Sampah Dari Alam Langit

Sampah Dari Alam Langit
Enam Lawan Satu


__ADS_3

Kenyataan terkadang tidak sesuai bayangan, Song Wanting memanglah yang terkuat di antara semua jajaran kepolisian khusus ini, gerakan-gerakan nya sangat lincah sementara Lin Chen hanyalah pemula dalam beladiri.


Lin Chen seperti anak SD yang berlatih tanding dengan orang dewasa, sebentar saja dia mulai terlihat kewalahan dan tak bisa mengikuti ritme dari Song Wanting.


Beberapa bagian tubuhnya menjadi makanan empuk bagi kaki maupun tangan Song Wanting, saat Lin Chen mencoba memeluk untuk mengunci, dia malah dibanting keras tanpa bisa menghindar.


Kini dia mengerti kenapa tidak ada yang mau menjadi lawan latih tanding Song Wanting.


"Dokter Lin, kamu benar-benar payah. Tapi aku akui pertahananmu sangat kuat."


"Hah apa kamu mau membuat tulangku patah?"


Lin Chen berkata sedikit gusar, Kalau saja itu bukan Song Wanting, Lin Chen tak akan mengurangi kekuatan nya, kalau tidak, dengan kekerasan tulang miliknya, Song Wanting pasti mengalami cedera.


"Hehe sampai di sini dulu, tunggu aku ganti pakaian lalu aku akan mengantarmu."


Tidak mungkin dokter Lin yang membuat kekacauan itu, dengan kekuatan nya yang hanya segitu, mustahil dia bisa menghancurkan Harimau Terbang. pikir Wanting.


Ya, Song Wanting memang punya maksud lain ketika menarik Lin Chen ke dalam area khusus pelatihan, dia masih tetap mencurigai Lin Chen dan ingin melihat sampai dimana kecakapan nya dalam bela diri dan setelah latih tanding itu, dia menepis keterlibatan Lin Chen.


"Dokter Lin, sepertinya anda salah memilih lawan, asal anda tau, kapten Song ahli dalam beberapa teknik beladiri. Tak ada yang bisa mengalahkannya di sini."


Seorang polisi mendatangi Lin Chen dan memberitahunya. "Pantas saja, semua yang aku tau seperti tidak berguna padanya." sahut Lin Chen. "Tapi anda cukup beruntung kapten Song terlihat tidak serius tadi." kata polisi itu lagi.


"Aku lihat, kamu cukup dekat dengan kapten Song. Apa hubunganmu dengannya?"


Tampak seorang anggota berjalan perlahan mendekati Lin Chen yang sedang istirahat. Dia diikuti lima anggota lainnya. "Dokter Lin, hati-hati, dia Fan Tong, salah satu penggemar kapten Song. Dia sering mengaku memiliki kapten." bisik anggota polisi yang ada di sampingnya.


"Kelihatannya dokter Lin masih belum cukup latihan, bagaimana kalau kita bermain sebentar?"


Tanpa basa basi, Fan Tong langsung mengajak Lin Chen. "Senior, dokter Lin baru saja berlatih dan akan segera pergi."


"Apa dokter Lin takut? tenang saja, aku akan melunak, sama seperti kapten Song hehe."


"Senior Fang."

__ADS_1


"Diam! ini hujan urusanmu!"


Fan Tong membentak anggota polisi itu dengan keras, "Atau kau mau mewakilinya hah?"


Anggota polisi itu tertunduk, dia tak mungkin bisa melawan, selain itu adalah seniornya, dia juga masih cukup jauh bila dibandingkan dengan Fan Tong, bahkan dia tidak bisa mendekat dan hanya akan menjadi samsak baginya.


"Kamu benar juga, aku memang belum banyak mengeluarkan keringat hari ini." sahut Lin tapi anggota polisi itu menatap nya, seolah mengatakan jangan. "Tenanglah, tidak apa-apa. Lagipula ini hanya latih tanding biasa saja, bukan begitu?"


"Haha dokter Lin memang punya nyali. Bersiaplah!"


Fan Tong mengepalkan tangannya dan tanpa ragu memukul Lin Chen. Pukulan ini sangat cepat dan kuat, dia sebelumnya telah melihat Lin Chen tak berdaya melawan Song Wanting sehingga dia sangat meremehkan nya.


"Dokter Lin, hati-hati!" anggota polisi yang bersamanya berteriak memperingatkan Lin Chen yang hanya berdiri, seolah menunggu dipukul.


Plak


"Aih!" Fan Tong berseru saat Lin Chen membalas tinjunya dengan tinju, kedua kepalan tangan saling bertemu.


"Kamu ... "


Fan Tong meringis, Ia melompat mundur sambil mengusap tangannya yang seperti menghantam baja tebal.


"Senior!"


Anggota yang ikut bersama Fan Tong berseru, mereka kaget melihatnya melompat mundur. Sebagai anggota terlatih, mereka tentu saja tau apa artinya gerakan Fan Tong ini.


"Minggir!" seru Fan Tong. "kamu hanya beruntung, itu karena aku meremehkan mu. Selanjutnya, aku tidak akan main-main lagi."


Aura Fan Tong berubah, dia mengeluarkan seluruh kemampuannya, dengan niat menghancurkan Lin Chen. "Sebaiknya kamu berhati-hati." ucapnya lagi.


"Majulah."


Lin Chen juga tidak mau mengalah lagi. Tadi, bisa saja tulang Fan Tong patah jika Ia tidak menekan kekuatannya, namun sekarang lain lagi. Musuh sudah mengeluarkan niat membunuh, ini bukan lagi masalah latih tanding.


Fan Tong bergerak cepat, kaki tangannya seolah memiliki mata saat mengincar titik-titik kelemahan di tubuh Lin Chen.

__ADS_1


Bak buk bak buk


Tangan dan kaki beradu dengan cepat. Awalnya Fan Tong menyerang dengan penuh vitalitas namun lama kelamaan gerakannya mulai melemah, Ia meringis setiap Lin Chen menangkis serangannya. kulitnya terasa panas dan tulangnya terasa nyeri.


"Ayo bantu senior!"


Tiba-tiba salah satu anak buah Fan Tong berseru dan langsung memasuki arena pertarungan diikuti empat anggota lainnya. Sesaat kemudian, Lin Chen sudah dikepung oleh enam orang anggota pasukan khusus kepolisian.


Melihat serangan gabungan dari enam orang pasukan khusus kepolisian ini, Lin Chen mengernyit.


Dia yang tadinya hanya berpikir ini hanya latih tanding saja mulai serius, ini tidak sama dengan anak buah Harimau Terbang, orang-orang di depannya ini bukan ahli bela diri biasa. Mereka adalah anggota pilihan yang terlatih.


Meski begitu, Lin Chen masih tetap tersenyum namun, senyumnya kali ini memiliki arti lain. Sementara itu, ruang pelatihan mulai di padati anggota lain.


Berita Fan Tong menindas seorang dokter dengan cepat menyebar.


Siapa Fan Tong? dia adalah orang terkuat di sana setelah Song Wanting. Dia adalah kandidat untuk masuk menjadi anggota Biro Naga.


"Fan Tong, apakah ini perlu?" tanya Lin Chen.


"Haha... kini kau akan tau kekuatan pasukan khusus kepolisian."


"Oke." Lin Chen pun tak ragu-ragu lagi.


Suara teriakan dan bentakan terus terdengar, suasana semakin panas. Lin Chen yang terkurung di dalam formasi gabungan mulai terdesak, meski masih sanggup bertahan tapi pukulan demi pukulan datang bagai banjir.


Kalau dilihat sekilas, memang Lin Chen sudah terdesak hebat tapi jika diperhatikan lebih detail lagi, sesungguhnya tidaklah demikian.


Pada awalnya Lin Chen memang kewalahan tapi seiring waktu berjalan, gerakannya sendiri yang tadinya sangat aneh kini semakin mantap. Dia mulai terbiasa, ditambah energi spiritualnya yang sekali lagi mulai hidup.


"Sial, kenapa aku merasa orang ini semakin kuat?" ucap Fan Tong dalam hati.


Hal ini juga dirasakan lima anak buahnya, mereka mulai meringis setiap kali berbenturan dengan Lin Chen.


Sampai akhirnya, Lin Chen mulai menemukan ritme gerakan nya sendiri.

__ADS_1


Bak buk bak buk


Lin Chen tanpa ampun membagi setiap pukulan dan tendangan nya. Enam orang yang awalnya mendominasi kini tak ubahnya seperti samsak yang dipukuli tanpa bisa melawan.


__ADS_2