
Lin Chen tidak memberi kesempatan Bong Shan bergerak lebih jauh, kekuatan pukulan yang mengerikan langsung menghantam telak dadanya tanpa bisa dia hindari.
Bong Shan terlempar lima meter, begitu dia bangun, Lin Chen yang juga melompat mengejarnya kembali menginjak dadanya dengan kuat.
pufft..
Darah kental menyembur, beberapa tulang rusuk Bong Shan retak. Tulang dadanya lebih parah lagi, itu melesak ke dalam menekan paru-paru nya sampai batas yang ekstrim.
Dengan tatapan yang dipenuhi dendam, Bong Shan yang tidak berdaya berkata, "Kau tidak akan lolos dari cengkraman Macan Terbang."
"Kita lihat saja, tapi yang jelas kau tidak akan lolos sekarang."
Satu tendangan lagi membuat Bong Shan terdiam, selanjutnya, Lin Chen menelepon Mao Dong untuk menyuruh orang membereskan kekacauan itu.
Tidak masalah kalau Macan Terbang ingin mengirim orang lagi, asal jangan merusak miliknya atau mengancamnya saja. Kalau tidak Lin Chen akan mendatangi mereka sendiri. Namun, Lin Chen juga tidak mau bertindak tanpa perhitungan, siapa yang tau musuh yang lebih kuat akan muncul.
'Aku harus meningkatkan kekuatan lagi.' ucapnya dalam hati, kemudian mengemudi kan truknya kembali kd villa no 1.
Tiba di villa, ternyata Zhang Cuihua sudah ada di sana.
"Dokter Lin, kenapa kamu tidak mengangkat teleponku? aku sudah menunggu dari tadi di sini."
"Oh maaf, maaf aku lupa ponselku dalam mode hening." pasti saat bertarung dengan Bong Shan tadi, Zhang Cuihua meneleponnya.
Lin Chen kemudian mengambil ponselnya dan pura-pura mengutak-atik nya sebentar.
[ Tuan, semua sudah aman ]
Mao Dong mengirim pesan, [ Bagus ] balasnya sambil tersenyum, memang enak punya anak buah hehe.
"Dokter Lin, kenapa kamu senyum-senyum? apa kamu tidak mau mengajakku masuk?"
__ADS_1
Lin Chen tersadar lalu buru-buru membuka gerbang dan masuk bersama Zhang Cuihua.
"Uwaa kenapa rumah ini sekarang sangat nyaman?" ucap Zhang Cuihua, dia tanpa ragu melempar tubuhnya ke atas sofa.
Ini bisa terjadi karena Lin Chen memasang formasi pengumpul roh di rumahnya, seperti di klinik. Di kamarnya sendiri bahkan lebih kuat lagi.
"Yah anggap saja rumah sendiri." gumam Lin Chen sambil tersenyum masam, bukan masalah Zhang Cuihua yang rebah di sifa tapi posisi rebahnya yang membuat pria manapun bisa salah paham. Di terlentang begitu saja dengan kaki putihnya di lantai sementara tangannya terkulai pasrah di sampingnya.
Beberapa saat kemudian, Zhang Cuihua membuka matanya dan buru-buru membetulkan posisinya dengan muka merah.
"Oh itu... maaf." Ucapnya sambil tersipu. "Tunggu sebentar." Dia berlari kecil ke mobilnya dan mengambil sebuah kotak yang terlihat cukup berat.
"Dokter Lin, ayahku menghadiahkan ini untukmu. Bukalah."
"Nona Zhang, anda tidak perlu repot-repot lagi." villa yang luas dengan pemandangan dan fengshui paling bagus ditambah semua isi rumah sudah lengkap benar-benar membuat Lin Chen membuat Lin Chen tak ingin menerima apa pun lagi.
"Jangan menolak, lagipula ini hanya barang kecil saja."
"Baiklah." Lin Chen lalu membuka kotak dan terkesima melihat isinya.
Jangan remehkan kekuatan keluarga Zhang, meskipun hanya satu tahun tapi semua herba itu berkualitas unggul. Sejak mengalami musibah karena Giok roh, banyak master yang menyarankan nya untuk membeli sumber daya yang berhubungan dengan jiwa namun karena tidak berpengaruh sama sekali, akhirnya Zhang Xuan mengabaikannya.
Dan karena sekeluarga sudah terbebas maka barang-barang itu mejadi tidak berguna sama sekali.
"Dokter Lin, anda adalah seorang dokter jadi ayahku memberikan semua ini. Tolong jangan menolak nya."
Lin Chen tidak menolak lagi. Selepas Zhang Cuihua pergi, dia memeriksa kembali kotak kayu di depannya. "Bagus, dengan begini semua bahan sudah terkumpul." gumamnya dengan puas.
Meramu pil itu bukan hal yang mudah, urutannya harus benar-benar diperhatikan agar bahan-bahan pembuatnya tidak sia-sia. Sepuluh menit berlalu namun Lin Chen belum juga bergerak, semenit kemudian, dia menghembuskan nafas pelan, "Baik, mari kita mulai."
Api mulai menyala dan membakar tungku, secara perlahan, Lin Chen memasukkan semua bahan satu persatu sambil melihat reaksinya, sebelah tangannya sibuk mengatur api. Terkadang apinya membesar namun disaat lain apinya seolah-olah bisa padam saking kecilnya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Lin Chen mematikan api, semua bahan sudah tercampur menjadi satu dan sudah berbentuk pasta. Dia membiarkan sisa panas tungku melakukan pekerjaan terakhir nya.
Begitu tungku sudah dingin, terlihat pil yang meskipun masih ada kotoran di dalamnya tapi itu cukup berhasil. Dua buah pil tergeletak dengan tenang.
"Tidak masalah, pil ini masih cukup baik." gumam Lin Chen dan segera ke kamarnya sendiri untuk mulai mencerna dua pil itu.
Pil itu mengalir melalui seluruh meridian nya, ibarat mata air yang mengalir jernih. Karena itu adalah pil jiwa maka yang paling mendapat manfaat adalah jiwanya. Jiwanya seperti dibangunkan dan disiram dengan udara sejuk dan hangat.
Tubuh Lin Chen terasa makin ringan, seolah-olah melayang dan kesadarannya mengapung bebas.
Apa yang Lin Chen rasakan ini adalah proses terbangun nya jiwa seorang kultivator, namun dia sendiri tidak menyadarinya. Dia hanya mengikuti panduan yang ada di dalam kepalanya saja.
"Ini sangat hebat." gumam Lin Chen saat membuka matanya. Kesadarannya seakan bersatu dengan alam itu sendiri. "Jadi ini proses terbangunnya jiwa?" gumamnya lagi. Tanpa menunggu lama, dia mengambil Giok hitam yang didapatnya dari Zhang Zitou.
Kultivasi jiwa lebih sulit dari kultivasi beladiri maupun kultivasi Qi dan ini sangat penting bagi seorang kultivator terutama bagi seorang ahli alkimia maupun profesi lainnya.
Tingkatan nya dibagi berdasarkan tingkatan kultivasi beladiri, namun Lin Chen yang mempunyai panduan di dalam pikirannya berhasil membuat jiwanya satu tingkat lebih tinggi dari kultivasi beladirinya.
Giok hitam itu selesai diserap dan membangun jiwa Lin Chen ke tahapan yang baru. Jiwanya telah terbangun dan dimurnikan, sekaligus menempa kesadarannya.
Malam berlalu dengan tenang.
Keesokan harinya, sebelum cahaya muncul di langit timur, terdengar raungan kecil dari dari lubuk batin Lin Chen. Ketika dia membuka matanya lagi, kesadaran spiritualnya telah menembus sejauh satu kilometer jauhnya. Dalam radius ini, Lin Chen bisa melihat atau mendeteksi segala sesuatu.
"Benar-benar hebat!"
Seru Lin Chen sambil mengepalkan tangannya, entah kenapa dia merasa memurnikan pil akan jauh lebih mudah dan hasilnya pun jauh lebih sempurna.
Lin Chen melihat keluar jendela, pesona alam sekitar dan pantulan mentari pagi yang tenang di atas danau Phoenix membuatnya tergerak untuk melakukan olahraga pagi.
Setelah berganti pakaian, Lin Chen mulai menelusuri jalan sepanjang danau Phoenix. Tidak banyak orang pagi itu, mungkin karena memang area itu hanya ada sepuluh villa saja yang dibangun.
__ADS_1
Hanya ada seorang kakek yang melakukan gerakan tai chi ringan di pinggir danau. Lalu tiba-tiba kakek itu jatuh pingsan.
"Eh?" Lin Chen yang kaget buru-buru berlari dan memeriksa si kakek.