
Yang tidak disadari Lin Chen adalah setiap dia bergerak, akan ada Tikus Api yang mengikutinya yang selalu menjaga jarak, seperti tidak mau kehilangan sosoknya namun tidak melakukan apa-apa, hanya terus membayanginya saja.
"Di sana!"
Tetua Li tetiba menunjuk ke satu arah. Di sana terlihat tetua Yun bersama sisa anggota lainnya yang tak berdaya. Tak ada yang tewas tapi dari luka-luka yang terlihat, mereka semuanya tampak sangat menderita. Total mereka semua adalah dua puluh orang termasuk Lin Chen, tetua Li dan Song Wanting yang baru saja bergabung.
"Tetua Yun, apakah anda bisa berjalan?"
Tetua Yun tidak menjawab, dia hanya menggeleng pelan. Lalu bagaimana mereka keluar dari sana? adalah hal yang mustahil untuk menggotong mereka semua. Yang paling bugar hanya Lin Chen dan Song Wanting, tetua Li yang baru saja memulihkan diri pun tak bisa apa-apa.
"Tetua Li, tolong bagikan pil ini." kata Lin Chen seraya memberikan pil yang tersisa dari kantongnya sendiri. "Aku rasa kita harus menunggu tetua Yun dan yang lainnya pulih baru kita pergi dari sini."
Tetua Li mengangguk, memang ini adalah pilihan yang paling tepat untuk saat ini. Kali ini dia sangat bersyukur dengan adanya Lin Chen di tim Pasukan Naga, dia sendiri tak sanggup membayangkan bagaimana jadinya keadaan mereka jika Lin Chen tidak ada, mereka semua mungkin tidak akan pernah meninggalkan lembah itu.
"Anda juga masih harus memulihkan diri." Sambung Lin Chen lagi pada tetua Li.
Srak srak
Suara rerumputan terdengar, lalu tak lama kemudian muncul sekelompok Tikus Api, jumlahnya lima belas ekor, dan yang paling besar yang menjadi pemimpin mereka berdiri paling depan. Posturnya dua kali lebih besar dari yang lain dan terlihat jauh lebih kuat dengan aura liar.
__ADS_1
Ini terjadi hanya sesaat setelah mereka mulai memulihkan diri.
Pasukan Naga bukanlah sekumpulan anak kemarin sore, mereka semua telah terdidik dengan sangat keras dan bahaya merupakan makanan sehari-hari mereka tapi melihat sekumpulan Tikus Api ditambah pemimpin nya yang jauh lebih kuat membuat wajah mereka memucat. Kematian yang pasti sudah di depan mata, tak ada yang bisa mereka lakukan selain menerimanya dengan pasrah.
Jangankan melawan, untuk menggerakkan sebelah tangan saja mereka sudah tidak sanggup lagi.
"Dokter Lin, i-ini... "
Song Wanting pun berkata dengan suara terputus dan gemetar, secara reflek, dia mencabut dan menggenggam belatinya dengan erat.
"Dokter Lin, hanya anda satu-satunya yang mungkin berhasil lolos. Pergilah, sampaikan berita ini ke markas untuk mengisolasi seluruh area ini."
Saat itu, kelompok Tikus Api tiba-tiba meninggalkan mereka begitu saja.
Sementara itu, Lin Chen hanya menatap diam dan tidak bereaksi dengan ucapan itu. Dalam pikirannya berkecamuk semua kemungkinan dan setelah agak lama barulah dia menyadarinya.
Tikus-tikus Api ini ternyata memancing mereka semua berkumpul disini dan satu-satunya alasan yang masuk akal adalah karena Li Chen mengambil Batu Roh Api tempat mereka berkultivasi sebelum nya dan ini juga alasan mereka tidak langsung membunuh tetua Yun dan lainnya karena ingin memancing nya datang kesini.
Si pemimpin itu merasakan Batu Roh Api dalam saku Lin Chen, itu lah mengapa dia muncul kali ini. Satu yang pasti, nasib Pasukan Naga kali ini sudah bisa ditebak.
__ADS_1
Satu-satunya jalan agar yang lain tetap selamat adalah pergi dari sana. Ya, Lin Chen harus bisa mengalihkan pehatian dan membiarkan yang lain pergi dari tempat berbahaya ini.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka, kalian harus berusaha pergi dari sini."
"Dokter Lin, jangan gegabah. Kami Pasukan Naga tidak takut mati."
"Itu benar dokter Lin."
"Dokter Lin, aku sudah lebih baik."
Bahkan tetua Yun yang baru saja mengembalikan sedikit kondisinya juga bangkit perlahan.
Sayang nya Lin Chen tidak mengindahkan mereka, bertarung disini hanya akan membawa petaka.
"Nah aku pergi. Sampai jumpa lagi. Jangan menungguku dan jangan sia-siakan pengorbananku."
Bursst...
Lin Chen mengeluarkan auranya, sejak mulai terbiasa dalam pertarungan dan dalam suasana waspada selama berhari-hari, aura dan wibawanya mulai terbentuk, bahkan tetua Yun dan tetua Li sedikit tertekan.
__ADS_1
'Semoga pikiranku tidak salah.' Lin Chen membatin dan mulai lari sambil terus memperhatikan reaksi Tikus Api.