Sampah Dari Alam Langit

Sampah Dari Alam Langit
Suasana di Klinik


__ADS_3

Kalau bukan semangat pantang menyerah, Lin Chen mungkin tidak akan pernah berhasil membuat pil. Tapi bantuan yang paling hebat adalah informasi di kepalanya yang menjelaskan dengan sangat rinci detail pemurnian pil.


Pil ini adalah pil pemulih Qi, pil yang berguna untuk mengisi Qi yang banyak terbuang. Lin Chen langsung menelan pil itu dan satu menit kemudian, energi spiritual mengisi kembali tubuhnya. Tak menunggu terlalu lama, Lin Chen kembali membuat pil sampai semua bahan yang disiapkannya habis.


Tiga puluh pil berhasil dibuat. Dua puluh pil kualitas tinggi dan sepuluh yang berkualitas rendah. Kualitas ini tentunya bukan menjadi patokan dasar karena masih akan lebih baik lagi jika dia menggunakan bahan yang lebih berkualitas.


Selama beberapa hari ini Lin Chen memfokuskan diri pada pemurnian pil. Dari klinik, dia akan langsung pergi ke vila untuk terus mengasah keterampilannya. Berbagai pil telah berhasil dibuatnya, meskipun kualitasnya masih jauh dari syarat yang tertera rapi paling tidak itu sudah jauh lebih bagus dan bermanfaat di dunia fana.


Dikatakan bahwa pil itu ada tingkatan nya, mulai dari pil kelas satu yang bergaris satu sampai pada pil tingkat lima yang bergaris lima lalu, ada lagi pil khusus yang disebut pil langit atau pil roh jiwa yang Lin Chen murnikan kembali untuk menguatkan pondasi alam jiwa jiwa roh.


"Aku rasa suatu saat nanti aku bisa membuat pil kualitas kelas satu." gumam Lin Chen. Dia tidak kecewa dengan hasil ini.


Pagi itu, Lin Chen tiba di klinik dengan semangat baru. Baru kemarin dia bisa memurnikan pil vitalitas yang sangat berguna bagi pasien yang lemah atau untuk penyakit yang ringan. Lin Chen sendiri perlu memastikan sampai sejauh mana khasiat pil vitalitas pada pasien-pasiennya.


Tong Dji belum kembali dari desa, dia memang mengambil alih perawatan tanaman herba dan bersama Jun Xing yang menjaga keamanan. Sekaligus menghitung semua biaya perbaikan jalan.


Ya, Lin Chen merasa waktunya untuk memperbaiki jalan-jalan desa. Uang sudah terkumpul, ditambah enam ratus milyar dari hasil taruhan Zhang Zitou.


"Kakek? anda di sini?" Baru saja selesai membuka klinik, dia melihat kakek yang dulu pernah dia obati di taman dekat vila.


"klinik mu cukup bagus." kata si kakek. "Apa kamu mau membiarkan orang tua ini hanya di luar?" kayanya lagi sambil tersenyum.


"haha silahkan, silahkan masuk. Aku baru saja membuka klinik."


Wuss...


Semilir angin lembut yang mengandung energi murni murni menerpa setiap pori-pori kulit si kakek ketika pertama kali menginjakkan kakinya di dalam klinik.


"Ini... " Seolah tak percaya, si kakek terus masuk sambil terus melihat ke sekeliling area klinik. "Bahkan tempat ku udaranya tidak semurni ini." gumamnya.


"Maaf aku hanya punya teh biasa saja." kata Lin Chen yang baru saja kembali dari dalam bersama sepoci teh dan peralatan minum teh.

__ADS_1


"Anak muda, ... "


"Oh namaku Lin Chen." potong Lin Chen.


"Dokter Lin," si kakek pun merubah panggilannya. "Kenapa aku merasa klinikmu sangat nyaman? udara disini jauh lebih segar."


"Mungkin karena ini adalah klinik, tempat orang-orang berharap kesembuhan sehingga semangat hidup dan harapan tinggi akan kesehatan sehingga membuat terasa nyaman."


Lin Chen tidak mungkin mengatakan kalau dia memasang jimat pengumpul energi roh spiritual di sana.


"Namaku Jiang Fangyou. Aku suka tempatmu, aku bahkan merasa sudah sehat dengan hanya duduk sambil minum teh di sini haha."


Jiang Fangyou sama sekali tidak berbohong, dia memang merasa rasa lelahnya berangsur-angsur hilang dan kekuatan nya meningkat.


"Dokter Lin, tolong, tolong anakku. Sudah dua hari ini kesehatan nya tiba-tiba menurun, entah kenapa tapi sepertinya ada yang salah."


Seorang Ibu membawa anaknya yang berusia sepuluh tahun. Anak itu sangat lemah, vitalitasnya menurun.


"Dokter Lin, aku tidak apa-apa." sahut Jiang Fangyou dari samping. Lin Chen pun mengangguk dan mulai memeriksa anak itu.


'Ayo dokter Lin tunjukkan keahlian mu pada orang tua ini.' ucap kakek Jiang dalam hati. Mulutnya tersenyum.


"Dokter Lin, biar aku bantu." seorang pasien pria masuk lagi dan tanpa menunggu persetujuan Lin Chen, dia langsung menggendong anak itu dan membaringkan nya di ranjang pemeriksaan.


"Terima kasih paman."


"Haha lanjutkan saja, aku hanya duduk-duduk sebentar." pasien pria itu lalu mengambil tempat duduk di ruang tunggu, bukan di tempat antrian pasien.


Berturut-turut datang lagi beberapa pasien, setelah menyapa Lin Chen dengan ramah, mereka mengambil tempat duduk yang sama dengan pasien pria tadi. Sudah ada sepuluh orang yang bertindak sama, tidak mengambil antrian melainkan hanya duduk sambil mengobrol di antara mereka.


"Paman-paman, aku minta maaf, Tong Dji sedang keluar jadi aku tak bisa menyeduhkan teh."

__ADS_1


Lin Chen hanya membuat sepoci teh tadi dan itu tidak akan cukup untuk semua orang.


"Dokter Lin memang rendah hati, heh pria-pria malas, tunggu apa lagi? apa kalian masih ingin dokter Lin yang menyeduhkan teh untuk kalian?"


"Bibi Mai Seru Lin Chen ketika melihat siapa yang datang. "Kenapa anda baru datang, apa anda baik-baik saja?"


"Baik, baik, anda betul-betul murah hati dokter Lin. Aku tidak seperti pria-pria ini yang tidak tau malu sampai datang setiap hari. Duduk sambil minum teh sambil tertawa lalu pergi, paling tidak, bawalah sesuatu untuk dimakan."


"Apa kalian lihat, dokter Lin sepagi ini sudah sibuk, apa kalian tidak pernah berpikir kalau dokter Lin bahkan belum makan apa-apa?"


Ibu Mai terus saja mengoceh, sampai pria-pria itu merasa tidak enak sendiri. Tapi semua yang dikatakannya benar dan memang sikap Ibu Mai selalu seperti itu.


"Kami pergi sekarang."


"Tidak usah, aku sudah membeli kue."


Kata Ibu Mai sambil mengangkat kantong kertas berisi roti dan kue. "Kalau begitu, biar aku menyeduh teh."


"Bu Ning, anda juga datang? tidak perlu, biar mereka saja yang menyeduh teh." sahut Ibu Mai ketika melihat siapa yang datang.


Setelah itu, suasana pun kembali tenang, hanya terdengar suara percakapan dan tertawa ringan yang terdengar. Karena ini adalah klinik, jadi tentu saja semua orang menghormati pasien yang sedang berobat, selain takut mengganggu konsentrasi Lin Chen.


Lalu, satu jam kemudian, ruang tunggu itu pun sudah penuh. Beberapa orang yang datang pertama sudah pergi namun orang lain segera datang menggantikan tempatnya.


Orang-orang ini tidak sakit, hanya menumpang bernafas lalu pergi dengan tenang. Tentu saja poci teh selalu hangat dan kue serta buah selalu saja ada di meja. Sebetulnya Lin Chen telah melarang mereka tapi karena selalu begitu maka dia membiarkannya saja, dia hanya menegaskan kalau semua itu harus habis, tidak boleh ada yang tersisa dan mereka pun patuh.


Sementara itu Lin Chen terlihat memotong pil vitalitas tingkat rendah dan melarutkan nya dengan air lalu memberikan pada anak itu. Sepuluh menit kemudian kulit anak itu kembali cerah.


"Bibi, ambil setengah pil ini. Besok larutkan ke dalam air dan berikan kepada anak bibi. Kalau bibi merasa masih ada yang salah, datanglah lagi."


"Dokter Lin terima kasih."

__ADS_1


Bibi dan anaknya lalu pergi, dia terlihat menghampiri kotak yang ada di sana dan memasukkan selembar uang kecil. Sama seperti yang lain.


__ADS_2