
Tiga hari penuh Lin Chen berada di dalam Ruang Jiwa, selama itu pula jiwanya sangat tersiksa. Bahkan ada satu waktu dimana jiwanya seolah akan keluar dari raganya.
Namun, karena Lin Chen tahu bahwa ini adalah proses kultivasi jiwa, maka dia tidak mengeluh dan berusaha tetap sadar. Ini sama seperti saat dia menerima informasi warisan yang di dapatnya. Saat itu, saat pertama kali membentuk fisiknya dengan ramuan.
Dan sekarang jiwa spiritualnya seperti diperas, untung saja Lin Chen telah menyiapkan semuanya, terutama pil yang bisa memperbaiki kondisinya saat ini.
Bum!
Ledakan kecil di dalam lautan kesadarannya meledak, kultivasi jiwa spiritualnya akhirnya memasuki tahapan yang sama sekali baru. Sisanya tinggal menyerap seluruh esensi di Ruang Jiwa untuk menstabilkan jiwa spiritualnya.
"Akhirnya."
Lin Chen membuka matanya dan menghembuskan nafas keruh. Lin Chen pun bangkit lalu keluar dari Ruang Jiwa yang sekarang telah menjadi ruang yang tidak berguna.
Di luar, Lin Chen sudah ditunggu oleh sepuluh anggota sekte Berhala atau lebih tepatnya dia dikepung dan yang memimpin mereka adalah seorang pria paruh baya yang tampaknya cukup kuat.
Pria ini adalah Tengyun, wakil pimpinan yang telah ditunggu anggota sekte lainnya.
"Tahukah kamu kalau kamu hari ini tidak keluar, maka kami terpaksa memaksamu keluar dengan kasar." kata Tengyun yang menatap Lin Chen dengan penuh niat membunuh.
__ADS_1
"Jangan katakan lagi kalau kamu adalah utusan, aku sudah tahu kalau namamu bukan Chen Lin tapi Lin Chen atau dokter Lin." sambungnya lagi.
Menyadari rahasianya telah terbongkar tidak membuat Lin Chen panik. Begitu juga bagus, lagipula dia sudah berniat melenyapkan sekte Berhala.
"Lalu? kalian mau apa?"
"Memang benar, aku bukanlah utusan. Hanya saja pimpinan kalian terlalu bodoh untuk membuat masalah denganku."
"Katakan dimana pimpinan sekarang! aku, Tengyun berjanji akan melepasmu."
"Melepasku? hahaha itu adalah ucapan yang paling lucu yang kudengar setelah keluar."
Meski begitu, Lin Chen berlaku hati-hati, orang-orang di depannya ini pasti memiliki hal yang biasa mereka lakukan bersama dan benar saja, Tengyun yang tidak sabar langsung berseru keras.
"Bentuk formasi!"
Sepuluh orang berbaris rapih, lalu membentuk lingkaran mengelilingi Lin Chen. Mereka terus berputar dan sesekali mengubah putaran dan berganti posisi. Hanya Tengyun yang tidak ikut dalam barisan.
Tengyun berdiri di luar barisan sambil sesekali berteriak dan melempar kertas jimat.
__ADS_1
"Hancurkan posisi langit!"
"Rubah cahaya menjadi kegelapan!"
"padamkan kehidupan!"
Setiap kali Tengyun melempar sebuah kertas jimat, dia akan berteriak keras. Lalu berturut-turut sepuluh orang yang mengepung Lin Chen juga melempar jimat.
Semakin banyak jimat yang dilempar ke udara, semakin kuat pula tekanan yang Lin Chen rasakan.
Sayangnya ini tidak berpengaruh apa-apa, alasan kenapa dia diam adalah karena dia mengamati barisan ini. Jika dia mau, dia bisa dengan mudah menghancurkan barisan formasi ini.
Tapi Tengyun dan lainnya merasa diamnya Lin Chen karena takut. Sampai tiba-tiba Lin Chen berseru keras diikuti kilatan cahaya putih yang sangat menyilaukan.
Cahaya ini bersumber dari belati putih yang Lin Chen bawa untuk berjaga-jaga. Seiring dengan berkelebatnya cahaya putih ini, suara-suara kesakitan dan rintihan dari pengeroyok juga terdengar.
"Kamu... bagaimana kamu bisa memecahkan formasi ini?"
Jika itu waktu sebelum Lin Chen masuk ke Ruang Jiwa maka dia tidak akan berpikir untuk melawan, dia pasti memikirkan jalan untuk pergi sari sana secepat yang dia bisa.
__ADS_1
"Mainan anak-anak sungguh merusak mata." Kata Lin Chen.