
Jalan yang dilalui Lin Chen memang agak sepi, tapi bukan juga jalan yang tidak ada pengendara yang lain yang lewat.
Dari persepsi nya, Lin Chen yakin orang-orang yang menghadang jalannya tidak bermaksud baik.
"Tunggu di sini." kata Lin Chen pada supir taxi. Supir itu pun mengangguk, dibayar berapapun aku tak juga tak akan turun, batinnya.
"Jadi, apa maksud kalian menghadang jalan?"
"Hehe kamu membawa barang lain. Anak-anak, ambil barang di dalam taxi."
"Ingin merampokku? apa kalian tau, merampok itu tidak baik? apa kalian tidak takut?"
Pria yang merampok itu tertawa keras, diikuti teman-temannya. "Takut? asal kau tau, aku dari kelompok Macan Terbang. Minggir! kalau tidak mau mati."
"Dan namamu?" tanya Lin Chen, dia tetap tenang.
"biar kamu tidak penasaran, namaku Bong Lei."
Lin Chen mengangguk, dia meraih ponsel dan menelepon. Sementara Bong Lei hanya membiarkannya saja, dia sama sekali tidak menganggap siapa yang Lin Chen hubungi.
"Mao Dong, apa kamu kenal orang yang bernama Bong Lei? dia berasal dari kelompok Macan Terbang."
Mao Dong yang baru saja selesai melelang batu mentah terkejut, "Tuan, itu salah satu dari kekuatan bawah tanah. Berani sekali mereka, tuan dimana, aku akan mengirim anak buah kesana."
"Tidak perlu, katakan saja dimana markas mereka."
Menurut Mao Dong, kelompok Macan Terbang tidak punya markas tetap. Mereka bergerak secara acak dan mereka adalah kaki tangan keluarga Wu.
"Tuan, mungkin mereka bergerak atas perintah keluarga Wu. Aku yakin ada anggota keluarga Wu yang berada di antara kerumunan di sini."
"Ya sudah."
Lin Chen menutup telepon. Dari seberang, Mao Dong menghubungi sebuah nomor dan membuat perintah.
"Apa kamu sudah selsai? kalau sudah, minggir lah kalau tidak mau terluka."
Bong Lei melambai, menyuruh anak buahnya mengambil barang di taxi tapi begitu mendekati Lin Chen, satu persatu dari mereka terlempar. Baru saja Bong Lei hendak mengatakan sesuatu, sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.
"Aku tidak suka di ancam. Terluka? apa kamu sangat suka kata itu?"
Kemudian satu tamparan mendarat lagi, wajah Bong Lei langsung bengkak. Dia memudahkan darah bercampur giginya yang ikut rontok.
__ADS_1
"Jangan ada yang pergi!" seru Lin Chen menggunakan sedikit aura intimidasi. "Berlutut!" ucapnya lagi.
Entah sejak kapan Lin Chen jadi begitu kejam, Bong Lei beserta anak buahnya yang sudah ketakutan itu dia hajar meski sudah berlutut.
"Baik-baik saja kalau kalian ingin merampok tapi kalian mengancamku. Aku benar-benar tidak suka."
"T-tuan maafkan kami, kami tidak anda sangat kuat."
Hoeek...
Bong Lei memuntahkan seteguk darah lagi sebelum pingsan. Lin Chen kemudian menendang mereka lagi supaya tidak menghalangi jalan.
"Tuan, anda sangat hebat tapi tuan harus hati-hati kelompok mereka sangat kuat dan memiliki banyak tukang pukul."
"Kau tau?"
"Hehe tuan, aku ini supir yang mencari makan di jalan. Tentu saja aku tau."
Ponsel Lin Chen berdering, Mao Dong mengabari kalau Bong Lei adalah salah satu pemimpin kelompok Macan Terbang. Dia tidak menanyakan keadaan Lin Chen, menurutnya Bong Lei bukanlah apa-apa.
"Tuan, aku juga telah menemukan salah satu tempat dimana mereka biasa berkumpul."
"Baik." sahut Mao Dong. 'Tuan memang terlalu baik.' batin Mao Dong, kalau itu pemimpin yang lama, dia pasti sudah mengatur serangan. Meski begitu, Mao Dong tetap mengirim alamat tempat kelompok Macan Terbang berkumpul itu.
Sampai di klinik, Lin Chen menyimpan batu mentah yang di bawanya dan ketika bersiap memotong batu-batu itu, teleponnya berdering lagi namun kali ini yang menelepon adalah Sing Wanting.
"Dokter Lin, pil buatanmu sangat hebat. Kau tau? bahkan tetua Huang sampai memujimu dan mengundang mu untuk datang."
"Baguslah kalau memang berhasil."
"Hei, kenapa nada suaramu seperti tidak senang?"
"Tidak apa-apa, aku hanya lelah saja." kata Lin Chen, dia tidak heran kalau pilnya berhasil.
"Baiklah, besok jangan lupa, tetua Huang mengundang mu makan siang. Katanya mau berterima kasih."
"Oke."
Pandangan Lin Chen kembali ke batu mentah di depannya. "Sesuai dugaanku, belati ini memang memang sangat tajam." gumam Lin Chen saat dengan mudahnya menyingkirkan bagian batu mentah yang tidak perlu.
Yang Lin Chen tidak sadari adalah, dia menggunakan energi Qi spiritual ketika mengiris batu dan faktanya memang belati itu juga sangat tajam. Belati itu bukan belati biasa, dulu pernah terkena tetesan darah Lin Chen dan sejak itu ketajamannya meningkat drastis dan hanya bisa digunakan oleh Lin Chen sendiri.
__ADS_1
"Giok berunsur air." ujar Lin Chen saat membuka batu pertama. Giok berwarna yang berwarna biru cerah.
"Giok tipe kayu." ucap Lin Chen lagi saat melihat Giok di tangannya yang berwarna putih bercampur hijau pekat.
Saat beberapa batu dibuka lagi, semua unsur dari elemen alam terlihat. Meskipun hujan yang terbaik tapi itu sudah lebih dari cukup.
Lin Chen segera membuat rencana, pertama adalah meningkatkan kebun tanaman herbanya lalu sisanya akan digunakan untuk berkultivasi.
Hanya tempatnya saja yang harus dipikirkan lebih jauh. Di desa maupun di klinik benar-benar tidak cocok, paling bagus adalah menemukan tempat yang mengandung energi spiritual yang cukup melimpah.
Malam pun berlalu, Lin Chen lalu membuka klinik seperti biasa dan siangnya tampak dia sudah pergi bersama Song Wanting untuk memenuhi undangan tetua Huang.
"Dokter Lin, haha akhirnya kaku datang juga." sapa tetua Huang.
"Bagaimana kabar anda tetua?"
"Baik, baik. Silahkan masuk, aku akan mengenalkanmu pada seseorang. Nona Song, anda juga ikut masuk saja."
Sesaat kemudian, Lin Chen masuk ke sebuah ruangan VIP di restoran.
"Nah ini tetua Lu Xiangfeng. Dia ... "
"Tuan Lu? anda di sini?"
"Haha dokter Lin, kita bertemu lagi."
"Kalian... "
Lin langsung mengenali orang di depannya, itu adalah tuan Lu yang dulu pernah dibantu nya mengusir penyakit akibat terlalu lama bersinggungan dengan energi negatif.
"Tetua Huang, aku pikir siapa yang akan kamu kenalkan. Aku juga bertanya-tanya siapa yang sudah begitu hebat membuat penawar racun itu. Seharusnya aku bisa menebak itu adalah dokter Lin."
Lalu, tetua Lu menceritakan awal pertemuan nya dengan Lin Chen. Tetua Huang mengangguk mengerti dan semakin kagum pada Lin Chen.
"Tuan Lu, anda terlalu sungkan."
"Sudah, sudah. Kita makan dulu, anda juga pasti sudah lapar kan?" ucap tuan Lu.
"Tuan Lu, tetua Huang. Aku sepertinya harus pamit dulu. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan." Sing Wanting melihat Lin Chen, "Dokter Lin, saat sudah selesai, hubungi aku untuk mengantarmu pulang nanti."
"Oke."
__ADS_1