
"Sial! berani sekali mereka!"
Wu Dong menggertakkan giginya, geram karena undangannya disepelekan Lin Chen. Padahal dia sudah mengatur pertemuan itu dengan sangat baik di salah satu hotel mewah, asal tau saja dia yang dihabiskannya tidak kurang dari satu milyar rupiah hanya untuk menjamu Lin Chen.
Namun apa yang dia dapat? saat hari yang ditentukan, tak satupun orang dari Paviliun Naga yang datang.
Lalu apa yang harus dia lakukan? membalasnya? tapi bagaimana caranya. Mereka sama-sama bergerak di dunia bawa dan tidak mudah untuk menekan Paviliun Naga. Lagipula, dia telah gagal, lebih dari separuh kekuatan Macan Terbang telah lumpuh.
Kalau saja Paviliun Naga bergerak di bidang lain, mungkin Wu Dong bisa mengandalkan kekuatan keluarganya untuk menekan bisnis mereka.
Belum hilang rasa geram Wu Dong, ponselnya tiba-tiba berdering dan kembali salah satu anak buahnya melaporkan ada yang menganggu bisnis hiburan yang Macan Terbang kelola.
"Kurang ajar!"
Wu Dong membanting ponselnya hingga hancur berserakan di lantai.
"Tuan, tuan besar meminta anda segera ke rumah."
Apalagi ini? pasti ada yang tidak beres sampai ayah nya memanggilnya datang. Wu Dong melirik sebentar ke arah ponselnya yang hancur kemudian meminta anak buahnya mencarikan ponsel baru. Sesaat kemudian dia pun pergi dari hotel itu.
Tak lama setelah Wu Dong dan semua anak buahnya pergi, tampak seorang pria yang mengenakan seragam hotel melakukan panggilan telephon.
"Oke, lanjutkan pekerjaanmu."
"Baik tuan Mao."
__ADS_1
Pria ini ternyata anak buah Mao Dong yang ditugaskan memantau situasi pertemuan itu. Begitu Wu Dong pergi, dia segera melapor.
Mao Dong ini juga cerdas, Lin Chen menolak undangan Macan Terbang tapi bukan berarti tidak ada yang datang. Lalu Mao Dong mengatur seseorang untuk memantau di sana.
Kembali ke kediaman keluarga Wu.
Wu Dong yang baru saja menemui ayahnya meringis pelan seraya memegangi pipinya yang barusan ditampar oleh ayahnya.
"Dasar tidak berguna. Apa saja yang lakukan di luar hah! Lihat perbuatanmu ini, keluarga Wu jadi kena imbas."
"Tapi ayah... "
"Tidak ada tapi tapi, pergi dan selesaikan masalah ini secepatnya kalau tidak.
Keluarga Wu sendiri bukannya keluarga lemah. Contohnya sang kepala keluarga, dia juga ahli beladiri tingkat Prajurit menengah sedangkan Wu Dong berada di tingkat beladiri internal.
Kelompok Macan terbang dia buat untuk melindungi kepentingannya dan hampir semua keluarga utama mengetahui hal ini.
"Pergi dan awasi anak bodoh itu dan cobalah untuk merekrut anggota baru."
Kepala keluarga Wu berkata tanpa menoleh, sedetik kemudian tampak sebuah bayangan pergi dan mengikuti Wu Dong.
...
Jauh di pinggiran kota Liang, terdapat sebuah rumah yang cukup besar, bangunan yang tampak terbengkalai dari luar ini akan terkejut ketika masuk. Betapa tidak, apa yang ada di dalamnya jauh berbeda dengan apa yang terlihat dari luar.
__ADS_1
Memang tidak bisa dikatakan mewah tapi ini jauh dari kata sederhana, dekorasinya begitu modern.
Masuk lebih dalam, ada sebuah aula yang terhubung dengan taman kecil.
Tampak seorang tetua duduk dengan tenang, di depannya juga duduk beberapa pria paruh baya.
"Tetua, rencana kita dengan Macan Terbang gagal. Kita kehilangan seorang di ranah Prajurit." ucapnya.
"Tetua aku curiga Paviliun Langit ini memiliki ahli tingkat Guru. Dari pengamatan kami di lokasi, orang kita tidak banyak melawan sebelum dikalahkan."
Tetua itu terdiam cukup lama sampai akhirnya dia berkata, "Bagaimana keadaan Macan Terbang?"
"Lapor tetua, Macan Terbang saat ini mengalami kemunduran. Mereka menderita kerugian sangat besar dan akhir-akhir ini beberapa wilayah mereka diserang."
Tetua itu kembali terdiam, "Sudah kuduga Paviliun Langit ini tidak biasa sejak mengambil alih Harimau Terbang. Jangan lakukan gerakan apa pun lagi, cukup sudah kita kehilangan anggota, jangan membuat kesalahan yang sama."
"Baik tetua."
Jawab mereka serempak.
"Oh ya patriark akhir-akhir ini sering berobat ke klinik dokter Li, selidiki siapa dan darimana dokter ini berasal."
Pertemuan kecil itu pun selesai, masing-masing meninggalkan tetua yang masih duduk sendiri sambil merenung.
Ponselnya tiba-tiba berdering, dari seberang sana ada suara yang mengatakan patriark meminta dia untuk datang menemui nya.
__ADS_1