Sampah Dari Alam Langit

Sampah Dari Alam Langit
Meminta Bantuan


__ADS_3

Lin Chen berencana menetap di desa selama dua hari, melihat pembangunan jalan dilakukan sekaligus memeriksa kebun tanaman herba.


"Tuan Lin, apa anda serius menargetkan pembangunan jalan dalam satu bulan?"


"Tentu saja, semakin cepat semakin baik. Buat lebarnya sesuai standar. Masalah biaya bukan masalah. Apa anda bisa melakukannya?"


Kepala proyek tersenyum, "Tentu saja, asal ada uang, semua akan beres." Dia sangat senang, pembangunan cepat adalah impian semua kepala proyek, semakin cepat maka keuntungan juga semakin minimal.


"Tapi jangan lupakan standarnya, jangan sampai belum satu tahun sudah rusak."


"Dokter Lin tenang saja." kata kepala proyek itu lagu, dan memberikan rincian biaya yang mencapai lebih dari lima puluh milyar di tangannya.


Lin Chen mengangguk setuju, semua demi desa. Meskipun Lin Chen sangat membutuhkan uang, terutama untuk kultivasinya tapi kepentingan desa lebih utama.


Tanpa tangung-tanggung, Lin Chen langsung membayar setengahnya. Hal yang membuat kepala proyek tersenyum lebar sampai ke telinganya.


Pertemuan pun berakhir. Lalu berlanjut pada pertemuan dengan penduduk desa. Karena jalan akan diperlebar maka halaman beberapa orang akan terkena gusuran, Lin Chen juga mengganti semuanya. Sampai semua masalah perbaikan jalan selesai, barulah Lin Chen pulang kerumahnya untuk istirahat.


Hari berikutnya, Lin Chen memeriksa kebun tanaman herbal.


"Wah kalian tumbuh dengan baik." kata Lin Chen. Senyum bahagia terlihat jelas di matanya.


Berkat jimat dan formasi lima elemen dengan mengandalkan Giok sebagai pusat energi spiritual, semua herba yang baru berusia muda itu memiliki kualitas jauh lebih tinggi dari tanaman seusianya. Misalnya saja rumput matahari, meskipun baru berusia satu bulan tapi kualitasnya sudah setara dengan tanaman yang sama yang berusia sepuluh tahun, belum lagi energi spiritual yang terkandung di dalamnya jauh lebih kental.


"Bahan ini... sepertinya bisa dipakai untuk membuat pil kelas satu atau paling tidak pil biasa kelas satu semu."


Berpikir ke sana, Lin Chen kemudian mengamati semua tanaman herba ini satu persatu, mencabut dan menyimpannya. Indra spiritual berperan besar dalam hal ini.


Ketika Lin Chen kembali ke rumahnya, Ting Dji dan Jun Xing sudah ada di sana. Lin Chen sendiri memetik sepuluh paket herba yang rencananya akan dia murnikan.


"Tong Dji, Jun Xing, kebetulan kalian di sini."


"Jun Xing, kamu seorang praktisi kan? nah ambil pil ini, ini bisa meningkatkan kekuatan mu. Dan kamu Tong Dji, berlatihlah bersama Jun Xing, kamu tidak keberatan kan?"


"Tentu saja tidak tuan." Jun Xing menjawab cepat, dia tau pertanyaan terakhir itu ditujukan kepadanya. Secara tidak langsung Lin Chen memintanya mengajari Tong Dji sejurus dua jurus miliknya dan dia tidak keberatan sama sekali.

__ADS_1


"Maaf aku tak tau satu pun teknik beladiri, jadi aku tak punya apa-apa untuk diberikan."


"Tidak masalah tuan."


Tong Dji dan Jun Xing menjawab hampir bersamaan.


Pil yang Lin Chen berikan ada beberapa macam. Pil yang pertama dikonsumsi adalah pil meridian, lalu pil penguat otot dan tulang lalu vitalitas dan terakhir adalah pil penyerap Qi. Semuanya adalah pil biasa tingkat menengah.


"Aku tak perlu menjelaskannya lagi. Saat kalian mengonsumsi pil terakhir, masuklah ke dalam rumah tanaman herba."


Keesokan harinya Lin Chen kembali ke klinik.


Selama berada di desa, dia selalu menyerap energi spiritual di sana dan memastikan bahwa itu juga aman bagi Jun Xing dan Tong Dji.


Seminggu berlalu dengan cepat, kemahiran Lin Chen dalam memurnikan pil sudah sangat meningkat. Meskipun belum mencapai pil kelas satu seperti harapannya namun itu hanya tinggal menunggu waktu saja. Saat ini sudah garis putus-putus pada setiap pil yang dibuatnya. Lin Chen memberikan pil pada Mao Dong, sama seperti Jun Xing dan Tong Dji.


"Dokter Lin!" teriak seseorang dari jauh, dia adalah Song Wanting. "Apa kamu sibuk? sudah makan?"


"Katakan saja kalau ada yang dikatakan."


"Cih kamu ini, bisakah kamu pura-pura saja?"


"Sibuk apa, pasien mu juga sudah tidak ada lagi kan? ayo cepat, tetua Huang sudah menunggumu."


Song Wanting, dia sudah menganggap Lin Chen teman dekatnya bahkan kadang-kadang dia suka tersenyum sendiri jika mengingat temannya ini.


Sikapnya memang lugas dan akan langsung bicara apa yang dia rasakan terutama saat bersama Lin Chen. Entah kenapa, dia merasa bebas mengatakan apa saja.


"Tinggalkan mobil jelekmu itu, ayo naik mobilku saja."


Lin Chen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 'Sepertinya aku memang harus mengganti mobil yang lebih nyaman.' ucapnya dalam hati.


"Dokter Lin, aku sudah bergabung dalam pasukan naga." Song Wanting memecah keheningan di dalam mobil.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Untuk apa aku berbohong. Aku ini pengabdi negara, tidak seperti seorang pria yang aku kenal."


"Hei, aku memilih berkontribusi dalam bidang lain, memangnya itu salah."


"Kapan aku bilang itu kamu?"


Lin Chen memang pernah diundang untuk bergabung dengan biro Naga tanpa harus mengikuti seleksi namun dia menolaknya dan Lin Chen tau dirinyalah yang Song Wanting maksud.


"Kenapa? aku tidak salah kan?" kata Song Wanting lagi sambil tersenyum main-main. Dia hanya menggoda Lin Chen saja.


"Sudahlah. Apa kamu tau kenapa tetua Huang ingin bertemu denganku?"


"Kita sudah sampai. Aku cuma mengantarmu saja, aku masih ada urusan lain." Song Wanting pun langsung pergi tanpa menunggu persetujuan Lin Chen.


Tempat pertemuan itu adalah sebuah restoran dengan gaya kuno. Terbuat dari kayu dan berlantai dua.


"Tuan, apakah anda sudah memesan tempat?" tanya pelayan ramah.


"Aku ada janji dengan seseorang di sini."


"Apa anda dokter Lin?" Lin Chen mengangguk. Kalau begitu, silahkan ikuti saya."


Lin Chen dibawa ke sebuah ruangan VIP di lantai dua, di ruangan ini sudah ada tetua Huang, tetua Lu dan seorang pria yang belum Lin Chen kenal.


"Tetua Huang, tetua Lu, tetua, salam."


"Dokter Lin, akhirnya anda datang. Oh ya kenalkan, ini tuan Li Guozhong."


"Salam kenal tetua Li." ucap Lin Chen ramah tapi keningnya berkerut ketika melihat tubuhnya.


"Aku tak menyangka ternyata anda begitu muda. Kalau tidak dikenalkan tetua Lu dan tetua Lin, Aku tidak akan percaya kemampuan mu."


Karena Li Guozhong tidak mempunyai sikap yang sama dengan sikap Lin Chen terhadapnya, maka Lin Chen juga tidak akan segan lagi. Dia mengacuhkan nya dan bertanya kepada tetua Huang.


"Tetua Huang, apa anda punya sesuatu untuk disampaikan?"

__ADS_1


Lin Chen memang rendah hari tapi bukannya orang seenaknya saja memandang rendah dirinya, apalagi dia sekarang diundang datang dan ini bukan kemauan nya sendiri, hanya karena menghargai tetua Huang saja makanya dia mau datang.


"Dokter Lin, duduk dulu." kata tetua Huang, Ia memberi isyarat pada tetua Li agar tidak memprovokasi Lin Chen.


__ADS_2