
"Wanting, kamu dimana?"
"Aku? aku sudah di klinik. Sudah, aku sedang sibuk, kamu urus saja urusanmu sendiri."
"Apalagi yang dilakukan gadis itu? bukankah tadi sebelum berpisah sudah kukatakan akan meneleponnya jika salepnya sudah siap?" ucap Lin Chen dalam hati.
Tadi Lin Chen mengantar Song Wanting ke apartemen nya sebelum membeli bahan herbal, namun sekarang Song Wanting sudah di klinik lagi. Lin Chen tidak tau apa yang dipikirkan gadis itu.
Lin Chen tiba di klinik ketika hari sudah gelap, Ia harus pergi ke beberapa pemasok lagi untuk melengkapi bahan herbal.
"Wanting... ini?"
"Sudahlah, mandi dulu sana baru makan."
Lin Chen masuk saat Song Wanting membereskan meja makan, di atas meja sudah tertata banyak makanan.
Sesaat kemudian, Lin Chen dmdan Song Wanting telah selesai makan. Semua peralatan makan sudah dibereskan dan waktu juga menunjukkan pukul sebelas malam. Ini sudah cukup larut.
"Kenapa kamu terus melihatku?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya apakah kamu melupakan sesuatu?"
Song Wanting berpikir sebentar lalu menggeleng. Maksud Lin Chen adalah kenapa dia belum mau pulang juga, ini sudah malam namun rasanya tidak sopan kalau menanyakan langsung.
"Aduh tidak terasa, ternyata sudah jam sebelas lewat." seru Lin Chen tiba-tiba.
"Apa! wah sudah cukup larut ternyata, saatnya tidur kalau begitu. Selamat malam Chen." kata Song Wanting Dia juga sudah terbiasa memanggil Lin Chen langsung dengan namanya.
"Ya, hati-hati semoga tidurmu menyenangkan." Lin Chen membalas Song Wanting, normal. Tapi kemudian keningnya berkedut melihatnya berjalan ke dalam bukannya keluar klinik.
"Wanting, apa kamu tidak salah jalan?"
"Tidak, aku berjalan ke kamarku sendiri." sahut Song Wanting tanpa menoleh.
__ADS_1
"Kenapa? kamu keberatan? atau kamu mau melihat kamarku? sini."
Lin Chen merasa merasa penasaran, itu terjadi begitu saja. Ia berjalan dan ikut masuk ke dalam kamar.
Seketika Ia membeku, tak tau harus berkata apalagi. Ruangan itu telah berubah, ranjang kecil yang biasa ada di sana sudah tidak ada, sebagai gantinya terlihat tempat tidur yang baru yang tentunya lebih bagus. Ada juga meja rias kecil yang lengkap dengan peralatan makeup yang berjejer di sana.
"Aku memutuskan untuk tinggal di sini. Kamu pasti tidak keberatan kan? oh ya aku lihat ada kamar lain yang juga ada tempat tidur bagus, aku tau diri dan membeli semua kebutuhanku. Sudah sana aku mau tidur."
Song Wanting berbicara tanpa jeda. Lin Chen bukan tidak suka atau melarang tapi dia adalah seorang pria, membayangkan ada seorang gadis cantik yang tidur seatap dengannya benar-benar membuatnya pusing.
Ini mengingatkan nya kepada Lu Jiayi yang juga pernah tinggal di sana.
"Ya sudah istirahat lah."
Lin Chen pasrah, kemudian pergi dibawah tatapan penuh kemenangan Song Wanting.
"Kenapa klinik ini terasa sangat berbeda? udara di sini terasa lebih padat dibanding tempat lain. Aku yakin ada sesuatu di sini, Mungkin aku bisa membawa ayah kesini."
Udara di klinik memang berbeda berkat kertas mantra yang Lin Chen pasang di sana sehingga orang-orang yang datang sangat senang tinggal di sana dan inilah yang Lin Chen tidak sadari.
...
Dua hari lagi berlalu, Song Wanting tetap tinggal di klinik, Tong Di juga telah datang kembali setelah memulihkan diri di desanya.
Pagi itu, Lin Chen mendapat telepon dari si pemasok. Ia mengabarkan kalau orang-orang yang membeli bahan herbal itu datang lagi. Lalu tak berapa lama kemudian, Lin Chen keluar setelah menitip pesan kepada Tong Dji untuk tidak menunggunya.
"Oh ya kalau nona Song datang, katakan saja aku pergi keluar sebentar."
"Baik tuan." sahut Tong Dji.
Dalam perjalanan menuju ke pemasok herbal, Lin Chen mendapat telepon kalau orang-orang itu telah pergi menggunakan sebuah mobil pickup.
Lin Chen tidak mau melepas orang-orang itu, mereka telah memukuli Tong Dji dan mengambil semua bahan herbalnya dan Lin Chen harus mengambil kembali semuanya.
__ADS_1
Kalau itu dulu, Lin Chen mungkin akan merelakannya tapi itu dulu, sekarang tentu saja lain lagi, dia telah memiliki kekuatan yang bisa diandalkannya. Kalau Ia tidak bisa melindungi haknya maka percuma saja Ia memiliki semua keunggulan itu.
Mobil pickup hitam itu memasuki sebuah gudang terbengkalai, Lin Chen berhenti agak jauh dari sana dan melanjutkan dengan berjalan kaki.
Dari pantauan Lin Chen, di dalam pabrik, selain dua orang yang menaiki mobil pickup hitam, di dalam juga ada empat orang lagi. Dua di antaranya terlihat seperti pengawal dan dua lagi sibuk memilah bahan herbal.
"Hei siapa kamu! apa kamu tau ini wilayah pribadi?"
Salah satu penjaga membentak Lin Chen yang masuk ke pabrik setelah memastikan tak ada yang lain lagi selain mereka berenam.
Supir pickup hitam mendekati pria yang membentak Lin Chen, lalu Ia mengangguk dan kembali berkata, "Oh rupanya kamu yang mengikuti mobil. Katakan apa maumu?"
"Beberapa hari yang lalu, orang ku membeli bahan herbal di pemasok Lambing (nama pemasok tempat Lin Chen biasa membeli bahan herbal) aku hanya ingin bertanya apa kalian yang memukul orangku dan mengambil barangku?"
"Huahahaha aku memukul orang sepanjang hidupku, mungkin saja aku juga yang memukul orangmu. Kenapa? apa kamu juga mau dipukul hah?"
Lin Chen juga tidak segan lagi, tadinya Ia hanya ingin bersopan sedikit. "Aku hanya ingin barang ku kembali."
"Anak muda, kamu salah tempat dan asal kamu tau bukan aku yang mengambil barangmu tapi orangmu lah yang mengambil barangku."
Pria itu tak sabar, Ia mengayunkan tangannya. memberi perintah kepada dua orang yang membawa pickup hitam untuk menghajar Lin Chen. "Patahkan saja kakinya." ucapnya tak acuh lalu kembali memilah bahan herbal.
Bugh...
krekk...
Pihak lain ingin mematahkan kakinya, Lin Chen pun tak akan berbuat hal yang sama. Mentalnya sudah bukan Lin Chen yang dulu, sekarang Ia tidak gampang di provokasi lagi.
Dua orang yang menyerang nya terlempar dengan kaki patah, jatuh di depan pria yang yang memilah bahan herbal.
"Kurang ajar! hajar dia." pria itu meraung keras, baru kali ini ada yang beranj menghinanya.
Sayangnya tiga orang yang mengepung Lin Chen juga terlempar dengan kaki yang juga patah. Pria itu sampai terlolong, tidak menyangka Lin Chen tenyata kuat.
__ADS_1
"Baiklah, aku terlalu meremehkanmu."
Dia bangkit lalu menyerang Lin Chen dengan tinjunya, sementara Lin Chen juga maju, membalas tinju dengan tinju.