
Maksud Mao Dong sangat jelas dan tentu saja pemilik itu juga mengenal barang-barang di kios nya sendiri. "Baiklah, silahkan tuan." ucapnya. Lin Chen pun membayar dan mengambil barangnya.
"Tunggu dulu, aku juga menginginkan batu itu."
Suara itu datang dari seorang pemuda, "Lima ratus juta rupiah. Serahkan batu itu."
"Tuan Zhang?" kata pemilik kios. "Tapi batu itu sudah dijual."
"Aku tak peduli, aku menginginkan batu itu. Jual padaku atau kamu tak bisa berjualan di sini lagi."
"Tuan Zhang, apa maksudmu? tuanku sudah membayarnya. Apa anda melupakan aturan pasar?"
"Mao Dong. Haha... aku adalah aturan dan siapa pun yang menghalangi ku akan berhadapan dengan keluarga Zhang."
"Atau apa kamu pikir keluarga Zhang takut dengan Harimau Terbang? oh aku lupa sekarang Paviliun Lin. Kalian hanya berandalan kota, jangan berpikir terlalu jauh."
Keluarga Zhang adalah salah satu keluarga bangsawan di kota Liang, bisnis utamanya adalah properti dan mempunyai kekayaan ratusan milyar rupiah. Pasar ini adalah properti milik keluarga Zhang.
Pemilik kios mengusap dadanya, untung saja akau tak menyinggung orang ini, ternyata mereka dari Harimau Terbang. "Tuan Zhang, karena barang itu telah dibeli dan aku juga sudah menerima uangnya maka aku tak akan ikut campur, silahkan berhubungan langsung." pemilik toko sudah bermain aman.
"Aku Zhang Zitao, tak akan menarik kata-kataku."
"Kalau aku menolak?" Lin Chen akhirnya ikut berbicara.
"Maka kau akan menyesal."
Sesudah mengatakan itu, Zhang Zitao melambai dan lima orang pria dengan gesit maju dan mengurung Lin Chen dan Mao Dong.
"Tuan Zhang, apakah anda benar-benar tidak mematuhi peraturan lagi?"
"Hajar mereka dan ambil barang itu."
Zhang Zitao tidak repot-repot menjawab pertanyaan Mao Dong. Dia melambai dan menyuruh anak buahnya membereskan Lin Chen dan Mao Dong.
"Tuan, biar aku saja. Tapi kalau aku tidak kuat, anda harus membalas dendam ku hehe."
Mao Dong memang bukan orang yang kuat, bahkan dulu waktu masih bernama Harimau Terbang, dia tidak memegang jabatan apa pun. Tapi dia juga tidak selemah itu, kalau orang-orang yang biasa saja, Mao Dong bisa menghadapinya. Dulu tugasnya sangat banyak, jadi semua orang anggota Harimau Terbang mengenalnya.
Hanya karena dia jujur dan bertanggung jawab sehingga Lin Chen mengangkatnya menjadi wakilnya yang mengurus paviliun Lin. Lagipula dia cukup akrab dengan banyak anggota.
Lin Chen hanya mengangguk, namun hanya dua dari lima orang yang sanggup Mao Dong jatuhkan. Tiga orang yang lain menghajar Mao Dong.
"Cukup! Mao Dong mundurlah."
"Baik tuan." kata Mao Dong sambil menyeret tubuhnya. Dia sama sekali tidak mengeluh meskipun sudah dihajar habis.
Bak buk bak buk
__ADS_1
Hanya beberapa helaan nafas tiga orang yang tersisa sudah dihajar sampai pingsan.
"Kau.... berani sekali, apa kau tidak tau ... "
Lin Chen tidak banyak bicara, dia mendekati Zhang Zitao dan menamparnya keras.
Plak
Plak
Dua tamparan membuat muka Zhang Zitao bengkak seperti kepala babi.
"Tunggu sampai ... "
Plak
"Kau... "
Plak
Lin Chen tak mengenal ampun, satu kalimat saja keluar dari mulut Zhang Zitao, dia langsung kena tampar.
"Sial, orang menyebalkan kenapa kepalanya sangat keras." gerutu Lin Chen.
"Berhenti!" sebuah suara merdu datang, menghentikan tindakan Lin Chen. "Kakak, kakak, orang ini menindasku." Zhang Zitao yang melihat siapa yang datang langsung mengeluh namun orang yang datang itu hanya meliriknya sekilas.
"Tuan, bukankah kamu sudah kelewatan?"
"Zhang Zitao adalah adik sepupuku."
"Lalu kenapa?" Lin Chen tetap tidak bergeming. "Ajari dengan baik kalau begitu, jangan seenaknya meminta barang milik orang."
"Kakak Cuihua, kalau tidak diberi pelajaran orang ini akan besar kepala. Memang kenapa kalau aku menginginkan suatu barang. Semua properti di sini adalah milik keluarga Zhang."
Zhang Zitao masih berani bicara, "Apa kamu sudah menyelesaikan tugas yang diberikan ayahku?"
"Itu... "
"Huh kamu memang tidak berguna, selalu saja mencari masalah. Pergi temui ayah."
Zhang Zitao pun pergi, Ia tak bisa melawan Zhang Cuihua. Selain karena statusnya lebih tinggi, dia juga seorang penggiat bela diri.
"Berhenti di sana, aku tidak mengatakan kau boleh pergi. Memang adikku yang salah tapi kau tetap harus diberi pelajaran karena menindas keluarga Zhang."
Kata Zhang Cuihua ketika melihat Lin Chen dan Mao Ding pergi.
Lin Chen berbalik, "Jangan jadi bodoh dengan berbuat sesuka hatimu."
__ADS_1
"Kamu pria uang cukup berani."
"Dan kamu wanita yang cukup kelewatan." balas Lin Chen.
Zhang Cuihua adalah penggiat beladiri, ditambah dia adalah putri dari keluarga Zhang membuatnya merasa dipermainkan. Dia tau memang salah karena membela adik sepupunya yang tidak berguna namun Ia juga tertarik pada keahlian beladiri Lim Chen. Sebagai penggiat beladiri, dia merasa tertantang untuk mencoba kemampuan Lin Chen.
Tidak menunggu lama, di melompat dan mengirim tendagan lurus. Lin Chen menghindar ke samping dan begitu tubuh Zhang Cuihua melewatinya, dia menendang bokongnya.
Zhang Cuihua melotot marah, "Dasar cabul." Ia tak menyangka diserang dari belakang saat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"Salah sendiri, kenapa membiarkannya terbuka." Lin Chen tersenyum nakal, dia bukan sengaja tapi bingung harus menyerang bagian yang mana. Kalau memukul dadanya, takut dikira melecehkan kalau memukul belakangnya juga begitu, akhirnya dia pun memilih menendang bagian itu.
"Sudahlah, kamu belum cukup kuat. Pulang dan berlatih saja."
"Kurang ajar." Zhang Cuihua yang marah bercampur kesal kembali mengejar Lin Chen. Dari kecil dia sudah belajar beladiri, anak-anak seusianya bahkan tidak ada yang sanggup melawannya tapi kini di hadapan Lin Chen yang tampak biasa saja, dia tidak berdaya.
Tapp
Lin Chen menangkap sebelah kaki Zhang Cuihua, berharap dia akan berhenti. Namun, bukannya berhenti sebuah tinju malah merayap cepat di samping kepalanya.
Tapp
Lagi-lagi Lin Chen menangkap tinju ini. Posisi mereka pun menjadi sangat dekat.
Lin Chen mengangkat kaki Zhang Cuihua lebih tinggi dan sebelah tangannya juga lebih tinggi. Mereka hanya berjarak kurang dari setengah meter.
"Bajingan, dasar mesum, tidak tau malu. Cepat lepaskan." Zhang Cuihua meraung marah dengan wajah yang memerah.
Sejak kecil dia tidak pernah sedekat ini dengan pria manapun, didikan keluarga yang ketat membatasinya untuk hal-hal seperti ini.
"Kamu harus berjanji untuk tidak menyerang ku lagi." kata Lin Chen di depan wajah Zhang Cuihua.
"Akan kupatahkan tanganmu! cepat, lepaskan tangan kotormu."
Kedua mata Zhang Cuihua mulai mengembung, mata yang indah itu tampak dipenuhi dengan air mata.
"Berjanjilah."
"Anak muda, lepaskan Cuihua."
Suara lain datang, suara ini agak berat dan berwibawa. Lin Chen meliriknya namun tetap tidak melepaskan pegangan nya.
"Ayah... dia menindasku."
Pria tua itu menggeleng, dia tidak tega melihat putri kesayangan nya diperlakukan begitu tapi di lain sisi itu juga bagus. Selama ini Zhang Cuihua sangat manja, mungkin apa yang dilakukan Lin Chen bisa sedikit meredam kelakuannya.
Tapi tetap saja itu adalah putrinya, dia juga tidak tega. Dia kemudian memberi isyarat kepada pengawal pribadinya untuk bergerak.
__ADS_1
"Anak muda, jangan terlalu sombong." ucap pengawal itu. Dia berjalan menghampiri Lin Chen, auranya lebih kuat. Namun, baru beberapa langkah berjalan, dia tiba-tiba terpaku di tempatnya.
Lin Chen menembakkan aura yang tak terlihat padanya, membuatnya tak bisa merasa sesak.