
Setelah Lu Jiayi mengatakan ulang tujuannya, Lin Chen pun menanggapinya dengan serius, Ia berkata, "Urusan bisnis aku serahkan pada Mao Dong, jujur saja aku sama sekali tidak mengerti apapun tentang dunia bisnis."
"Detailnya nanti kamu bicarakan saja dengan Mao Dong." kata Lin Chen lagi.
Lu Jiayi setuju saja dan dia juga menambahkan kalau perusahaannya mempunyai pabrik farmasi sendiri, ini juga menjadi nilai tambahan tersendiri bagi perusahaannya. Hal ini perlu disebutkan karena Lu Jiayi lah yang membawa proposal penawaran kerjasama.
"Oh itu bagus," seru Lin Chen. "Tapi aku masih kekurangan satu bahan lain untuk produksi massal, bahan itu adalah Rumput Roh Langit Putih."
"Rumput Roh Langit Putih?" Lu Jiayi mengernyit, nama yang sangat aneh. Begitu lama dia berkecimpung dalam bidang farmasi dan produk kecantikan tapi bahan ini tidak pernah Ia dengar.
Mau bagaimana lagi, Lin Chen juga hanya tau nama itu dari catatan di dalam warisannya. Namanya pasti berubah seiring dengan berlalunya waktu atau perbedaan dengan dunia tempat asal resep itu berasal.
"Tunggu sebentar," Lin Chen mengambil kertas dan menggambar detail bahan ini. "Coba lihat, apa kamu pernah melihatnya."
Lu Jiayi mengamati gambar dan berseru ketika mengingatnya, "Rumput Roh apa, ini Rumput Lima Jari."
Bentuknya memang sama persis. "Katakan, berapa banyak yang kamu butuhkan? bahan ini sangat umum, aku bahkan bisa memberimu satu truk penuh."
__ADS_1
Lu Jiayi tidak membual, bahan ini biasanya ditambahkan pada produk kecantikan dan hampir semua produk kecantikan yang beredar menggunakan bahan ini. Fungsi utamanya adalah memberikan aura yang bercahaya, terutama pada produk pemutih.
"Kalau begitu semua sudah beres, sisanya Mao Dong yang akan melanjutkan."
"Oke"
Perundingan kecil ini pun berakhir setelah membuat kesepakatan lainnya. Diantaranya, Lu Jiayi akan mengirim Rumput Lima Jari kepada Lin Chen dan Lin Chen akan berkunjung ke kota Shanghain untuk melihat pabrik farmasi Lu Jiayi sekaligus membawa bahan lainnya untuk memulai produksi.
Satu minggu adalah waktu yang mereka tentukan.
"Dokter Lin, besok aku akan pulang. Ingat, seminggu kemudian kamu harus datang ke Shanghain."
Belum cukup seminggu, Lin Chen sudah menghubungi Lu Jiayi. Urusannya sudah beres dan kebetulan Lu Jiayi juga sudah membereskan masalah pabrik.
Hari berikutnya Lin Chen sudah berada di kota Shanghain dan bersama Lu Jiayi mengjungi pabrik farmasi yang akan digunakan untuk memproduksi pil, dan berkat Rumput Lima Jari, pil khusus pegiat beladiri juga bisa diolah di pabrik ini tanpa harus menunggu Lin Chen mengolahnya sendiri.
"Nona Lu, tolong panggil orang yang bertanggung jawab untuk masalah produksi." pinta Lin Chen.
__ADS_1
"Tidak, aku sendiri yang akan mengurus masalah produksi. Kamu bisa mengatakan nya padaku."
Lu Jiayi paham betul kalau kunci dari sebuah produk adalah resep, tanpa resep dan cara meraciknya, mustahil bisa menghasilkan produk yang berkualitas. Meskipun bahannya tertera pada kemasan sebagai syarat lolos uji klinis tapi kerahasiaan dalam produksi harus menjadi menjadi milik produsen.
"Tapi bukannya kamu terlalu sibuk?"
"Tidak ada yang sibuk, tenang saja, aku sudah memikirkan semuanya. Lagipula produksi ini tidak bisa dilakukan terus menerus."
"Oh kenapa begitu?"
Lin Chen benar-benar tidak paham, Lu Jiayi tidak bisa berkata apa-apa. Dia pun menjelaskan kalau ingin produknya terus dicari, maka perlu diperlukan yang namanya kelangkaan, semakin langka barangnya semakin kuat posisi suatu produk di pasaran. Tentunya ini hanya bisa terjadi kalau produk tersebut berkualitas dan Lu Jiayi yakin pil racikan Lin Chen pasti berkualitas.
Lin Chen mengangguk mengerti, begitu juga tidak masalah asalkan harga untuk masing-masing produk tidak tinggi terutama pada kalangan bawah. Setelah itu Lin Chen memberikan resep pembuatan pil, terakhir, Lin Chen menyerahkan satu botol esensi Rumput Lima Jari yang berisi sepuluh tetes.
"Cukup satu tetes dalam seribu pil untuk orang awam dan dua tetes untuk pil khusus untuk pegiat beladiri."
Hari itu juga dilakukan produksi, Lin Chen secara langsung memantau prosesnya.
__ADS_1
Sementara Lu Jiayi sendiri belajar dengan cepat.