
Lin Chen memegang dan mengangkat Batu Roh Api di tangannya, mencoba menarik kawanan Tikus Api yang tersisa, setelah itu dia pun berlari menjauh untuk memberikan kesempatan anggota Pasukan Naga untuk pergi dari sana.
Ini dia lakukan sambil menghindari sapuan cakar dari pemimpin kawanan itu.
Dua ratus meter dari sana, Lin Chen yang memang sudah mulai terbiasa dengan kekuatan nya itu mulai menghabisi kawanan Tikus Api. Dia membantai semuanya dan menyisakan pemimpinnya saja. Pilihan ini diambilnya karena selain mereka sangat menganggu saat dia melawan sang pimpinannya juga karena khawatir ada salah satu dari mereka yang kembali menyerang anggota Pasukan Naga.
"Hehe sekarang hanya tinggal kau sendiri, kemarilah agar kau bisa bersama anak buahmu secepatnya." kata Lin Chen. Dia sesekali melirik tetua Yun dan lainnya yang sudah mulai meninggalkan area itu.
Sementara pimpinan Tikus Api sudah sangat gusar, bukan saja karena tidak berhasil merebut Batu Roh Api tapi semua anak buahnya kini sudah tewas.
Ciit...
Dia mencicit lagi, kali ini dengan suara yang lebih melengking tinggi. Seakan mengatakan kalau dia akan mencabik tubuh Lin Chen sampai tak bersisa.
Wuss...
Perlahan tapi pasti pimpinan Tikus Api ini berdiri di atas kedua kakinya, aura panas dari uap panas memancar dari seluruh tubuhnya, matanya perlahan berwarna merah.
Bahkan Lin Chen pun terpana dengan kekuatan sejati lawannya ini. Pimpinan ini memang jauh lebih kuat.
'Ini akan lebih lama dari yang kubayangkan.' batin Lin Chen. skeptis apakah sanggup bertahan atau tidak.
Lalu, pemimpin Tikus Api itu tiba-tiba melompat dengan sangat cepat ke depan Lin Chen. Cakarnya yang panjang membawa aura panas, siap membelah dada Lin Chen.
Di tempat lain, tetua Li yang sedang memimpin Pasukan Naga untuk pergi dari sana seketika hendak berlari membantu Lin Chen, dia tidak rela ada anggota nya yang tewas sedangkan dia tetap hidup dan pergi dari medan tempur namun, tetua Yun menahan bahunya sambil menggeleng pelan.
"Pergi secepatnya adalah keputusan yang paling bijaksana, aku rasa dokter Lin juga tidak ingin pengorbanannya akan sia-sia." ucapnya, apa dia rasakan juga sama dengan tetua Li.
Kalaupun mereka semua berkumpul dan dalam kondisi puncak, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya akan tewas begitu mendekat.
__ADS_1
Lapat-lapat mereka dapat merasakan hawa panas dari arah pertarungan itu.
"Semuanya! aku tau, mungkin tindakan kita ini adalah yang paling memalukan dan pengecut tapi seperti pesan dokter Lin, kita semua harus selamat demi menghormati keputusannya."
Tetua Yun mengatakan isi hati nya di depan anggota Pasukan Naga yang terus menunduk sambil mengepalkan tangan. Semua emosi bercampur menjadi satu, ada rasa malu, marah, kagum dan lain sebagainya, semuanya bercampur menjadi satu.
"Dokter Lin anda harus selamat."
Hanya kalimat ini yang bisa mereka ucapkan dalam hati, mereka juga tau hanya dokter Lin yang bisa melawan kawanan Tikus Api.
"Kita pergi!" seru tetua Yun lagi. Tak lama kemudian area itu pun tidak menyisakan satu orang pun dari anggota Pasukan Naga. Mereka pergi dengan langkah gontai dan saling mendukung satu sama lain, akibat luka yang masih belum pulih.
Bamm!
Tinju Lin Chen bertemu dengan telapak tangan pemimpin Tikus Api. Lin Chen belum berani atau lebih tepatnya tidak berani menghadang cakarnya secara langsung. Seharusnya dia bisa menggunakan belatinya tapi karena serangan lawannya sangat cepat dan tidak terduga maka terpaksa harus menggunakan tinju nya.
Ini terus berlangsung. Lama-lama Lin Chen pun sudah mulai terbiasa. Lumayan juga untuk melatih kekuatan fisik dan kecepatannya sendiri, yang paling menganggu adalah uap panas yang kerap muncul dari setiap serangan lawannya.
"Baiklah, sekarang waktunya menggunakan belati." gumam Lin Chen, tanpa terasa pertarungannya sudah seharian penuh.
Crass
Begitu Lin Chen menangkis serangan yang datang, terdengar suara seperti sayatan.
"Kau memang bisa diandalkan." gumam Lin Chen lagi ketika belatinya menyayat telapak Tikus Api. "Sekali lagi!" serunya kemudian.
Kali ini Lin Chen lebih percaya diri, belati putih benar-benar tidak mengecewakannya.
Tidak sampai sepuluh menit sejak itu, pemimpin Tikus Api itu pun tersungkur dan akhirnya tewas. Tubuhnya bersimbah darah, entah berapa banyak tusukan maupun sayatan belati di tubuhnya.
__ADS_1
Lin Chen bukannya tidak terluka, ada luka cakaran panjang di punggungnya. dan ada juga luka memar di bagian tubuh lain.
Saat ini Lin Chen memang bukan tandingan hewan buas ini dan jika saja Lin Chen tidak menggunakan belati, maka bisa dipastikan pertarungan mereka akan lebih lama lagi, itu pun belum tentu Lin Chen yang keluar sebagai pemenang.
"Huff... " Lin Chen membuang nafas keruh, dia lali menghampiri pemimpin Tikus Api itu. "Ayo kita lihat, kamu ini termasuk hewan spirit atau hanyalah hewan buas." sambungnya lagi sembari membelah dada Tikus Api itu, mencari sesuatu.
"Hewan Spirit!" tanpa sadar Lin Chen berseru.
Yang Lin Chen tau berkat informasi yang dia terima, Hewan di dunia itu terbagi menjadi hewan biasa, hewan buas dan hewan spirit.
Hewan biasa adalah hewan yang biasa dan hewan buas dijumpai di dunia fana tempat nya sekarang meskipun ada juga di dunia kultivasi. Jika di dunia kultivasi, hewan buas dibagi lagi menjadi beberapa tingkatan sesuai kekuatannya.
Hewan Spirit adalah hewan yang buas yang berevolusi dan juga dibagi menjadi beberapa tingkatan menurut kekuatannya. Hewan spirit ini juga melakukan kultivasi layaknya manusia dan biasanya mereka memiliki inti energi yang bisa dijadikan sumber daya.
Tentu saja inti energi ini just tergantung pada tingkat berapa hewan spirit ini berada.
"Ini dia, sudah kuduga kamu human hewan biasa." Kata Lin Chen. Di tangannya kini ada sebuah kristal seukuran bola pingpong. Ini adalah kristal inti energi dari hewan spiritual.
'Sayang sekali, ini masih terlalu kecil.' Lin Chen sedikit kecewa. Dengan besar seperti ini, bisa dipastikan kalau pemimpin Tikus Api itu hanya di tingkat satu.
"Baik, sekarang waktunya memurnikan Batu Roh Api."
Batu Roh Api adalah batuan langka yang menjadi sumber daya. Lin Chen mewarisi cara pemurnian ini Dan memutuskan akan melakukannya di hutan itu. Alasannya adalah karena di area itu qi spiritual sangat padat.
Proses pemurnian Batu Roh Api ditambah dengan kristal energi sangat menguras tenaga, Lin Chen harus mengumpulkan banyak kayu dan mengontrol apinya menggunakan Qi spiritual nya sendiri.
Lima jam kemudian, proses itu pun selesai, tampak cairan berwarna merah terletak di tungku sederhana bekas perlengkapan anggota Pasukan Naga yang tertinggal.
Sumber daya ini seharusnya bisa langsung diserap, hanya saja Lin Chen teringat satu resep untuk pembuatan pil jadi lebih baik memurnikannya agar hasilnya bisa lebih maksimal lagipula, dia sudah cukup mahir melakukannya.
__ADS_1