...."


Meski ucapan Song Wanting tidak terdengar tapi bahasa tubuhnya tidak bisa dia sembunyikan, tangannya mengepal erat saat Lin Chen terkena pukulan. "Fan Tong, kali ini kamu sudah kelewatan. tunggu sampai ini selesai." ucapnya lagi di dalam hati.


Sedangakan tetua Huang tetap tanpa ekspresi, hanya sesekali terdengar ucapan yang kecewa karena gerakan Lin Chen yang salah. Ini menunjukkan bahwa secara tidak langsung dia mendukung Lin Chen sehingga anggota lainnya yang awalnya terpecah menjadi dua kubu pada akhir nya bersatu dan mendukung Lin Chen.


Pertarungan itu sudah memasuki babak akhir, saat ini hanya Fan Tong yang bertahan. ini karena memang dialah yang terkuat dari semuanya namun sebuah tendangan telak menghantam dadanya dan membuatnya terlempar lima meter.


Lin Chen kemudian berjalan mendekati nya, tidak ada rasa kasihan sama sekali.

__ADS_1


Tidak ada angin tidak ada hujan, Fan Tong tiba-tiba saja datang dan menindasnya. Lin Chen tak mungkin bisa memaafkannya begitu saja.


"Kamu menang." ucap Fan Tong di tengah ketidak berdaya annya.


"Lalu?"


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Tapi ingat aku tak akan melupakan semua ini."


Tadinya Lin Chen melunak setelah mendengar ucapan Fan Tong yang dengan jujur mengakui kekalahannya namun mendengar ancamannya lagi, Lin Chen mengangkat tangannya.


"Berhenti!"


Suara keras dari tetua Huang bergema, Lin Chen menoleh sejenak lalu berpaling lagi. Tangannya yang sempat terhenti itu pun melayang jatuh.


Plak


Lin Chen menampar Fan Tong, "Itu tanda kekalahanmu."


Plak


"Itu tanda ancaman darimu tidak berarti."


"Anak muda, bukankah dia sudah menyerah? apakah masih perlu kau melakukan itu?"


Tetua Huang berkata dari samping sambil memeriksa keadaan Fan Tong. "Untung saja tidak ada luka serius." ujarnya dengan suara pelan, dia juga sudah memastikan keadaan yang lain yang juga tidak berbahaya.


Lin Chen berdiri mematung, tubuhnya terasa panas. Ada sebentuk energi yang mengalir cepat dalam meridian nya. Ia memejamkan mata mencoba melepasnya tapi sekuat apa pun dia berusaha, lapisan tipis yang menghalangi jalannya itu tetap tidak ditembus.


"Baiklah, mungkin kamu harus diberi sedikit pelajaran."


Tetua Huang berpikir lain, Ia sangat mengagumi Lin Chen. Inilah yang disebut bakat, dari tidak bisa apa-apa sampai bisa mengalahkan enam orang anggota yang dilatih khusus bukanlah sesuatu yang setiap orang bisa lakukan.


Justru karena itulah dia ingin memperingati Lin Chen untuk tidak sombong, dia tidak mau masa depan nya menjadi gelap hanya karena kemenangan sesaat. Jalannya masih panjang.


Tetua Huang lalu mengumpulkan semangat spiritual nya dan langsung menyerang Lin Chen tanpa peringatan. Lin Chen yang menyadari perubahan udara dari depannya ini reflek menangkis.


Blam


Dua aura spiritual berbenturan, Lin Chen terlempar beberapa meter sedangkan tetua Huang hanya bergoyang sebentar lalu berhenti. Mulutnya menganga tak percaya.


Bukan karena pukulannya yang berhasil ditahan tapi aura yang Lin Chen keluarkan membuatnya sesak. Kalau bukan tingkatannya yang lebih tinggi, mungkin dialah yang sekarang terlempar.


"Seberapa kuat sebenarnya anak ini." matanya berbinar seolah menemukan sebuah mutiara.


"Dokter Lin!"


Song Wanting yang baru sadar dari keterkejutannya karena kemenangan Lin Chen dan pukulan tetua Huang berlari menghampiri Lin Chen.

__ADS_1


"Ini..." Tetua, maafkan aku. Terima kasih.


Kalau bukan serangan tetua Huang, Lin Chen tidak akan bisa menembus lapisan itu. Lapisan tipis itu terkoyak Sesaat setelah benturan, namun Lin Chen menahannya.


Dia tak mungkin melakukan terobosan di sana.


"Dokter Lin, apa kamu tidak apa-apa? maafkan aku, ini semua salahku, seharusnya aku tidak membawamu ke sini."


"Tidak apa-apa, justru aku yang berterima kasih. Berkatmu, aku bisa belajar banyak hal."


Lin Chen tersenyum. Kalau tidak ke sini dan berlatih tanding, dia mungkin masih harus menunggu lama untuk menerobos.


"Tapi tadi?"


"Tidak apa-apa, lihat aku juga baik-baik saja."


Tepat pada saat itu, tiba-tiba sirine berbunyi. Lalu seseorang masuk ke sana dan karena ada tetua Huang, dia pun melapor padanya.


"Tetua, pasukan yang di kirim telah kembali. Namun, semua terluka."


"Semuanya, berkumpul di aula!"


Tetua Huang berseru, suaranya menggema di ruang pelatihan.


"Dokter Lin, aku pergi dulu. Ada sesuatu yang gawat telah terjadi."


"Ya pergilah, aku bisa mengurus diriku."


"Maaf aku tak bisa mengantarmu pulang.'


"Sudahlah, pergilah. Lihat, teman-temanmu sudah pergi semua."


Dengan perginya Song Wanting, Lin Chen pun bergegas keluar dari sana. Dia memanggil taksi dan langsung pergi ke klinik.


Dari sana, Lin Chen mengambil beberapa pil lalu berlari ke desa. Latihan fisik ini akan membantu nya mengendurkan urat dan syarafnya ketika menerobos nanti.


"Tuan, anda terlihat buru-buru, apa ada yang salah?"


"Tidak ada, aku akan pergi ke desa. Sampaikan pada Tong Dji, besok klinik tutup dulu."


"Baik tuan." sahut Jun Xing.


Lin Chen menelan pil yang memang telah disiapkan nya untuk momen ini, lalu duduk tenang di kamarnya di desa. Sesaat kemudian, fluktuasi udara di sekitar Lin Chen berubah.


Ini tidak berlangsung lama, hanya satu jam sejak Lin Chen duduk.


Ketika membuka matanya, Lin Chen merasa kekuatan nya semakin besar. Lautan qi di dalam Dantiannya kini terbentuk menjadi inti Qi.

__ADS_1


"Alam Petarung."


Lin Chen merasa puas, dia lalu memejamkan matanya lagi untuk menstabilkan energinya.


__ADS_2